Pahami Gangguan Kesuburan pada Pasangan

Infertilitas bisa saja dialami perempuan atau laki-laki.
, Majalah Kartini | 05/03/2017 - 13:06

RSPI - dr. Yassin Yanuar Mohammad, Sp. OG

MajalahKartini.co.id – Dr. Yassin Yanuar MIB, SpOG, MSc dalam presentasinya berjudul Penanganan Gangguan Kesuburan dan Inseminasi Intrauterin. Di mana ada beberapa teknologi untuk menangani masalah gangguan kesuburan salah satunya tindakan Intrauterin.

Ia menjelaskan gangguan kesuburan atau infertilitas sendiri adalah ketidakmampuan satu pasangan untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 1 tahun tanpa kontrasepsi.

“Infertilitas bisa terjadi pada orang yang pernah punya anak sebelumnya atau bahka belum pernah sama sekali. Kalau terjadi pada pasangan yang pernah punya anak, mau punya anak kedua, ketiga atau keempat tapi sudah setahun gak hamil-hamil disebut infertilitas sekunder, tapi kalau yang baru menikah satu tahun belum punya anak juga disebut infertilitas primier,” jelas dr. Yassin pada media workshop yang diadakan RSPI di Jakarta, Senin (20/2).

Sekitar 10-15 persen pasangan dari yang ingin punya anak mengalami ifertilitas. Biasanya pada akhir tahun pertama, 85 persen pasangan akan hamil, dan di tahun ke dua pertama, sekitar 92 persen pasangan akan hamil. “Sisa tahun pertama menuju tahun ke dua, jadi jika tahun kedua 92 persen pasangan yang akan hamil, berarti tambahanya hanya 7 persen di tahun kedua. Artinya mungkin ada masalah pada kedua pasangan tersebut,” jelas dr. Yassin.

Sebanyak 75 persen pasangan hamil pada enam bulan pertama pernikahannya. Di bulan pertama, 30 persen pasangan hamil, kemudian menurun hingga hanya 8 persen. Tapi yang diunggulkan di enam bulan pertama yaitu 75 persen pasangan hamil. Peluang besar untuk hamil ada di bulan pertama dan bulan kedua setelah pernikahan karena setiap tahun range-nya menurun hingga bulan ke 12 tingga 1 yang hamil, dari 59 yang hamil di satu bulan pertama.

“Di Indonesia sudah ada dokter-dokter yang khusus menangani infertilitas. Jadi kalau melihat kemajuan zaman dan teknologi di dunia ini sangat baru diperkenakan oleh Himpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas Indonesia (HIFERI), ini kita sebarluasakna supaya dokter lain juga bisa memahami bagimana melakukan pelayanan yang baik,” kata Yassin.

Jumlah populasi di Indonesia sebanyak 237,641,326, ampir 40 juta penduduk adalah perempuan usia reproduksi, hanya saja 10-15 persen atau sektar 4 juta mengalami gangguan kesuburan. Ini adalah angka yang sangat tinggi. Meskipun di Indonesia telah banyak klinik/Pusat Pelayanan Infertilitas Komprehensif (Jakarta : 9 klinik, Bandung : 3 klinik, Yogyakarta : 1 klinik, Solo : 1 klinik, Semarang : 1 klinik, Surabaya : 3 klinik, Magelang : 1 klinik, Denpasar : 3 klinik, Medan : 1 klinik) hanya saja persebaran tidak merata sehingga banyak pasangan lebih memilih ke berobat ke negara tetangga.

“Penyebarannya tidak merata, di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera tidak ada sehingga yang di Sumatera akan lari ke Singapura, Pontianak dan Kalimantan akan lari ke Kucing. Inilah PR kita dari perhimpunan bayi tabung adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan,” terangnya.

Jika dilihat dari penyebab gangguan kesuburan, jaman dulu selalu dibebankan kepada isteri, padahal kata dia, penyebabnya sama antara laki-laki dan perempuan. “Keduanya bisa mengalami gangguan fertilitas,” ujar dr. Yassin.

Berdasarkan etiologi Infertilitas, 35 persen disebabkan faktor sperma, Idiopatik 10 persen, Patologi Pelvik dan tuba 35 persen, gangguan ovulasi 15 persen, masalah yang jarang 5 persen. “Gangguan ovulasi ditandai gangguan haid, biasanya haid jarang lebih 40 hari,” katanya.

Sedangkan etiologi Infertilitas pada perempuan, lanjut dr. Yassin disebabkan Idiopatik 10 persen, Patologi Pelvik dan tuba 40 persen (saluran telur dan panggul),  gangguan ovulasi 40 persen, masalah yang jarang 10 persen. “Jika mengalami gangguan haid cek ke dokter, apabila lebih cepat dari 21 hari atau lebih lambat dari 30 hari kemungkinan mengalami gangguan kesuburan,” katanya lagi.

Gangguan kesuburan dapat disebabkan oleh faktor suami, faktor istri atau kombinasi keduanya. Yang termasuk dalam faktor istri, kata dia adalah gangguan pematangan sel telur, sumbatan saluran telur atau gangguan pada rahim dan indung telur. Sedangkan yang termasuk dalam faktor pria adalah masalah sperma. (Foto: Andim)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: