Faktor Ekonomi Dinilai Jadi Pemicu Kekerasan pada Anak

Persoalan ekonomi masih dinilai sebagai salah satu pemicu kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga.
, Majalah Kartini | 14/02/2018 - 18:02

MajalahKartini.co.id – Kasus kekerasan yang akhir-akhir ini makin santer diberitakan membuat banyak masyarakat resah. terlebih kekerasan tersebut justru dilakukan di rumah sendiri oleh orang-orang yang terdekat dan disayangi.

Salah satu keresahan tersebut datang dari seorang ibu muda bernama Jessyana. Menurutnya, ia merasakan emosi yang tak bisa tertahankan mendengar kekerasan pada anak. “Saya malah jadi marah-marah sendiri sambil mikir keras kenapa bisa ada orang tua yang seperti itu, kalau marah melampiaskan ke anak,” ungkap perempuan berusia 34 tahun ini.

Jessy mengaku, pernah terjadi di lingkungan tempat tinggalnya, orang tua yang melakukan keekrasan pada sang anak. “Saya pernah mau menolong anak itu tapi langsung ditarik mamanya dan pintu dikunci padahal anak teriak minta tolong,” ucapnya sedih.

Kadang, lanjut Jessy, kita tidak bisa berbuat banyak juga, “Saya sempat mau laporin ke RT eh malah tidak boleh sama tetangga lainnya. Karena makin kita tolong anaknya makin disiksa jadi kadang kita tidak bisa berbuat sesuatu, meskipun sedih,’ ucapnya.

Ia merasa miris sekali, apalagi sekarang makin banyak kekerasan dalam rumah tangga dengan anak menjadi korban, padahal sebenarnya masalahnya ada pada orang tuanya tapi kebanyakan salah satu dari mereka ada yang tertekan, entah istri atau suami jadi pelampiasannya ke anak.

Sementara itu, Lilis Setyaningsih seorang ibu yang bekerja sebagai karyawan swasta juga merasakan hal yang sama. “Saya sedih dan marah, misalnya di daerah tempat tinggal saya ada kejadian kekerasan maka saya akan segera lapor ke Pak RT atau orang yang dituakan,” ucap perempuan berusia 45 tahun ini. Sangat menyedihkan karena orangtua yang seharusnya memberikan tempat yang aman justru jadi tempat menyeramkan buat anak sampai- sampai anak itu tidak merasakan dunia lebih lama.

Ketika mendengar ada kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan orangtua Lilis merasa sedih dan marah. “Apabila terjadi di lingkungan saya maka saya segera lapor ke pak RT atau orang yang dituakan,” imbuhnya. Namun, lanjut Lilis, ia akan berusaha mencari tahu dulu permasalahannya kalau bisa bantu akan dibantu.

Di sisi lain, Psikolog Klinis Denrich Suryadi mengatakan jika pada dasarnya masyarakat Indonesia itu penuh belas kasih atau full compassion. “Sayangnya sejauh ini tidak banyak layanan akses bagi pelaku atau korban untuk bercerita atau konseling persmalahan keluarga yang mereka alami,’ ucap relationship expert ini.

Selama ini, banyak pasangan suami istri yang melakukan konseling kecenderungannya adalah larena masalah sosial ekonomi.”Persoalan ekonomi dalam rumah tangga yang tidak selesai ditambah tidak ada akses untuk bercerita maka ujung-ujungnya ya pelampiasan. Entah itu ke anak, ke suami atau pun ke istri,” ucap Denrich yang ditemui di Jakarta, Rabu (14/2). (Foto:rdasa.com.au&deccancronchle)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: