Ini Jenis Penyakit yang Ditularkan Nyamuk

Jumlah penyakit yang ditularkan nyamuk semakin meningkat dan meluas.
, Majalah Kartini | 12/10/2017 - 10:03

MajalahKartini.co.id – Indonesia adalah negara tropis yang memiliki ancaman penyakit yang ditularkan nyamuk. Beberapa penyakit yang ditularkan vektor nyamuk dan sudah terkonfirmasi (ditemukan) di Indonesia adalah demam berdarah dengue (DB), malaria, chikukunya, dan zika.

Dewasa ini, jumlah penyakit yang ditularkan nyamuk semakin meningkat. Salah satu pemicunya adalah populasi nyamuk semakin banyak, disebabkan perubahan iklim global. Suhu global yang meningkat menyebabkan nyamuk semakin suka kawin, bertelur terus sehingga meningkatkan penyakit yang ditularkannya.

Nyamuk juga lebih bandel karena semakin pintar beradaptasi dengan perubahan lingkungan, sehingga
nyamuk yang tadinya mudah mati dengan obat nyamuk yang mengandung organofosfat misalnya, tetapi belakangan ini mulai kebal dan tidak mati dengan zat tersebut. Nyamuk adalah hewan kecil yang paling cepat beradaptasi dengan lingkungan.

DR. dr. Leonard Nainggolan SpPD-KPTI, Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi dari Perhimpunan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi Indonesia (PETRI) menjelaskan, data WHO tahun 2016
menunjukkan jumlah kasus kematian akibat gigitan nyamuk mencapai 725.000. Jumlah penyakit yang
ditularkan nyamuk mencapai 17% dari seluruh penyakit menular, dengan kematian mencapai 1 juta per
tahun, dan paling banyak terjadi di Afrika.

Selain itu, lebih dari 2,5 miliar orang di lebih dari 100 negara berisiko tertular demam berdarah, dan 3,2 miliar orang berisiko tertular malaria (WHO, 2015).  Ada tiga penyakit utama yang ditularkan melalui nyamuk, yaitu malaria, demam berdarah, dan filariasis. “Dana sekitar Rp 2 triliun rupiah dihabiskan hanya untuk penanggulanan dan pengobatan ketiga penyakit ini,” kata dr. Leonard pada press conference di Jakarta, Senin (9/10).

Penelitian dr. Leonard tahun 2009 menunjukkan, satu kasus DB menghabiskan rata-rata Rp 1,5 juta rupiah, belum termasuk transportasi dan lost of income dan biaya penanggulangan wabah. Jenis nyamuk penyebab ketiga penyakit tadi adalah Aedes (terutama Aedes Aegypti) yang juga menyebabkan yellow fever, zika, dan chikungunya, nyamuk Anopeles (penyebab malaria) dan nyamuk
Culex (nyamuk rumah/kebon) yang dapat menularkan kaki gajah (filariasis) dan enchepalitis.

Nyamuk culex berkembangbiak di saluran air, septic tank, parit, genangan hujan, dan tempat gelap seperti rumah. Penyakit yang perlu diwaspadai disebarkan oleh nyamuk culex adalah kaki gajah (elephantiasis).

Nyamuk menyebarkan parasit filaria sebagai penyebab kaki gajah melalui gigitannya. Parasit menyebabkan penyumbatan pembuluh limfa di kaki atau lengan, menyebabkan bengkak
sehingga disebut kaki gajah. Kaki gajah bukan suatu penyakit mematikan, tetapi menimbulkan stigma buruk, dan mengganggu aktivitas sehari-hari. “Bila sudah bengkak, tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan, hanya untuk memperkecil pembengkakan,” kata dr. Leonard. “Pencegah dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk Culex dengan memasang kelambu tempat tidur, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dan aktif membersihkan sarang nyamuk (PSN),” katanya.

Jenis nyamuk anopheles dapat menularkan parasit plasmodium penyebab penyakit malaria. Nyamuk yang menularkan adalah betina, ia menggigit karena memerlukan darah (protein) untuk mematangkan telur- telurnya. Nyamuk anopheles menyukai daerah yang memiliki kelembaban tinggi di atas 60%. Nyamuk anopheles aktif memasuki rumah pukul 17.00-22.00 malam, dan sangat aktif sampai menjelang pagi dan tengah malam.

“Karena aktivitasnya malam, maka paling efektif mencegah gigitan nyamuk anopheles adalah memasang kelambu,” ujarnya. Malaria saat ini, kata dr. Leonard mulai menjadi endemis di daerah yang sebelumnya jarang atau tidak ditemukan kasus malaria. Perubahan lingkungan diduga menjadi pemicunya. “Secara umum nyamuk Anopheles penyebab malaria banyak ditemukan terutama di area perkebunan dan persawahan atau daerah pinggiran dan jarang ditemukan di daerah urban,” paparnya.

Berbeda dengan nyamuk Anopheles maupun Culex, nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah, sangat aktif di siang hari. Selain menyebarkan virus dengue penyebab demam berdarah, belakangan nyamuk Aedes juga menimbulkan wabah zika. “Meskipun tidak menyebabkan kematian, tetapi
berbahaya jika menginfeksi perempuan hamil karena dapat menyebabkan cacat janin yaitu mikrosepalus (otak mengecil) menyebabkan perkembangan anak terhambat dan usia anak tidak panjang,” jelasnya.

Aedes juga menyebakan penyakit chikukunya dengan gejala peradangan sendi yang dapat menjadi kronis, dengan gejala seperti lumpuh layuh. Ketiga penyakit, DB, chikungunya, dan zika, sudah terkonfirmasi pernah terjadi di Indonesia.

Nyamuk Aedes aegypti, karena perubahan iklim, memiliki daya jelajah semakin meluas. Di wilayah yang  tadinya nyamuk Aedes tidak dapat hidup, sekarang dapat hidup karena suhu menghangat. Misalnya Eropa, yang tadinya steril dari nyamuk Aedes, misalnya di Sisilia Italia mulai ditemukan kasus DB yang bukan “penyakit import”.

Tahun 2016 WHO membuat peta penyebaran DB di dunia. Di Indonesia sendiri sejak tahun 1970 sudah
ditemukan virus dengue. Saat ini di hampir seluruh propinsi di Indonesia sudah terjangkit virus dengue.  Selain di Eropa, kasus dengue juga ditemukan di perbatasan di Meksiko dan Amerika. “Ini menjadi salah satu penyebab jumlah kasus DB meningkat karena penyebaran nyamuk semakin meluas,” tambah dr. Leo.

Nyamuk Aedes betina lebih suka darah manusia, dan dia lebih menyukai aroma manusia, termasuk aroma tubuh manusia yang tertinggal di pakaian. “Oleh karena itu, pakaian yang habis dipakai sebaiknya dimasukkan ke keranjang pakaian dalam kondisi tertutup,” katanya.

Nyamuk Aedes bertelur di air tergenang. 1 cc air tergenang saja sudah bisa jadi media berkembang biaknya nyamuk. Namun jangan lengah, karena pada keadaan kering pun, telur nyamuk Aedes dapat bertahan sampai 6 bulan. Ketika terendam air, telur-telur kering ini dapat menetas menjadi larva. Nyamuk Aedes tidak dapat bertahan di iklim dingin.

“Perubahan demografi dan urbanisasi meningkatkan populasi nyamuk Aedes. Di musim hujan, suhu dan kelembaban sangat kondusif untuk perkembangbiakan dan kelangsungan hidup nyamuk yang lebih lama. Tetapi suhu tinggi dapat mempercepat siklus hidup Aedes aegypti. Di musim panas,
ukuran telur yang dihasilkan lebih kecil sehingga nyamuk membutuhkan darah lebih banyak untuk membesarkan telur. Di musim panas ini semakin banyak gigitan sehingga meningkatkan jumlah
individu yang terinfeksi dan memperpendek masa inkbasi nyamuk,” papar Leonard.

Hal itulah yang menjelaskkan bahwa kasus dengue sangat bergtantung suhu dan musim di mana kejadian DB banyak ditemukan di akhir musim hujan karena banyak air tergenang dan nyamuk tengah dalam puncak masa berkembang biak. (Foto : Andim)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: