Mengenal Rhesus Negatif pada Ibu Hamil dan Perkembangan Anak

Bila sang ibu sudah mengetahui dirinya memiliki rhesus negatif, maka segeralah mencari informasi rumah sakit dan dokter yang dapat menangani kehamilan dengan tepat.
, Majalah Kartini | 21/11/2016 - 10:00

MajalahKartini.co.id – Hampir pasti perempuan rhesus negatif akan memilik pasangan suami yang rhesus positif dimana hal ini pada saat kehamilan ada potensi sang buah hati yang memiliki rhesus positif dalam tubuh ibu dengan rhesus negatif akan memposisikan hadirnya janin sebagai “benda asing”. Kondisi ini dapat mengakibatkan kematian pada janin didalam rahim atau bila sang buah hati lahir akan mengalami beberapa gangguan kesehatan seperti anemia, kuning, hati bengkak bahkan pada kasus yang lebih parah adalah gagal jantung.

“Bila sang ibu sudah mengetahui dirinya memiliki rhesus negatif, maka segeralah mencari informasi rumah sakit dan dokter yang dapat menangani kehamilannya dengan tepat,” kata dr. Rudi Simanjuntak Sp.OG pada media gathering dengan tema “Mengenal Rhesus Negatif Pada Ibu Hamil dan Perkembangan Anak” di Tangerang, Sabtu (29/11).

Kemudian dr. Rudi menjelaskan, seorang ibu dengan rhesus negatif pada pemeriksaan kehamilan pertama akan diperiksa darahnya untuk memastikan jenis rhesus darah dan melihat apakah telah tercipta antibodi. Bila belum tercipta antibodi, maka pada usia kehamilan 28 minggu dan dalam 72 jam setelah persalinan akan diberikan suntikan Immunoglubulin Anti-D.

“Suntikan ini akan menghancurkan sel darah merah janin yang beredar dalam darah ibu, sebelum sel darah merah itu memicu pembentukan antibodi yang dapat menyeberang ke dalam sirkulasi darah janin. Dengan demikian sang janin akan terlindung dari serangan antibodi,” ungkap dr. Rudi memaparkan.

Kehamilan tanpa suntikan immunoglobulin Anti-D mempunyai peluang untuk selamat hanya 5%, suntikan ini akan mengurangi risiko hingga 1%. Bahkan bila digunakan dengan tepat, bisa mengurangi risiko hingga 0.07% (yang berarti peluang selamat meningkat hingga 99.93%). Pada kasus keguguran, aborsi dan terminasi pun suntikan ini perlu diberikan. Suntikan ini terus diulang pada setiap kehamilan berikutnya dikarenakan hanya dapat bertahan beberapa minggu.

Dr. Christiana R Setiawan, Sp.A. menambahkan, pada anak dengan Rh+ yang lahir dari ibu Rh- dapat terjadi anemia hemolitik yaitu pemecahan sel-sel darah merah sehingga terjadi peningkatan kadar bilirubin dalam darah bayi dan bayi tampak kuning. “Bila terjadi peningkatan kadar bilirubin maka dapat dilakukan fototerapi pada bayi. Namun, bila kondisi lebih berat dibutuhkan transfusi tukar. Risiko bertambah pada kelahiran anak ke-3,” kata dr. Christiana. (Foto: Andim)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: