“E-Motion”, Gambaran Style Perempuan Urban Masa Kini

Inspirasi Ali Charisma berangkat dari perempuan urban masa kini yang tak jarang lupa akan hal-hal kecil yang bersifat feminin.
, Majalah Kartini | 30/10/2017 - 20:02

MajalahKartini.co.id – Sebagai satu dari tidak banyak institusi pendidikan di Indonesia yang berkelas internasional dan fokus pada industri fashion, Istituto di Moda Burgo Indonesia kembali berpartisipasi dalam perhelatan Jakarta Fashion Week 2018. Yang istimewa tahun ini adalah Istituto di Moda Burgo Indonesia menggandeng desainer kenamaan Indonesia, Ali Charisma, guna memberikan mentorship atau pembekalan khusus selama empat bulan bagi enamsiswa-siswi terbaiknya -akrab disebut sebagai Burgonians- yang akan mempresentasikan koleksi terbarunya pada hari terakhir Jakarta Fashion Week 2018, Jumat 27 Oktober 2017.

Ali Charisma selaku pendiri dan ketua Indonesian Fashion Chamber adalah sosok tepat yang dipercaya untuk membagikan visi, misi dan pengalamannya selama lebih dari 15 tahun di industri retail dalam maupun luar negeri. Sang mentor Ali Charisma membuka fashion show dengan koleksi busana wanita bertajuk “E-Motion”.

Inspirasi Ali Charisma berangkat dari perempuan urban masa kini yang tak jarang lupa akan hal-hal kecil yang bersifat feminin, sehingga beliau menawarkan busana yang bersifat menyeimbangkan teknologi dan feminitas: memadankan tulle dan lace bersama material kulit. Busana-busana berpotongan A dan H ditampilkan dalam warna dusty pink, biru, abu-abu dan ungu. Label RAEGITAZORO mengangkat budaya Sisingaan melalui koleksi “Re-belliouZ”, dimana desainer Raegita Zoro menceritakan simbol perjuangan masyarakat Sunda (terutama Subang) terhadap penguasa perkebunan jaman Inggris dan Belanda, melalui koleksi sporty dengan detail-detail bernafaskan punk seperti rantai dan spike studs.

Sequence ketiga diisi oleh kolaborasi antara dua Burgonians; Eleska Paradis melalui label PADI dan label tas tangan berbahan material eksotis, KYRA. Tajuk “Not so Gamine” dari PADI adalah oposisi dari konsep “gamine” yang cenderung androgynous: Eleska Paradis menggunakan warna-warna vibrant dan aplikasi tekstur kawung pada rangkaian busana berkekuatan struktural. Sedangkan KYRA menawarkan koleksi tas tangan multifungsi yang terinspirasi dari kemewahan wanita aristokrat era Renaissance, berbahan kulit eksotis dengan berbagai teknik pewarnaan khusus sehingga tercipta gradasi warna agar terkesan multidimensional.

Label demi-couture JWH melanjutkan parade busana dengan koleksi “The Empress”. Melalui visi sang desainer Jessica Welia Halim, imaji akan sosok Ratu Victoria yang terkenal kuat dan berani pada masa pemerintahannya ditampilkan mengenakan kain songket Palembang. Kesan misterius namun elegan tertuang dalam detail keemasan yang melengkapi rangkaian gaun malam berpalet gelap.
Untuk koleksi perdananya “Rajah”, desainer Rilya Krisnawati melalui label perhiasan “JUMPANONA” membawa budaya Dayaq dari Malinau, Kalimantan ke atas panggung Jakarta Fashion Week 2018. Rajah atau seni tato Dayaq diintepretasikan dalam eksplorasi bentuk dan tekstur logam kuningan bersenyawa etnik namun tidak terkesan tua.

Julianto akan menutup rangkaian acara dengan koleksi “Embrace” yang terinspirasi dari kelembutan nan misterius pegunungan Bromo. Aneka busana pesta hingga gaun malam beraksen payet yang teksturnya menyerupai struktur kabut hingga retakan gunung digagaskan melalui penggunaan kain ringan dengan palet warna-warna pastel. Dengan bangga Istituto di Moda Burgo Indonesia menjadi institusi fashion pertama di Indonesia yang tidak hanya membawa desainer busana siap pakai; tetapi juga perhiasan, tas tangan hingga sepatu selama 10 tahun eksistensi Jakarta Fashion Week di Indonesia. (Foto: Doc Pribadi)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: