3 Tindakan Pencegahan Serangan Jantung pada Pengidap Diabetes

Orang yang banyak duduk dan kurang aktivitas dapat menyebabkan ketidakseimbangan pengeluaran energi dan pemasukan makanan.
, Majalah Kartini | 05/12/2017 - 16:33

MajalahKartini.co.id –  Apakah benar orang yang lebih banyak duduk atau kurang aktivitas lebih berisiko terkena sakit jantung? “Orang yang banyak duduk dan kurang aktivitas dapat menyebabkan ketidakseimbangan pengeluaran energi dan pemasukan makanan. Orang yang tidak aktif cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan/cemilan daripada orang yang senang berjalan maupun berlari. Energi yang dikeluarkan juga jauh lebih sedikit daripada aktivitas berjalan dan berlari,” terang dr Yudistira Panji Santosa SpPD-KKV., M.Kes., FAPSIC., FICA., FINASIM, spesialis jantung dari RS Awal Bros Tangerang.

Dengan ketidakseimbangan itu akan dapat menimbulkan beberapa penyakit dan yang paling sering terjadi adalah obesitas atau berat badan berlebih. Obesitas merupakan keadaan yang dapat menimbulkan terjadinya kencing manis, peningkatan kadar kolesterol dan pengentalan darah. Hal-hal ini dapat memberikan peningkatan risiko terjadinya penyakit jantung pada orang yang lebih banyak duduk atau kurang aktivitas.

Lalu bagaimana tindakan pencegahannya? Tindakan pencegahan serangan jantung pada pasien Diabetes menurut dr Yudhistira bisa dibagi 3, yaitu tindakan pencegahan Primer, Sekunder dan Tertier. Tindakan pencegahan primer bertujuan mencegah terjadinya penyakit jantung pada pasien Diabetes yaitu dengan cara melakukan pemeriksaan rekam jantung (elektrokardiogram (EKG)), uji latih (treadmill test), echocardiography yang berkala atau jangka waktu tertentu yang ditentukan oleh dokter.

Baca juga: Waspada! Pengidap Diabetes Melitus Berisiko Terserang Jantung

Sedangkan pencegahan sekunder adalah untuk mendeteksi dini penyakit jantung dan segera mengobatinya untuk mencegah terjadinya komplikasi. Pemeriksaan jantung dapat dilakukan pada penderita kencing manis seperti pemeriksaan elektrokardiogram setiap enam bulan, treadmill test setiap tahun dan echocardiogram setiap dua tahun. “Sedangkan untuk mengatasi dan mengontrol faktor risiko lain yang dapat menyertai kencing manis dapat dilakukan tiap tiga bulan. Jika diperlukan dilakukan pemeriksaan CT scan jantung, MRI jantung bahkan kateterisasi jantung jika mengarah terjadi penyakit jantung,” jelasnya.

Pencegahan tertier adalah pemulihan atau rehabilitasi untuk terjadinya kecacatan dan kematian. Seperti contoh pada kasus ini adalah penderita kencing manis yang sudah mengalami serangan jantung dan dokter berusaha mengurangi terjadinya gagal jantung akibat kerusakan otot jantung. Pemeriksaan jantung yang dilakukan seperti elektrokardiogram, echocardiogram, treadmill test atau stress echocardiogram dilakukan lebih intensif. Sedangkan pemeriksaan CT scan jantung, MRI jantung dan kateterisasi jantung dapat dilakukan secara berkala. (Foto: ilustrasi)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: