Implan Alat Kontrasepsi Jangka Panjang yang Aman

Pilihan alat kontrasepsi jangka panjang yang lebih efektif.
, Majalah Kartini | 12/12/2017 - 20:01

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MajalaKartini.co.id – Program Keluarga Berencana (KB) untuk membatasi dan menjarangkan kelahiran dari pasangan usia subur, sangat berhubungan erat dengan pembangunan kesehatan manusia dan masa depan Indonesia. Di bidang  pembangunan kesehatan manusia, KB merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak dengan penggunaan alat kontrasepsi untuk menghindari empat terlalu: terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak anak dan terlalu dekat jarak kelahiran. Untuk masa depan Indonesia, KB merupakan suatu upaya untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.

Salah satu indikator keberhasilan program KB adalah Angka Fertilitas Total (Total Fertility Rate/TFR). TFR Indonesia tahun 2016 masih sebesar 2,3 dan belum mencapai target penurunan TFR yang telah ditetapkan oleh Millenium Development Goals (MDGs) sebesar 2,1 pada tahun 2015.

Salah satu kegagalan program KB adalah tidak efektifnya alat kontrasepsi yang digunakan karena berbagai faktor. Metode kontrasepsi yang sering digunakan di Indonesia saat ini adalah KB suntik dan pil KB yang jika digabung keduanya, penggunanya mencapai sekitar 50 persen.

Namun, sebenarnya ada beberapa pilihan alat kontrasepsi jangka panjang yang lebih efektif dengan angka kegagalan rendah, seperti IUD (alat kontraspesi dalam rahim) dan implan atau dikenal dengan susuk KB.  Alat KB inilah yang mendominasi program KB nasional, karena mudah digunakan dan bidan pun dapat memasangkan.

“Pil dan suntik KB memiliki tingkat kegagalan lebih tinggi dibandingkan alat KB jangka panjang seperti implan dan IUD, karena pil harus diminum setiap hari pada waktu yang sama. Demikian pula dengan suntik baik 1 maupun 3 bulan sekali,” jelas dr. Julianto Witjaksono SpOG Konsultan Fertilitas dan Endokrinologi dan Reporduksi, dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Ngobras tentang “Implan Sebagai Alat Kontrasepsi Jangka Panjang yang Aman dan Nyaman” di Jakarta, Senin (11/12).

Data WHO menunjukkan, tingkat kegagalan dengan pil KB sekitar 90 per 1.000 orang, dan suntik 60 per 1.000 orang. Implan memiliki angka kegagalan hanya 0,5 persen atau terkecil bahkan dibandingkan dengan IUD yang 8,5 orang dari 1.000 pengguna.

Sayangnya implan memang kurang popular di Indonesia. Data BKKBN tahun 2013 menunjukkan, peserta baru KB untuk Implan 9,23 persen, IUD 7,75 persen, Suntikan 48,56 persen, Pil 26,60 persen, dan kondom 0,6 persen. Salah satu penyebabnya, harga implan yang memang lebih mahal.

Menurut dr. Julianto, ada beberapa jenis implan KB yang sudah digunakan di Indonesia. Dulu di tahun 80-an, digunakan implan KB enam batang. “Karena implan KB dipasang di bawah kulit, maka jika jumlahnya mencapai 6 batang, maka akan kesulitan untuk pengambilannya setelah masa habis pakai,” jelas staf pengajar FKUI/RSCM ini.

Implan KB enam batang saat ini sudah tidak digunakan lagi. Generasi implan KB terbaru hanya terdiri dua atau satu batang. Semakin kecil jumlah batangnya, tentu pemakaian semakin mudah tanpa mengurangi manfaatnya. Implan dipasang di lengan atas di bawah kulit. Pemasangan implan KB dilakukan dokter kebidanan dan kandungan atau bidan yang sudah mendapatkan pelatihan, menggunakan alat pemasang (trocar). Ukuran diameter implan sangat kecil, hanya 1-2 mm.

“Implan direkomendasikan pada perempuan sehat semua usia, tetapi untuk yang berusia di atas 40 tahun sangat baik karena mengurangi risiko kanker payudara. Karena, implan KB hanya berisi hormon progestin dan sama sekali tidak mengandung hormon estrogen yang selama ini dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara,” jelas Julianto.

Cara kerja hormon progestin adalah mengentalkan lendir di bibir rahim sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim dan membuahi sel telur. Dengan teknologi tinggi, hormon progestin akan dilepaskan sedikit demi sedikit dari pori-pori batang implant, dengan masa kerja 3-5 tahun.

Keunggulan implan KB adalah sangat mudah dan efektif (99,95 persen), mudah digunakan, kesuburan segera pulih setelah susuk KB diangkat. Aman digunakan pada ibu menyusui. “Efek jangka panjang lain adalah menurunkan risiko kehamilan di luar kandungan,” jelas Julianto. (Foto: Andim)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: