Perubahan Mood Drastis, Bisa Jadi Gangguan Bipolar

Penyakit GB, kata dia merupakan penyakit yang bersifat kronik, serius dan sering berpotensi bunuh diri.
, Majalah Kartini | 01/04/2017 - 15:00
Dr. AAA Agung Kusumawardhani_crop_640x357
MajalahKartini.co.id – Dr. AAA Agung Kusumawardhani, SpKJ (K), psikiater sekaligus Kepala Departemen Psikiatri RSCM menerangkan, gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan yang ditandai oleh adanya periode perpindahan mood, pikiran, energi, dan perilaku. Pasien mengalami perubahan (swing) mood yang dramatis, dari mood yang meningkat atau iritabel (manik/hipomanik), menjadi mood yang sangat menurun (depresi).
Di antara episode perubahan mood tersebut dapat terjadi periode mood yang normal. Selama periode mood eutimik (normal), terdapat risiko terjadi kekambuhan menjadi mania atau depresi, hipomania atau campuran,” kata dr. Agung dalam seminar media Gangguan Bipolar Vs Gaya Hidup Modern di Jakarta, Kamis (30/3) oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI Jaya).
Lebih lanjut ia menjelaskan, GB memliki beragam jenis, seperti GB I, GB II, GB Campuran, Gangguan Siklotimik, GB akibat Kondisi Medik Umum, GB yang diinduksi Zat. Prevalensi penderita GB di Indonesia bervariasi, antara 1-4% populasi.
“Risiko untuk laki-laki dan perempuan tergantung pada tipe gangguannya. Pada GB tipe I, perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1:1 sedangkan pada GB tipe II letak perbangingan lebih besar di bagian perempuan, yaitu 1:2. Berdasarkan usia, gejala pertama kali di temukan pada usia remaja – dewasa yaitu 15-25 tahun,” lanjut dr. Agung.
Penyakit GB, kata dia merupakan penyakit yang bersifat kronik, serius dan sering berpotensi fatal (bunuh diri), namun dengan adanya diagnosis yang tepat serta terapi yang berkelanjutan, GB dapat dikendalikan. Terlambatnya penegakan diagnosis secara tepat sangat mempengaruhi prognosis di kemudian hari. Paling sering salah diagnosis sebagai depresi, ansietas, skizofrenia, penyalahgunaan zat atau gangguan kepribadian. Mis-diagnosis sebagai depresi unipolar terjadi pada 37% kasus.
“Salah satu cara untuk menjaring kasus lebih tepat dapat melakukan skrinning
menggunakan Mood Disorder Questionnaire (MDQ). Selain itu pentingnya kepatuhan pada pengobatan merupakan kunci keberhasilan pengendalian GB disamping adanya edukasi, deteksi dini serta dukungan lingkungan,” ujarnya.
Menurut ia, faktor penyebab Gangguan Bipolarpun masih sulit ditemukan secara pasti. Masih bersifat dugaan bahwa GB di sebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor genetik (multigenetik), biologik dan psikososial. Penurunan secara genetik sangat kompleks, tetapi penelitian keluarga menemukan risiko meningkat pada hubungan kekerabatan. Individu yang mempunyai kerentanan genetik, bila ada stresor lingkungan terdapat kecenderungan memunculkan gejala (stres-diathesis theory).
Beberapa penyebab yang bisa berperan antara lain adanya abnormalitas pada neuro-anatomi (struktur dan fungsi), neurokimia (disregulasi berbagai neurotransmiter), neurohormon dan neuroimun, pola tidur dan irama sirkadian, genetik dan stresor kejadian kehidupan. Semua menunjukkan bahwa GB adalah ‘brain-disorder’.
“Disisi lain, faktor risiko utama adalah kerentanan genetik, kepribadian, dan stresor lingkungan/kehidupan yang dapat mencetuskan gangguan. Selain itu adanya cara praktis untuk mengidentifikasi apakah seseorang berpotensi mengalami GB adalah dengan mengetahui kebiasaan seseorang yang secara klinis mengalami depresi, tetapi dalam riwayatnya ditemukan tiga atau lebih hal-hal seperti tiga atau lebih episode depresi berat, kondisi depresi tidak membaik walau telah diterapi dengan tiga jenis antidepresan, Gagal dalam perkawinan tiga kali atau lebih, menjalani tiga profesi atau pekerjaan sekaligus, menyalahgunakan 3 macam zat, berperilaku impulsif (judi, ngebut, sex, dan lain-lain), memiliki pacar tiga atau lebih secara simultan,” terangnya.(Foto : dok. PDSKJI Jaya)

Tags: , , , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: