Teknologi Baru Penyelamat Kanker Paru

Mutase ini akan membantu pasien untuk menjadi resisten terhadapn pengobatan EGFR-TKI pertama dan kedua.
, Majalah Kartini | 07/02/2018 - 14:09


MajalahKartini.co.id – Dengan mempertimbangkan perkembangan manajemen kanker paru sejak 2016, PT AstraZeneca Indonesia telah bekerja sama dengan perusahaan diagnostik (Qiagen) untuk mengembangkan sejumlah lab EGFR di Indonesia. Pada 2017, AstraZeneca Indonesia juga bermitra dengan perusahaan diagnostik lainnya, Bio-Rad, untuk menyediakan teknologi paling sensitive dalam mendeteksi mutase T790M bagi Indonesia (digitak PCSR) dan bermitra dengan Prodia Lab untuk pemeriksaan; mutase ini akan membantu pasien untuk menjadi resisten terhadapn pengobatan EGFR-TKI pertama dan kedua.

Menanggapi hal itu, Andi Marsali, Medical Director PT AstraZeneca Indonesia, menuturkan sejak 2014, AstraZeneca terus mendukung penyediaan 2.000 – 3.000 tes diagnostik EFGR secara gratis, baik bagi pasien pribadi maupun BPJS setiap tahunnya. “Dimana mulai 2018 kami akan memanfaatkan dukungan bagi tes diagnostik untuk T790M dan menyediakan tes ct-DNA inovatif guna melengkapi tes biopsi. Kami juga bekerja sama dengan asosiasi medis untuk meningkatkan kapabilitas diagnosis bagi ahli patologi anatomi dan pulmonologi,” jelas Andi pada media workshop Kanker Paru di Jakarta, Selasa (6/2).

Menambahkan dari sisi medis, dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K) perwakilan dari PDPI dan RSUP Persahabatan, sekarang ini perkembangan medis sedang dalam era personalized medicine, terapi yang diberikan ke pasien harus sesuai dengan targetnya (targeted therapy). Personalized medicine dan targeted therapy memerlukan biomarker untuk menentukan pasien yang tepat bagi terapi tersebut. Biomarker EGFR (epidermal growth factor receptor) digunakan untuk mengidentifikasi pasien kanker paru, khususnya jenis adenokarsinoma bukan sel kecil, dimana di populasi Asia angka kejadian mutasi EGFR ini sebesar 40-60 persen.

“Meskipun kanker paru merupakan salah satu momok permasalahan di Indonesia, pasien dengan kanker paru masih memiliki peluang terhadap pengobatan sehingga meningkatkan kualitas hidup. Penatalaksanaan kanker paru disesuaikan dengan stadium kanker/kondisi pasien, antara lain seperti operasi bedah, radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, dan terapi yang ditargetkan (targeted therapy),” ujar dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K) yang juga merupakan Staff Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK Universitas Indonesia.

Pasien Kanker paru yang sudah menjalani terapi lini pertama dengan EGFR TKI generasi 1 dan 2, biasanya pada 8 sampai dengan 14 bulan akan mengalami perburukan5. Dan 2 dari 3 pasien yang mengalami perburukan tersebut akan mendapatkan mutasi sekunder yaitu T790M6. Di Indonesia, sebelumnya terapi untuk kanker paru dengan mutase T790M itu tidak ada, namun saat ini terapi untuk mutasi T790M yakni generasi ketiga Epidermal Growth Factor Receptor – Tirosine Kinase Inhibitor (TKI) telah disetujui oleh BPOM, suatu pengobatan yang menargetkan terapi pengobatan kanker untuk Non-Small Cell Lung Cancer dengan mutasi T790M pada pasien. Oleh karenanya pengobatan ini dapat menjadi harapan baru bagi para pasien.

Sebagai penggiat yang juga merupakan ketua umum Cancer Information Support Center (CISC), Aryanti Baramuli menyatakan salah satu hal yang paling dibutuhkan oleh para pasien kanker adalah dukungan dari lingkungan sekitarnya. Situasi seperti ini bisa mempengaruhi tingkat motivasi para penderita kanker untuk melakukan proses pemulihan. “Sehingga menurut kami, upaya bersama oleh seluruh pihak sangat dibutuhkan menuju penanggulangan kanker yang efektif dalam membantu pasien kanker paru di Indonesia dalam meningkatkan harapan dan semangat untuk terus menjalani hidup bersama kanker,” terangnya.

Sebagai mitra Kemenkes RI, AstraZeneca Indonesia bersama asosiasi tenaga kesehatan, organisasi pasien dan LSM telah meluncurkan program “Healthy Lung” tahun lalu untuk memastikan pasien penyakit paru mendapatkan akses terapi yang dibutuhkan. Selain itu, pihaknya meluncurkan Lvngwithindonesia.com, sebuah situs yang memuat informasi terbaru tentang penyakit kanker paru bagi para pasien, keluarga dan kerabat terdekat. “Kami berharap upaya-upaya tersebut dapat membantu bagi pasien, dengan aspirasi memperbaiki pengobatan pasien kanker paru di Indonesia,” ungkap Rizman Abudaeri.

Telah lebih dulu diperkenalkan kepada para pasien sejak November 2017, Lvngwithindonesia.com dapat menjadi sumber informasi bagi para pasien, pengasuh, di mana situs ini didominasi oleh cerita pribadi dari para penderita kanker paru, sehingga mereka dapat saling memotivasi dan menginspirasi satu sama lain. Dengan mengusung tema “Untuk Saling Berkomunikasi dan Terhubung”, Lvngwithindonesia.com juga bertujuan untuk mendorong kerabat, keluarga, serta para keluarga atau kerabat terdekat penderita kanker paru agar mereka dapat menjadi sistem pendukung bagi komunitasnya. (Foto: Andim)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: