Catatan Kesehatan di Indonesia Tahun 2017

Simak enam penyakit yang disebabkan pola hidup buruk sepanjang 2017.
, Majalah Kartini | 26/12/2017 - 11:17


MajalahKartini.co.id – Di Indonesia penyakit mengalami pergeseran dari penyakit menular ke penyakit
tidak menular. Hal ini disebabkan faktor gaya hidup yang buruk sehingga meningkatkan risiko berbagai
macam penyakit.

Majalahkartini.co.id merangkum catatan kesehatan di Indonesia sepanjang 2017. Adapun masalah kesehatan yang mengancam jiwa penduduk Indonesia tahun ini sebagai berikut.

– Kanker Payudara
Kanker adalah salah satu penyakit tidak menular yang saat ini menjadi persoalan serius di Indonesia. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (P2PTM), dr. Lily. S. Sulistyowati
MM menjelaskan bahwa kanker payudara dan kanker serviks adalah dua jenis kanker dengan prevalensi
tertinggi.

Setidaknya setiap 1 jam ada 1 penderita kanker payudara meninggal. Hal ini berujung pada pembiayaan kesehatan yang sangat tinggi. Tahun 2015 setidaknya menghabiskan 2,9 triliun untuk pengobatan kanker payudara.

– Kanker Paru
Sadarkah Anda bahwa kanker paru merupakan pembunuh nomor 1 bagi pria di Indonesia. Di seluruh dunia,
kanker paru merupakan pembunuh utama dalam penyakit kanker. Menurut Dr. Elisna Syahruddin, Ph.D, Sp.P
(K) dari Departemen Pulmonologi dan Respiratori FKUI/RSUP Persahabatan, Jakarta, dari 10 orang yang
kena kanker paru, delapan orang meninggal tahun itu juga. Insiden kanker paru di Indonesia
diperkirakan 40/100.000 penduduk berisiko.

– Dabetes
Indonesia masuk ke dalam 10 peringkat teratas negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di
dunia. Menurut data Diabetes Atlas Edisi ke-8 yang diterbitkan oleh International Diabetes Federation
pada tahun 2017, ada lebih dari 199 juta perempuan yang hidup dengan diabetes dan angka tersebut
diproyeksikan meningkat menjadi 313 juta jiwa pada tahun 2040. Dua dari lima wanita dengan diabetes
berada pada usia produktif terhitung lebih dari 60 juta perempuan di seluruh dunia.

– Stroke
Stroke dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan yang akan menurunkan status kesehatan dan kualitas
hidup penderita stroke, di samping itu akan menambah beban biaya kesehatan yang ditanggung keluarga
dan negara. Data WHO tahun 2012 menunjukkan sekitar 31% dari 56,5 juta orang atau 17,7 juta orang di
seluruh dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari seluruh kematian akibat
penyakit kardiovaskuler, sebesar 7,4 juta disebabkan penyakit jantung koroner, dan 6,7 juta disebabkan
stroke. Prevalensi stroke nasional berdasarkan Riskesdas 2013 sebesar 12,1 persen, tertinggi di
provinsi Sulawesi Selatan (17,9 persen) dan terendah provinsi Papua Barat, Lampung, dan Jambi (5,3
persen).

– Hipertensi
Meskipun hipertensi pada perempuan sering dianggap kurang penting (underestimated) dan tidak
terdiagnosa dengan baik (undiagnosed), pada kenyataannya hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya
ganggguan jantung, gangguan ginjal, stroke, demensia bahkan kematian. Data Riskesdas 2013 mencatat,
pada usia 65 tahun ke atas, prevalensi hipertensi pada perempuan adalah 28,8 lebih tinggi dibandingkan
laki-laki dengan prevalensi 22,8. Selain faktor hormonal, didapati bahwa angka perkiraan hidup (life
expectancy) perempuan lebih tinggi dari pria.

– Hepatitis B
Secara nasional prevalensinya mencapai 21,8%, atau menempati urutan tertinggi. Hepatitis B merupakan
penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Sebenarnya penyakit hati ini bukan saja karena
virus, tetapi juga akibat paparan bahan kimia berbahaya, karena hati berfungsi untuk menetralkan racun
di dalam tubuh.

Itulah beberapa masalah kesehatan yang dihadapi di Indonesia sepanjang 2017. Jadi jika Anda ingin
hidup sehat terbebas dari penyakit, sebisa mungkin menjalani pola hidup sehat. (Foto: Pixabay)

Tags: , , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: