Kenali Fibrilasi Atrium Lewat Raba Nadi, Hindari Kelumpuhan

Lewat kampanye Fibrilasi Atrium (FA) 2017 di Indonesia, mengajarkan masyarakat untuk mendeteksi penyakit sejak dini.
, Majalah Kartini | 12/10/2017 - 13:07

MajalahKartini.co.id – Gangguan irama jantung atau Fibrilasi Atrium (FA) belum sepenuhnya disadari akibatnya oleh masyarakat. Gangguan tersebut memicu kelumpuhan atau stroke dan penyakit kardiovaskular lain seperti hipertensi, gagal jantung, penyakit jantung koroner, hipertiroid, diabetes mellitus, obesitas, penyakit jantung bawaan, kardiomiopati, penyakit ginjal kronis maupun penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Dengan melakukan salah satu cara mudah mengenali FA yaitu Meraba Nadi Sendiri (MENARI). Kampanye tersebut diselenggarakan oleh Indonesia Heart Rhtyhm Society (InaHRS), Asia Pasific Hearth Rhtym Society (APHRS), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), PERKI cabang Jakarta (PERKI Jaya), Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dan Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI.

“Dalam kampanye FA kali ini, kami memfokuskan pada pemberdayaan masyarakat, artinya masyarakat diajak untuk ikut andil dan mengetahui bagaimana mendeteksi FA dengan cara Meraba Nadi Sendiri. Jika Dilakukan dengan benar dan ternyata ditemukan kelainan, masyarakat dihimbau untuk segera berkonsultasi ke dokter.,” tutur Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, FasCC, Guru Besar Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI pada konferensi pers di RS Harapan Kita, Jakarta Barat, Rabu (11/10).

Yoga menjelaskan, FA terjadi akibat adanya gangguan sinyal listrik pada serambi jantung sehingga menimbulkan getaran tak stabil dan tidak berfungsi dengan baik. Normalnya jantung akan berdetak 60 sampai 85 atau 60 sampai 90 per menit, jika lebih dari itu, kemungkinan terjadi FA sangat tinggi. Stroke atau kelumpuhan pada orang dengan FA meningkat sebanyak 500% atau 5 kali lebih tinggi dibandingkan tanpa FA.

“Gejala penyakit FA dipengaruhi oleh usia dan penyakit lainnya, gejalanya antara lain cepat lelah, irama jantung tak teratur, sesak nafas, berdebar, kesulitan berolahraga, rasa nyeri pada dada, pusing, melayang dan berputar hingga pingsan dan buang air kecil semakin sering,” tutur Yoga.
Sebenarnya ada tiga terapi advanced yang dapat dilakukan bagi pasien FA yaitu, teknik Ablasi kateter, melakukan pemasangan alat LAA Closure dan pemakaian Obat Antikoagulan Oral Baru (OKB). Terapi ini berguna untuk menurunkan risiko serangan stroke pada pasien FA. Sayangnya, jumlah dan distribusi alat medis tersebut tidak merata.

“Ditambah lagi terapi OKB belum masuk ke dalam layanan BPJS kesehatan, padahal terapi OKB merupakan lompatan besar dalam terapi FA. Selain lebih efektif, OKB dapat mengatasi permasalahan risiko pendarahan, rekasi silang antarobat dan lain-lain,” Jelas Yoga.

Diharapkan adanya dukungan semua pihak baik pemerintah dan swasta bersama sama untuk mengatasi FA di Indonesia. Melalui kampanye FA 2017 ini, diharapkan pula bisa mencegah kelumpuhan akibat FA dan dapat mengedukasi masyarakat mengenali FA dengan cara mudah yaitu Meraba Nadi Sendiri (MENARI). (Cindy/ foto: Cindy)

Tags: , , , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: