Bahaya HPV, Sebabkan Banyak Kanker

Selain kanker serviks, HPV juga menyebabkan kanker kanker mulut, nasofarink, vagina, penis dan anus.
, Majalah Kartini | 15/04/2017 - 10:04

Bahaya-HPV,-Sebabkan-Banyak-Kanker

MajalahKartini.co.id – Mulai dari >100 tipe HPV, hanya sekitar 20 serotipe yang bisa menyebabkan kanker (tipe onkogenik). Di Indonesia, tipe onkogenik yang paling banyak yakni serotipe 16, 18 dan 52. Selain kanker serviks, HPV juga bisa menyebabkan kanker lain, antara lain kanker mulut, nasofarink, vagina, penis dan anus.

“Pencegahan kanker serviks ada yang primer dan sekunder. Pencegahan primer dengan vaksin, dan sekunder dengan skrining,” kata Prof. Dr. dr. Andrijono, Sp.OG(K), Ketua HOGI dalam acara media workshop oleh Forum Ngobras di Jakarta, Rabu (12/4).

Cakupan skrining di Indonesia kata dia masih sangat rendah; dengan IVA (inspeksi asam visual asetat) 3,5%, dan pap smear 7,7%. Karenanya kita perlu meloncat ke program vaksinasi. “Kalau infeksi HPV bisa dicegah, kanker serviks bisa dicegah,” tegasnya.

Salah satu penyebab tingginya insiden kanker serviks di Indonesia yakni masih banyak pernikahan dini. Berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2010, pernikahan <19 tahun mencapai 45%. Program vaksinasi HPV di Jakarta yang dilakukan pada siswi kelas 5 SD (usia 10 tahun), bukan tanpa alasan. “Kalau vaksinasi dilakukan saat lulus SMA, kita kecolongan. Bila diberikan di usia 10 tahun, anak sudah terlindungi sejak dini,” ujar Prof. Andrijono.

Ini membuat anak terlindungi sebelum dia aktif secara seksual. Selain itu, vaksinasi di usia muda menunjukkan efikasi yang lebih baik. Data di Swedia menunjukkan, bila vaksinasi diberikan di usia <17 tahun, efikasinya >75%. Dan, pada usia 9-13 tahun. Vaksin cukup diberikan dalam dua dosis (2x suntikan), sedangkan di usia 14-45 tahun diberikan dalam tiga dosis.

Vaksin HPV berasal dari cangkang virus, bukan virus yang dilemahkan, sehingga tidak mungkin menyebabkan viremia (infeksi virus). Ada kabar menyebutkan bahwa vaksin HPV kuadrivalen (mengandung empat serotipe virus) sudah tidak dipakai lagi di Amerika Serikat (AS). Bukan karena vaksin tersebut berbahaya, melainkan karena di AS, sudah dipakai vaksin baru yang mengandung sembilan serotipe. Program vaksinasi menggunakan vaksin kuadrivalen.

“Vaksin ini melindungi dari kanker serviks sampai 70%,” ungkap Prof. Andrijono. Keamanan vaksin HPV telah dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Pada program vaksinasi di Jakarta tahun lalu, tidak ada keluhan efek samping, kecuali bengkak/nyeri di lokasi suntikan. Di seluruh dunia pun tidak ditemukan efek samping yang serius.

Dibandingkan skrining, vaksin jauh lebih efektif. Bila ditemukan lesi pra kanker saat skrining, perlu dilakukan terapi, dan akan ada morbiditas yang terjadi. Bila lesi pra kanker sudah grade 3, rahim harus diangkat, sehingga perempuan tersebut tidak bisa punya anak lagi. Sedangkan dengan vaksin, dengan 2-3 suntikan, sudah mendapat proteksi hingga 15 tahun.

Kanker serviks merupakan kanker nomor 2 terbanyak pada perempuan di Indonesia, setelah kanker payudara. Melalui skrining, kanker serviks ditemukan pada 1 dari 1.000 perempuan. Insiden pada 38.000 perempuan diperkirakan 38.000/tahun, dengan angka kematian sekitar 80% (30.400/tahun).

Sekitar 70% – 82,3% datang pada stadium lanjut. Rata-rata setelah 2 tahun, yang bertahan hidup tinggal 6% (data RSCM). Penyebab utamanya sudah diketahui yakni infeksi HPV (Human Papilloma Virus). Vaksin HPV sudah tersedia, sehingga kanker serviks bisa dicegah hampir 100%. (Foto: Andim)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: