Aprilia Kristiawan dan Usahanya Membingkai Kenangan Para Pelanggan

Usaha yang digeluti Aprilia Kristiawan menjadi salah satu studio foto andalan warga Bandung dan masyarakat Indonesia secara umum.
, Majalah Kartini | 09/12/2016 - 11:00


MajalahKartini.co.id – Aprilia Kristiawan, sosok perempuan yang energik dan sederhana menyambut rombongan Google Indonesia bersama sejumlah media nasional dan lokal Bandung saat mengunjungi tempat di Jalan Bengawan no. 29 Bandung, Rabu (7/12). Papyrus Photo, adalah usaha pertama yang didirikan oleh perempuan berdara Medan ini sejak ia masih di bangku kuliah. Berawal dari ketertarikan pada dunia fotografi yang ia tekuni sejak 1999, Aprilia yang akrab dipanggil April memutuskan untuk membuat sebuah studio foto untuk menjaga loyalitas pelanggannya, Papyrus pada tahun 2002.

Merangkak dari sekedar mengambil proyek untuk pemotretan pernikahan, kantor yang berlokasi di sebuah ruko kecil, hingga saat ini berkembang dengan inovasi-inovasi digitalnya, Papyrus Photo menjadi salah satu studio foto andalan warga Bandung secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum. “Saya mulai dagang sudah lama sejak saya kuliah, mulai fotografer jaman rol-rolan dulu, kayak iklan di media cetak yang satu rol Rp25 ribu naik kelas satu rol Rp55 ribu kemudian naik jadi Rp75 ribu buat beresin kuliah sih sebenernya,” ujar April di sela-sela kunjungan.

Kemudian setelah lulus ia bersama mantan kekasihnya yang kini jadi suaminya, dan seorang teman membuat Papyrus Photo. bagi Aprilia Papyrus adalah bahan dasar kertas, dan kertas adalah media untuk menuangkan ide. “Saya suka nulis, apapun yang kita pikirkan apapun yang ingin kita tulis gambar itu semua memanfaatkan kertas di jaman dulu dan Papyrus ini menjadi wadah untuk menuangkan kreativitas. Jadi tahun 2002, lulus kuliah saya mulai bikin brand ini bersama beberapa temen,” jelas April.

Tapi, karena memang ingin merasakan bekerja di perusahaan lain, ia mencoba melamar di beberapa perusahaan hingga ia mendapat pekerjaan sebagai kontributor berita di Bandung. Lantas ia merangkap sebagai juru potret di saat yang sama ia juga menjalankan tugasnya sebagai jurnalistik.

“Setelah menjalani dua profesi selama tiga tahun saya mulai melihat bahwa kalau saya terus seperti ini maka ada waktu dimana tenaga saya akan habis sementara saya akan membangun keluarga, dengan kerja di media itu sulit untuk bisa membangun keluarga karena memang pertama hobi saya seneng banget kerja di media, yang kedua, memang tuntutan kerjanya juga tidak mungkin saya untuk bisa menjalani dua profesi yang berbeda itu sebagai pekerja media dan sebagai ibu rumah tangga hingga akhirnya saya stop di media,” tuturnya.

Sebagai pemain baru di bisnis fotografi di Bandung pada saat itu, tentunya brand awareness menjadi hambatan terbesar perempuan kelahiran Medan, April 1979 ini dalam membangun bisnisnya. Hingga ia menyadari bahwa ia harus melakukan sebuah perubahan besar dimana para kompetitor belum melakukannya. Kemudian pada tahun 2005 April memutuskan untuk menjadikan Papyrus bisnis retail dan berupaya membuat website jauh lebih baik dari sebelumnya.

Hingga pada tahun 2008, April memutuskan untuk fokus mengembangkan bisnisnya ke ranah online. “Akhirnya saya dan calon suami saya sepakat saya stop kerja kita mulai kembangkan lagi Papyrus Photo. 2005 kita buat ritel, setelah tiga tahun disitu titik balik kita pengen kembali kerja karena tiga tahun itu berat sekali, sepi, seperti tidak menghasilkan dan tantangan terlalu berat karena saat itu usia kita masih sangat muda,” ujarnya.

“Jadi, di 2007 kami mulai masuk mencoba untuk menggali studio foto itu dari konsep digitalnya. Jadi pada saat kita mulai kita masuk bikin website supaya kalau kita mau menawarkan ke orang lain tidak lagi membawa setumpuk album, tapi cukup dengan membawa laptop, kita menunjukkan ini lho Papyrus dan seperti ini sampelnya,” kata April.

Ia mengakui dengan mengikuti perkembangan digital dari waktu ke waktu, sangat membantu April dalam mengembangkan Papyrus. Dari mulai memudahkan pengiriman foto, pemilihan desain foto oleh pelanggan, dan terlebih bagaimana khalayak umum dapat lebih mudah menemukan berbagai informasi tentang Papyrus.

Setelah mengembangkan bisnisnya di ranah online, pendapatan dan traffic yang didapat Papyrus jauh lebih baik. Lebih jauh, ia mengakui bahwa pada dasarnya setiap startup saat ini sangat bergantung pada perkembangan digital. “Sebenarnya saya tidak begitu paham teknologi, tapi saya juga harus belajar dan mulai mengerti karena sekarang serba digital, orang bebas menentukan pilihannya dengan jari,” imbuhnya.

Dalam waktu dekat, April akan segera meliris aplikasi Papyrus yang akan semakin memudahkan pelanggan untuk memilih paket, melakukan reservasi, bahkan mendapatkan berbagai hasil foto digital secara cepat, aman, dan tidak memakan memori untuk menyimpan foto-foto tersebut di ponsel pintar masing-masing. (Foto : Andim)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: