Amelia Anggraini: Keberanian untuk Perjuangan Perempuan

Konsisten menjalani pilihan sebagai politisi wanita dengan segenap pencapaian, karakternya tegas dan serba cepat terlihat dari tiap unggah-ungguh dan langkahnya.
, Majalah Kartini | 02/08/2018 - 15:50

MajalahKartini.co.id – Lahir di Bengkulu, 29 Agustus 1971, Amel kini menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019 dari Fraksi Partai NasDem. Selain jabatan tersebut, ia juga merupakan deklarator dan pengurus pusat organisasi Garda Wanita (Garnita) Malahayati NasDem sekaligus Bendahara Umum Gerakan Massa Buruh (GEMURUH) NasDem.

Perjalanannya menuju posisi seperti sekarang terbilang panjang. Sebelumnya, Amel lebih dulu memiliki track-record yang tajam di bidang perhotelan. Mengawali karier sebagai Sales Excecutive, Amel berhasil sampai ke kursi Assistant Director. Tidak heran, sebab sejak remaja, Amel telah akrab dengan kegiatan organisasi yang membuat dirinya lebih luwes dalam berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain.

Amel mengakui bahwa ia punya concern yang besar terhadap perempuan. Tak ayal, ia ditunjuk menjadi Ketua Bidang Kesehatan Perempuan dan Anak Partai NasDem. Selama bergabung dengan Partai NasDem, Amel telah membuktikan bahwa perempuan mampu memiliki peran penting dalam membuat perubahan.

Kegiatan-kegiatan Garnita Malahayati NasDem dirancang untuk menyejahterakan serta melindungi kaum perempuan dan anak-anak. Kegiatan-kegiatan seperti kampanye mengenai pencegahan kanker serviks serta penyuluhan penggunaan kontrasepsi yang aman menjadi pilihan karena pengaruhnya yang besar pada kehidupan kaum perempuan. Selain itu, gerakan sosial untuk anak juga menjadi agendanya bersama Garnita. Salah satu kegiatan yang telah terlaksana adalah “Bincang Publik Perlindungan Anak” yang dihelat Maret lalu.

Dari sana, perjuangannya kini kian banyak berat untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak Indonesia. Hingga kini, lewat kiprahnya di DPR dan NasDem, Amel terus berusaha agar upaya perlindungan terhadap anak menjadi fokus nasional. Lewat tangannya dan juga kerja keras para kader, Partai NasDem teguh menginisiasi Gerakan Nasional Perlindungan Anak. Ia yakin bahwa suara perempuan dapat membuat perbedaan.

Meskipun menjadi politisi perempuan bukanlah hal mudah, Amel tidak mau menyerah begitu saja. Ia meyakini bahwa segala sesuatu bisa dipelajari. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki potensi yang sama untuk berkontribusi pada masyarakat dan negeri tercinta. Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang tabu bagi kaum hawa. Buatnya, politik adalah kendaraan yang bisa membawanya untuk menolong banyak orang.

Perjuangannya bukan hanya di dalam negeri, namun juga merambah ke mancanegara. Tidak hanya soal kesejahteraan perempuan, Amel juga menaruh kepedulian terhadap penegakkan Hak Asasi Manusia (HAM). Tahun lalu, ia bersama delegasi Indonesia yang lainnya turut serta menghadiri Saat menghadiri 137th Inter-Parliamentary Union (IPU) Assembly di St. Petersburg, Rusia. Dalam forum internasional tersebut, ia menyuarakan soal dukungan Indonesia pada kelompok-kelompok yang terkena diskriminasi dan kejahatan kemanusiaan seperti etnis Rohingya.

Menjadi perempuan yang punya peran multidimensional, Amel berusaha tetap fokus. Sebagai seorang ibu, istri, sekaligus pimpinan, ia dituntut untuk mampu menyesuaikan diri, tanpa meninggalkan kodrat dan tanggung jawabnya pada keluarga. Di tengah-tengah perjuangannya yang masih panjang, berikut adalah kisah yang ia bagi pada KARTINI.

Apa kesibukan utama Anda akhir-akhir ini?

Kesibukan saya akhir-akhir ini tentunya memenuhi tugas sebagai anggota dewan. Seperti biasa, saya menghadiri rapat-rapat dengan mitra kerja, melakukan kunjungan ke daerah pemilihan (dapil) hampir tiap weekend, dan menjadi anggota Badan Kerjasama Antar Parlemen. Saya juga seringkali menghadiri pertemuan-pertemuan internasional. Baru-baru ini juga terjadi bencana alam di Banjarnegara dan saya juga turut sibuk mengurusi hal tersebut.

Sulitkah menjadi politisi sekaligus isteri dan ibu dari anak-anak?

Menurut saya hal itu tidaklah sulit. Teknologi komunikasi sekarang luar biasa canggih. Biasanya saya manfaatkan itu untuk komunikasi dengan anak-anak. Membangun komunikasi itu hal yang fundamental buat saya. Keempat anak saya pun sudah besar semuanya. Dua (anak) sudah bekerja, dua lagi masih kuliah. Namun, mereka tetap butuh seorang ibu. Maka dari itu, sebisa mungkin saya akan tetap awasi mereka dengan jalur komunikasi.

Apakah Ibu mengharapkan anak-anak jadi politisi juga?

Tidak juga. Namun, saya selalu mengajarkan mereka untuk learning by doing. Sekarang ini, kesempatan mereka untuk mendapat pekerjaan semakin sempit karena lulusan sarjana makin banyak dan kompetisi semakin ketat. Mereka (anak-anak) harus punya nilai lebih. Saya membebaskan mereka mau jadi apa. Tapi, karena mereka tumbuh di keluarga politisi, jadi banyak yang tertarik dengan hukum dan politik. Dua anak saya mengambil jurusan hukum, yang paling kecil sedang mengambil jurusan kebijakan publik. Saya selalu tekankan pada mereka, mumpung orang tuanya masih mampu, capai pendidikan setinggi-tingginya. Saya ingin anak saya jadi generasi yang sebaik-baiknya.

Menurut Ibu, menjadi politisi wanita itu tantangannya apa? Apakah masih ada diskriminasi terhadap perempuan di dunia politik?

Untuk saat ini, rasa-rasanya kita sudah tidak perlu lagi bicara soal kesetaraan gender ataupun diskriminasi perempuan. Menurut saya, hal itu sudah lewat. Sekarang ini kesempatan untuk perempuan untuk maju dan berkembang di semua lini terbuka luas. Jika kita memutuskan untuk jadi politisi perempuan, kita buktikan bahwa kita juga bisa memperjuangkan sesuatu untuk masyarakat, berprestasi, utamanya untuk memberdayakan kaum perempuan.

Sebagai politisi, hal apa yang ingin Ibu wujudkan, terutama untuk perempuan?

Banyak sekali impian saya, salah satunya untuk meng-encourage perempuan di luar sana, mendorong mereka untuk berkecimpung di dunia politik. Politik itu sesungguhnya karier yang menjanjikan bagi perempuan. Kita bisa bersuara dan memperjuangkan kepentingan perempuan dalam bentuk lebih riil, misalnya lewat undang-undang dan kebijakan untuk perempuan. Sekarang pemerintah juga telah mencanangkan 30% kuota perempuan dalam pencalegan. Tinggal kita tunjukkan kalau kita berprestasi dan punya kapasitas. Harapan saya adalah langkah saya ini bisa jadi inspiring factor bagi perempuan untuk terjun ke dunia politik. Saya ingin kursi perempuan di parlemen lebih banyak lagi.

Lalu, mengapa perempuan cenderung menghindari politik?

Semua itu karena paradigma terhadap politik yang masih ada. Politik biasanya dianggap sebagai sesuatu yang keras, bikin capek, gaduh. Padahal tidak juga. Politik itu mengasyikkan kok. Banyak politisi perempuan yang sukses di Senayan. Hanya saja pencapaian mereka tidak begitu disorot.

Bagaimana caranya seorang perempuan bisa menjadi a good leader? Ada hal khusus yang harus dimiliki?

Pertama-tama, harus dipahami bahwa to be a good leader itu tidak instan. Kita harus banyak belajar dan punya pengalaman cukup. Bekali diri dengan pengalaman organisasi, pengetahuan, dan networking. Ketiga hal itu adalah dasar untuk menajdi seorang leader. Intinya, fokuslah pengembangan kapasitas diri. Kita beruntung jika hidup di kota besar, akses pendidikan dan kesehatan bagus. Namun, untuk wanita yang hidup di rural area, semuanya butuh usaha lebih. Makanya, kita perjuangkan pengembangan pendidikan dan kesehatan utamanya untuk memajukan kaum perempuan juga.

Dari Ibu sendiri, adakah pesan untuk pembaca Kartini agar dapat menjadi perempuan yang lebih berguna?

Bagi saya, setinggi-tingginya perempuan tidak boleh lari dari kodratnya. Yang terpenting, jangan takut untuk mencoba. Harus terus belajar, dan buktikan kemampuan kita dengan prestasi. Jadilah perempuan yang berkualitas. Teruslah maju dan jangan pernah berhenti bermimpi, karena mimpi awal dari semuanya. Setelah itu tinggal bagaimana kita memikirkan langkah kita selanjutnya. (*)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: