Kenali Bahaya Thalasemia Hingga Pengendaliannya

Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko tinggi thalasemia.
, Majalah Kartini | 10/05/2017 - 07:02

Kenali Bahaya Thalasemia Hingga Pengendaliannya

MajalahKartini.co.id – Kementerian Kesehatan bersama Yayasan Thalasemia Indonesia mengajak masyarakat Indonesia untuk mengetahui penyakit kelainan sel darah merah atau Thalasemia dan bahayanya serta cara mencegah dan mengendalikan peningkatan kasus penyakit tersebut. “Sekali lagi tidak lain dan tidak bukan awareness ini penting sekali untuk pencegahan dan pengendalian thalasemia,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Lily Sulistyowati di Jakarta, Senin (8/5) seperti dikutip Antara.

Menurut Lily penyakit Thalasemia perlu disosialisasikan agar lebih banyak masyarakat yang mengetahui mengenai penyakit tersebut beserta faktor risiko, gejala dan dampak yang diakibatkan. Lily menjelaskan Hari Thalasemia Sedunia yang jatuh pada 8 Mei diharapkan bisa memotivasi generasi muda untuk melakukan konsultasi thalasemia sebelum menikah untuk mencegah keturunan dengan thalasemia.

Penyakit kelainan sel darah merah ini merupakan warisan genetik dari orang tua yang membawa sifat thalasemia, di samping Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko tinggi thalasemia. Pada seseorang yang mengidap thalasemia mayor hanya dapat bertahan hidup dengan penanganan transfusi darah secara rutin setiap bulan seumur hidup dan konsumsi obat kelasi besi, atau pengontrol kelebihan zat besi karena transfusi darah, setiap hari seumur hidup.

Namun seseorang dengan thalasemia minor bisa hidup normal karena tidak mengalami gejala pada tubuh, kendati bisa mewariskan gen thalasemia pada anaknya. Kedua orang tua yang pembawa sifat thalasemia minor kemungkinan 100 persen seluruh anaknya bisa mengidap thalasemia minor ataupun mayor. Oleh karena itulah, kata Lily, penting deteksi dini pembawa sifat thalasemia dengan pemeriksaan thalasemia sebelum menikah untuk menghindari perkawinan sesama pembawa sifat thalasemia.

Dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Divisi Hematologi-Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Pustika Amalia Wahidiyat mengatakan pengidap thalasemia tanpa transfusi darah usianya diperkirakan tidak mencapai lima tahun. Sementara pengidap dengan transfusi darah secara rutin satu bulan sekali bisa sampai 20 tahun, dan pengidap dengan perawatan transfusi darah dan pengobatan besi secara rutin bisa mencapai 40 tahun. (Foto: ilustrasi)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: