Turunkan AKI, Dorong Penggunaan Kontrasepsi Jangka Panjang

Diperlukan strategi mengubah perilaku yakni KB.
, Majalah Kartini | 16/12/2017 - 10:11


MajalahKartini.co.id – Keluarga Berencana (KB) sangat berkaitan dengan penurunan Angka Kematian ibu. Tetapi saat ini rata-rata cakupan KB nasional masih di angka 60%. AKI adalah kematian ibu selama hamil, melahirkan dan masa nifas. Dari peta global, AKI di Indonesia masih tinggi, setara dengan negara-negara miskin seperti Bangladesh, India, Pakistan dll.

Tahun 2017 AKI masih sekitar 259-305 per 100.000 kelahiran. Jauh dari target 102 per 100.000 kelahiran. Perilaku reproduksi menjadi penyumbang AKI dalam hal ini 4T: hamil terlalu banyak, terlalu rapat, terlalu muda, dan terlalu tua. Survei Demografi dan Kependudukan 2012 menunjukkan sekitar 32,5% AKI terjadi akibat melahirkan terlalu muda tua dan terlalu muda, dan sekitar 34% akibat kehamilan karena terlalu banyak (lebih dari 3 anak).

Guru Besar Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM, Prof. Dr Biran Affandi SpOG(K), membenarkan. Data dari RSCM menunjukkan sebagian besar kematian AKI akibat melahirkan terlalu muda. Oleh karena itu, diperlukan strategi mengubah perilaku reproduksi untuk menekan AKI, yaitu dengan perencanaan kehamilan atau Keluarga Berencana (KB). “Peran KB sangat penting dalam menurunkan AKI. Jika KB gagal  maka AKI tidak akan turun, jangan harap AKI akan turun kalau KB jeblok,” tegas Prof. Biran.

Survei BKKBN tahun 2015, 51% remaja putri di perkotaan sudah melakukan hubungan seksual dan di pedesaan sekitar 40 %. Ketika terjadi kehamilan tidak diinginkan, mereka tidak memiliki kesempatan menjadi remaja, tetapi langsung berperan sebagai ibu dengan segala kompleksitasnya. Padahal kehamilan terbaik adalah pada usia 20-35, ketika seorang perempuan sudah siap secara fisik dan mental. Sedangkan persalinan anak pertama dan kedua adalah persalinan paling rendah risikonya, dengan jarak antar kehamilan minimal 2 tahun.

Saat ini ada pilihan berbagai alat KB yang modern, mulai dari pil, suntik, susuk (implan), kondom hingga sterilisasi yang aman dan nyaman sehingga diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan KB. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti IUD, implan, dan sterilisasi (vasektomi dan tubektomi) adalah metode paling efektif menjarangkan kehamilan. Sayangnya pengguna MKJP di Indonesia kalah jauh dari metode KB dan suntik.

Menurut drg. Widwiono, MKes, selaku Direktur Bina Kepersetaan KB Jalur Swasta, BKKBN, penggunaan alat  kontrasepsi jangka panjang di Indonesia masih memprihatinkan. “BKKBN terus mendorong penggunaan MKJP namun di tahun 2012 baru tercapai 17%, dan tahun 2017 naik menjadi 21%. Tetapi yang lebih menyedihkan, justru penggunaan suntik semakin tinggi. Kebanyakan diberikan oleh bidan swasta. Dan suntik yang diberikan pun suntik sekkali sebulan,” jelas Widwiono.

Grafik penggunaan KB suntik terus naik dalam 3 tahun terakhir. Dalam rangka menaikkan pengguna MKJP BKKBN membuat program 1 kabupaten 1 ahli kandungan kebidanan yang bisa melayani tubektomi, dan 1 dokter umum yang dapat melayani vasektomi, yang mulai dicanangkan tahun depan.

BKKBN juga berupaya menurunkan KB suntik dan mendorong MKJP dengan IUD, implant dan sterilisasi dengan bekerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan provider yang melayani KB untuk meningkatkan MKJP. Sudah 48.000 bidan dan 11.000 dokter umum dilatih cara insersi IUD dan implan. “Tapi lagi-lagi, permintaan masyarakat dan pengetahuan masyarakat tentang alat kontrasepsi belum paham. Hasil survei SDKI, ketika ditanya tentang KB, 98% tahu tetapi ketika ditanya per alat kontrasepsi presentasinya semakin turun. Bahkan pemehaman tentang vasektomi dan tubektomi hanya sekitar 7-10% saja,” kata Widwiono.

Saat ini capaian akseptor KB atau CPR (Contraceptive Participant Rate) adalah 57,9% dengan alat dan 65% tanpa alat. Targetnya 5 tahun ke depan 63,5% dengan alat. Sedangkan Total Fertility Rate (TFR) adalah 2,3%.

“Secara teori, jika CPR sudah mencapai 60% maka TFR bisa menjadi 2,1%. Kalau keadaan ini bisa tercipta maka pertumbuhan penduduk bisa stabil. Sekarang jumlah kelahiran per tahun 4,5 juta sementara sumber daya untuk membangun manusia belum mampu mengimbangi. Ini menjadi sumber masalah kemiskinan yang sulit turun,” jelas Widwiono.

Kebanyakan negara maju membangun dengan basis demografi/kependudukan. Widwiono berharap dengan basis demografi kependudukan penduduk dapat dikendalikan dan sumber daya ditingkatkan.(Foto : Forum Ngobras)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: