RSJ Prof Dr. Soerojo Jadi Pusat Rujukan Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja

Pelayanan unggulan yang dimiliki RSJS Magelang ini tentunya sangat sejalan dengan program Kota Layak Anak.
, Majalah Kartini | 03/01/2018 - 16:07

MajalahKartini.co.id – Ketua Tim Nasional Kota Layak Anak Choirul Muna mengunjungi Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Prof Dr. Soerojo Magelang, Jumat (29/12) didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP4KB) Wulandari Wahyuningsih. Media rombongan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) diajak berkeliling dan melihat fasilitas-fasilitas yang dimiliki kota Magelang. Magelang sendiri dinobatkan sebagai Kota Layak Anak kategori Nindya pada 2016.

RSJS Magelang merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Kementerian Kesehatan sebagai pusat rujukan nasional di bidang kesehatan jiwa dengan unggulan pelayanan kesehatan jiwa anak dan remaja. Pelayanan unggulan yang dimiliki RSJS Magelang ini tentunya sangat sejalan dengan program Kota Layak Anak yang dicanangkan pemerintah.

RS Jiwa ini meraih akreditasi bintang lima atau sempurna, yang juga terakreditasi secara internasional. RS ini menjadi pusat rujukan nasional di bidang kesehatan jiwa. Keunggulannya terletak pada layanan kesehatan jiwa pada anak dan remaja. Layanan kesehatan yang lengkap dan integrasi. Dilengkapi dengan sarana bermain anak bagi anak keluarga pasien yang tengah berkunjung ke sana.

Konsultan Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJS Magelang Prof. Dr. dr. Edith Humris, Sp.KJ.(K) menjelaskan, retardasi mental kasus yang terbanyak dijumpai pada pasien anak dan remaja di RSJS Magelang. Dalam pemaparannya, sebanyak 50 persen anak di Indonesia mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari jumlah tersebut, 25 persen harus mendapatkan perawatan dari tenaga ahli. Masalah kesehatan jiwa yang menonjol pada anak adalah seks bebas dan depresi. Pada kasus tersebut, anak harus mendapatkan penanganan dokter rehabilitasi medik hingga rawat inap.

Dia menuturkan, gangguan mental tertinggi pada kasus degradasi mental. Jumlah prevalensi kasus ini tinggi. ada kasus gangguan mental anak, keluarga kerap datang terlambat. Mereka tidak menyadari akan munculnya gejala-gejala gangguan mental pada anak. “Sebenarnya mudah kita untuk mengetahui gejala gangguan mental anak sejak dini. Gejala-gejala itu misalnya keterlambatan perkembangan, seperti terlambat berjalan atau bicara hingga anak memiliki penampilan yang berbeda seperti anak pada umumnya,” jelasnya.

Sementara itu, Dirut RSJ Prof Dr Soerojo Magelang Endang Widyaswati mengatakan, kasus tertinggi yang dirujuk ke rumah sakit jiwa Prof Dr Soerojo Magelang adalah kasus bullying. Korban rata-rata siswa sekolah menengah pertama (SMP). “Usia mereka sangat rentan, karena mereka usia peralihan.

Dalam sehari kasus yang dirujuk ke rumah sakit sampai 50 kasus,” katanya. Kota Magelang ditetapkan sebagai Kota Layak Anak (KLA) Nasional oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada 2016 untuk kategori Nindya. Ini untuk keempat kalinya Megelang meraih Penghargaan KLA. Pada 2015 Kota Magelang dijadikan inisiator KLA. (Foto : Istimewa)

Tags: , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: