Pasangan Usia Subur Sasaran Akseptor Keluarga Berencana

Peserta KB setelah bersalin hanya 20 persen. Sedangkan jumlah keguguran sekitar 6 juta per tahun.
, Majalah Kartini | 18/12/2017 - 11:09


MajalahKartini.co.id – Guru Besar Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM, Prof. Dr Biran Affandi SpOG(K) mengingatkan, sasaran akseptor Keluarga Berencana (KB) yang tidak boleh dilupakan adalah pasangan usia subur paska melahirkan dan keguguran. “Mereka adalah pasangan usia subur yang tidak mau hamil lagi, tetapi tidak mau ber-KB,” jelasnya pada media gathering yang diselenggarakan Forum Ngobras di Jakarta, Jumat (15/12).

Data menunjukkan peserta KB setelah bersalin hanya 20 persen. Sedangkan jumlah keguguran sekitar 6 juta per tahun. Kedua kelompok ini akan langsung subur kembali jika tidak diberikan KB. “Kita harus melihat bahwa unmet need itu di depan kita yang jumlahnya tidak kurang dari 10 juta untuk dua kelompok paska melahirkan dan paska keguguran saja, dan harus menjadi sasaran untuk KB. Alat KB terbaik yang tidak mempengaruhi ASI yaitu IUD dan implant,” jelas Prof. Biran.

Drg. Widwiono, MKes, selaku Direktur Bina Kepersetaan KB Jalur Swasta, BKKBN, menambahkan, unmeet need dalam KB disebabkan banyak faktor, antara lain jumlah tenaga kesehatan kurang, terutama di daerah sulit dijangkau sehingga di daerah tersebut pelayanan KB tidak tercukupi. Tetapi bahkan di kota besar pun, masih banyak kegagalan KB salah satunya faktor ekonomi. Masyarakat masih tidak tahu bahwa pelayanan KB di Puskesmas gratis.

Prof Biran maupun wakil BKKBN Widwiono sepakat bahwa kehamilan seyogyanya direncanakan dan diinginkan. KB yang sudah dicanangkan sejak 1971 saat penduduk Indonesia hanya 70 juta, hendaknya terus digalakkan dengan berbagai upaya. Apalagi KB sangat berkorelasi dengan AKI. “Jika angka kelahiran turun otomatis angka kematian ibu turun. Jadi untuk menurunkan AKI, program KB harus berhasil. BKKBN siap menyediakan semua kebutuhan KB, namun yang mendesak adalah edukasi ke masyatakat,” pungas Widwiono.

Pil dan suntik KB memiliki tingkat kegagalan lebih tinggi dibandingkan alat KB jangka panjang seperti implan dan IUD, karena pil harus diminum setiap hari pada waktu yang sama. Demikian pula dengan suntik baik 1 maupun 3 bulan sekali. Data WHO menunjukkan, tingkat kegagalan dengan pil KB sekitar 90 per 1000 orang, dan suntik 60 per 1000 orang. Implan memiliki angka kegagalan hanya 0,5 persen (5 dari 1000 orang) atau terkecil bahkan dibandingkan dengan IUD yang 8,5 orang dari 1000 pengguna.

Data BKKBN tahun 2013 menunjukkan, peserta baru KB jangka panjang untuk implan hanya 9,23%, IUD 7,75 persen, sedangkan alat kontrasepsi jangka pendek masih mendominasi di mana suntikan 48,56 persen, pil 26,60 persen, dan kondom 0,6 persen.

Ada beberapa jenis impan KB yang sudah digunakan di Indonesia. Dulu di tahun 80-an, digunakan implan KB 6 batang yang saat ini sudah tidak digunakan lagi. Generasi implan KB terbaru hanya terdiri dua atau satu batang. Semakin kecil jumlah batangnya, tentu pemakaian semakin mudah tanpa mengurangi manfaatnya.

Implan dipasang di lengan atas di bawah kulit. Pemasangan implan KB dilakukan dokter obgin atau bidan yang sudah mendapatkan pelatihan, menggunakan inserter. Ukuran diameter implan sangat kecil, hanya 1-2 milimeter. (Foto: Ilustrasi)

Tags: , , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: