Alasan KB Implan Kurang Populer di Indonesia

POGI terus mendorong penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang seperti implan KB.
, Majalah Kartini | 13/12/2017 - 11:07


MajalahKartini.co.id – Perhimpunan Obstetrik Ginekologi Indonesia (POGI) terus mendorong penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang seperti implan KB untuk meningkatkan keberhasilan program KB di Indonesia. Demikian yang disampaikan dr. Ilyas Angsar SpOG, Ketua Kelompok Kerja Keluarga Berencana dan Abortus.

“Program POGI yang sudah berjalan sejak tahun 1990 sampai sekarang adalah bekerja sama dengan BKKBN dan Kemenkes melaksanakan pelatihan pemasangan dan pencabutan IUD dan Implan untuk dokter dan bidan di seluruh provinsi serta pelatihan sterilisasi pada wanita dan pria untuk dokter di seluruh provinsi,” kata dr. Ilyas dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Ngobras tentang “Implan Sebagai Alat Kontrasepsi Jangka Panjang yang Aman dan Nyaman” di Jakarta, Senin (11/12). Untuk pemasangan implan, sudah sekitar 50.000 bidan yang dilatih.

Dr. Julianto Witjaksono SpOG Konsultan Fertilitas dan Endokrinologi dan Reporduksi, dari Rumah Sakit Universitas Indonesia menjelaskan bahwa alasan di balik kurang populernya implan di Indonesia. Terkait harga yang mahal, sebenarnya ada kesepakatan global yang didanai Bill and Melinda Gates Foundation menetapkan harga sama yaitu 8,5 dolar, belum termasuk biaya masuk dan distribusi, untuk implan satu batang.

“Sayangnya kita di Indonesia belum secara optimal mengikuti kesepakatan itu. Di Indonesia implan yang digunakan adalah dua batang dengan harga sekitar 275 ribu rupiah, padahal harga implan satu batang dibawah harga tersebut. Namun, kebijakan penggunaan implan ini bukan dibawah kewenangan POGI,” jelasnya.

Target akseptor KB baru di Indonesia setiap tahun adalah 9 juta dengan dana sekitar 375 miliar untuk pil dan suntik KB, IUD dll. Dengan dana yang sama, jika menggunakan implan maka hanya akan dicapai 1 juta peserta. “Kami di POGI tetap merekomendasikan implan (satu batang) sebagai alat kontrasepsi jangka panjang mengingat tingkat pendidikan mayoritas akseptor KB di Indonesia masih rendah sehingga kegagalan dengan pil dan suntik masih tinggi,” ujar mantan Deputi KB di BKKBN ini.

Dr Ilyas menambahkan, POGI berharap era kejayaan implan seperti di era Orde Baru dapat kembali lagi. “Dulu bahkan Jakarta pernah menjadi pusat pelatihan Internasional untuk pemasangan dan pencabutan Implan. Tetapi di era reformasi popularitas implan menurun drastis karena harga implan yang mahal,” jelasnya. (Foto: Andim)

Tags: , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: