Benarkah Pilihan Kerja Berpotensi Infertilitas pada Pria?

Berbagai kelainan mulai dari gangguan hormonal, masalah fisik hingga masalah psikologis diketahui bisa menyebabkan infertilitas pada pria.
, Majalah Kartini | 12/08/2016 - 15:00

Majalahkartini.co.id – Secara umum, kesuburan mencerminkan status kesehatan seseorang. Orang yang bergaya hidup sehat lebih memiliki kesehatan reproduksi yang sehat.  Dr. Sigit Solichin, SpU dari Klinik Urologi RSU Bunda Jakarta menjelaskan diperkirakan saat ini ada 15% pasangan di dunia yang infertil.

“Artinya, mereka tidak dapat memiliki keturunan secara alamiah meskipun rutin berhubungan seksual tanpa pengaman setidaknya dalam waktu 1 tahun atau lebih.  Penyebabnya, lebih dari 50% berasal dari faktor pria,” ujarnya dalam Media Gathering bertajuk Pilihan Pekerjaan Bisa Berdampak pada Infertilitas Pria, di RSU Bunda Jakarta, Jumat (12/8).

Infertilitas pada pria merupakan proses yang sangat kompleks. Agar dapat  terjadi kehamilan pada pasangan, maka harus dihasilkan sperma yang sehat dan jumlah yang cukup. Untuk menghasilkan sperma sehat dan cukup, prosesnya diawai sejak awal masa pubertas di masa pertumbuhan organ reproduksi pria. Setidaknya salah satu dari dua testikel harus berfungsi normal, disertai produksi testosteron dan hormon-hormon lain yang berperan dalam menstimulasi produksi sperma.

Selain itu, sperma harus terbawa melalui cairan semen. Begitu diproduksi di testikel, akan dialirkan bersama-sama dengan cairan semen dan dikeluarkan saat ejakulasi dari ujung penis. Jumlah sperma yang ada dalam cairan ejakulat harus cukup agar peluang terjadi pembuahan tinggi.  Jumlah sperma yang kurang dari 15 juta per millimeter semen atau jumlah total sperma kurang dari 39 juta per ejakulasi dianggap rendah. Selain jumlah cukup, bentuk dan gerakan sperma harus baik sehinga dapat memenetrasi sel telur.

Dokter spesialis okupasi sekaligus konsultan RSU Bunda Jakarta, Dr. Kasyunnil Kamal, MS., SpOk menambahkan, bahwa pilihan pekerjaan atau profesi seorang pria, tidak disadari dapat menyebabkan infertil.

“Berbagai pajanan di tempat kerja berpotensi menyebabkan infertilitas. Namun diagnosis sulit ditegakkan karena pemahaman yang kurang dan baru disadari berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian antara lain karena status pekerja belum menikah sehingga sulit menilai status kesuburannya,” jelas Kasyunnil. (Foto: Dok. Prodia)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: