Kesadaran Masyarakat Akan Bahaya Kanker Paru Masih Rendah

Kanker paru-paru merupakan penyebab utama kematian terkait penyakit kanker di seluruh dunia.
, Majalah Kartini | 06/02/2018 - 19:32


MajalahKartini.co.id –¬†Peringati Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada 4 Februari 2018 sebagai hari untuk bersatu melawan kanker, PT AstraZeneca Indonesia (AstraZeneca) melanjutkan komitmennya untuk terus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kanker paru dengan memberikan akses untuk mendeteksi kanker paru dan meningkatkan kapabilitas ahli pulmonologi & patologi di Indonesia. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information Support Center (CISC) sebagai kelanjutan inisiasi program “Healthy Lung”, yang baru-baru ini diluncurkan.

“AstraZeneca memiliki tujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dengan tidak hanya mengimplementasikan sains yang inovatif kepada pasien dengan penemuan obat-obatan baru, namun juga melalui komitmen kami pada keberlanjutan yang menjadi bagian dari DNA kami. Kami memiliki tujuan yang sama dengan para mitra kami, yaitu membangun kemitraan yang kuat guna meningkatkan kemampuan kesehatan,” ujar Rizman Abudaeri, Pimpinan PT Astrazeneca Indonesia di Jakarta, Selasa (6/2).

Kanker paru-paru merupakan penyebab utama kematian terkait penyakit kanker di seluruh dunia. Studi Globocan International Agency for Research on Cancer (IARC) yang terakhir menyebutkan, terdapat 14,1 juta kasus baru kanker dengan jumlah kematian sebesar 8,2 juta. Ditambah lagi, studi dari Globocan (IARC) menemukan bahwa penyakit kanker paru merupakan penyebab kematian utama akibat kanker pada penduduk pria (30 persen) dan penyebab kematian kedua akibat kanker pada penduduk wanita (11,1 persen). Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar 2013, menyebut prevalensi kanker untuk semua kelompok umur di Indonesia 1,4 per mil atau 347.392 orang.

Secara umum, tingkat kesadaran masyarakat Indonesia mengenai penyakit kanker paru masih sangat rendah dan beberapa dari pasien kanker paru mengalami kesalahan diagnosa yang sering divonis menderita TB. Oleh karenanya, banyak pasien dengan kanker paru terlambat terdiagnosa terhadap penyakit mereka. Hal tersebut dapat berkontribusi untuk mendiagnosa stadium lanjut dan kelangsungan hidup jangka panjang yang tidak berkualitas.

Sebuah studi di RS. Moewardi, Surakarta, menunjukkan bahwa 28,7 persen pasien kanker paru mengalami kesalahan diagnosa dengan TB pulmonary dan memiliki sejarah pengobatan anti-TB, di mana 73,4 persen dari pasien tersebut telah menjalani pengobatan ant-TB selama lebih dari 1 bulan, namun hanya 2,5 persen yang terdiagnosis ganda menderita kanker paru dengan TB pulmonary.

Menanggapi hal tersebut, dr. Niken Wastu Palupi, MKM, Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PTM) Kemenkes RI, mengungkapkan “Melihat fenomena keterlambatan diagnosa pasien kanker paru, diperlukan kesadaran masyarakat untuk menyadari gejala sejak dini dan berkonsultasi kepada tenaga medis untuk meningkatkan keberhasilan proses penyembuhan. Ditambah lagi, langkah pengendalian penyakit kanker paru di Indonesia memerlukan adanya sinergi kerjasama yang baik dari seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.

“Beberapa inisiatif pun sudah dilakukan baik dari kami selaku pemerintah maupun pihak swasta tenaga medis dan organisasi pasien. Kami telah melakukan berbagai upaya guna menghambat hal tersebut seperti upaya penyuluhan dan promosi kesehatan serta mensosialisasikan gaya hidup sehat CERDIK (Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin Aktivitas fisik, Diet gizi seimbang Istirahat cukup dan Kelola stress),” tambah Niken. (Foto: Andim)

Tags: , , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: