BPOM: Waspadai Iklan Obat Herbal Penyembuh Kanker

Badan Pengawas Obat dan Makanan menghimbau masyarakat untuk mewaspadai iklan obat herbal.
, Majalah Kartini | 13/11/2017 - 20:00

MajalahKartini.co.id – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menghimbau masyarakat untuk mewaspadai iklan obat herbal yang menjanjikan penyembuhan kanker. Penggunaan obat herbal tersebut hanya digunakan sebagai pendamping obat pada terapi kanker, bukan menyembuhkan.

Berdasarkan data Globocan tahun 2012, terdapat sebanyak 14,1 juta kasus baru penyakit kanker dan 8,2 juta kematian akibat kanker secara global. Sementara itu, prevalensi kanker di Indonesia sebesar 1,4 per 1.000 penduduk serta merupakan penyebab kematian nomor 7 (5,7 persen) berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013.

Pengetahuan mengenai kanker dan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini terhadap penyakit kanker dianggap masih kurang. Belum lagi ditambah ketidakmampuan membiayai pengobatan, akses pelayanan yang sulit sampai meninggalkan terapi konvensional dan beralih ke pengobatan alternatif karena dinilai ‘menyakitkan’. Padahal, pengobatan alternatif seperti obat herbal hanya sebagai pendamping obat terapi kanker, bukannya menyembuhkan.

BPOM memang memberikan klaim terhadap produk herbal tersebut tapi dengan catatan membantu memelihara kondisi kesehatan pada penderita kanker bukan menyembuhkan kanker pada para penderita. Para penderita kanker diminta untuk melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter terkait penggunaan obat herbal tersebut. Dari tahun 2003 hingga 2017 ini, tercatat jumlah produk obat herbal dengan klaim pada penderita kanker didaftarkan ke BPOM sekitar 425 produk.

Pada Juni lalu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi dalam keterangan tertulisnya menjelaskan adanya ciri umum iklan produk kesehatan tradisional yang melanggar peraturan dan menyesatkan antara lain, iklan mengandung pesan yang bersifat superlatif, berlebihan dan menggunakan testimoni pengguna, memberikan gambar video anatomi tubuh atau penyakit untuk memancing kekhawatiran masyarakat awam atas penyakit serius dan kronis. Serta menggunakan perekomendasi dari dokter atau tenaga kesehatan yang seakan-akan menyerupai dokter atau tenaga kesehatan memberikan janji kesembuhan dari berbagai penyakit.

Beberapa iklan produk kesehatan herbal tradisional yang tercatat melanggar aturan kesehatan tersebut yaitu Jeng Ana, Ratu Givana, Eyang Gentar, Herbal Putih dan Mega6 yang disiarkan di lima lembaga penyiaran. Sehingga melanggar Undang-Undang Penyiaran, Pedoman Program Penyiaran dan Standar Program Siaran (PPSPS), UU Kesehatan, Etika Pariwara Indonesia dan UU Perlindungan Konsumen.

“Kemenkes tidak hanya membuat regulasi. Kita langsung bekerja nyata, menjalin komunikasi dan melaporkan pelanggaran iklan kepada KPI. Ini semata-mata untuk melindungi masyarakat,” ujar Oscar dikutip dari antaranews.com. (Cindy/Foto: Ilustrasi)

Tags: , , , , , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: