Indonesia Masuk 10 Besar Angka Kematian Akibat Pneumonia

Pneumonia masih menjadi penyebab kematian utama pada bayi di bawah usia 2 tahun.
, Majalah Kartini | 12/03/2017 - 16:01

Indonesia Masuk 10 Besar Angka Kematian Akibat Pneumonia

MajalahKartini.co.id – Forum Ngobras (Ngobrol Bareng Sahabat) kembali mengadakan diskusi media bertajuk “Harapan Baru Eradikasi Pneumonia di Indonesia” di Jakarta, Jumat (10/2). Dalam acara tersebut dijelaskan, Kementerian Kesehatan akan melaksanakan demonstrasi program imunisasi pneumonia di tiga kabupaten di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Oktober 2017 mendatang.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan, Dr. Wiendra Woworuntu M.Kes memaparkan, demontsrasi vaksin pneumokokus rencananya akan dilakukan di Lombok Barat dan Lombok Timur menggunakan vaksin PCV 13. “Sasarannya adalah bayi usia 2 bulan, 3 bulan dan 12 bulan dengan total jumlah yang menerima vaksinasi sebanyak 39.397 bayi,” kata dr. Wiendra.

Pneumonia kata dia saat ini masih menjadi penyebab kematian utama pada bayi di bawah usia 2 tahun. Data WHO tahun 2015 tercatat 5,9 juta kematian balita atau 15% dalam satu tahun, akibat pneumonia. Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan kematian akibat pneumonia tertinggi. Setidaknya 2-3 anak meninggal setiap jam karena penumnonia. “Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi pneumonia memang sudah menurun tetapi insiden masih 1,8% atau 24 balita meninggal setiap 4 jam karena pneumonia. Hal ini tentu masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia,” katanya.

Dr. Nastiti Kaswandani, spesialis anak konsultasn respirasi dari FKUI/RSCM saat presentasi menjelaskan, sebenarnya, orangtua dapat dengan mudah mengenali gejala pneumonia, karena gejalanya yang khas, yakni ada sesak napas dan ada tarikan dinding dada ke dalam. “Pneumonia adalah radang paru yang dapat disebabkan virus atau bakteri, menyebabkan kerusakan jaringan paru terutama pada bagian paru tempat bertukarnya udara. Gejalanya adalah sesak napas, karena pemasukan oksigen berkurang,” kata dr. Nastiti.

Pada kondisi pneumonia berat, kata dia dapat menyebabkan kematian akibat kekurangan oksigen mencapai otak dan jantung. “Kematian tertinggi di bawah usia 2 tahun, atau dua tahun pertama kehidupan. Semakin muda usia bayi, maka semakin berisiko karena bayi baru lahir memiliki daya tahan tubuh rendah dan sistem kekebalan belum belum berkembang sempurna,” lanjut dr. Nastiti.

Meskipun dapat disebabkan infeksi virus, sekitar 50% penyebab pneumonia adalah infeksi bakteri Streptococcus pneumokokus dan kedua terbanyak disebabkan bakteri Haemophilus influenza tipe b. “Penularan pneumonia tersering melalui udara (bersin, batuk atau berbicara). Kualitas udara yang buruk meningkatkan risiko pneumonia. Udara dalam rumah juga menjadi faktor risiko, yaitu ruangan dengan asap rokok, bahan bakar rumah tangga atau obat nyamuk,” ujarnya.

Lebih lanjut dr. Nastiti untuk menurunkan insiden pneumonia Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjalankan 3 langkah yaitu Protect, Prevent dan Treat. “Perlindungan dilakukan dengan menyediakan lingkungan sehat untuk bayi, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, gizi yang seimbang, mencegah bayi dengan berat badan rendah dan menurunkan polusi udara,” katanya.

Kemudian dia menerangkan bahwa pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksinasi lengkap, terutama vaksin campak, pertusis dan dan vaksin pneumonia. IDAI juga sudah mengeluarkan rekomendasi pencegahan pneumonia dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan, imunisasi lengkap, pencegahan dan tata laksanan pneumonia, dan rekomendasi dalam menghadapi kabut asap. “Imunisasi yang ada kaitan dengan pneumonia adalah BCG, DTP, Hib dan PCV, campak, influenza dan MMR. “Dari vaksin-vaskin tersebut, ada dua vaksin yang belum dicover pemerintah yaitu PCV dan influenza,” jelas dr. Nastiti. (Foto: Andim)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: