Ternyata Kekeliruan Ini Pemicu Rendahnya Literasi Keuangan

Tingkat literasi keuangan perempuan Indonesia hanya sebesar 25 persen.
, Majalah Kartini | 03/11/2017 - 19:04

MajalahKartini.co.id – Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada tahun 2016 tingkat literasi keuangan perempuan Indonesia hanya sebesar 25 persen. Dibandingkan laki-laki yang memiliki tingkat literasi lebih tinggi sebesar 33 persen. Padahal sebenarnya, mayoritas pengelola keuangan rumah tangga terbesar yaitu perempuan.

“Mayoritas perempuan bertugas mengelola keuangan rumah tangga, hanya saja ada beberapa kekeliruan yang sering dilakukan karena kurang memahami manajemen keuangan dengan baik,” tutur Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia, Harianto Gunawan.
Menurutnya ada beberapa kekeliruan yang sering dilakukan yaitu:

1. Tidak menentukan tujuan keuangan
Banyak orang tidak mempunyai tujuan keuangan dan cenderung langsung menghabiskan uang yang diterimanya. Sehingga diperlukannya target untuk membuat kita dapat belajar disiplin keuangan dan dapat terhindar dari pengeluaran yang berlebihan.
“Tentukan target seperti, berapa banyak uang yang bisa dibelanjakan, ditabung atau disimpan untuk kebutuhan mendesak,” jelasnya.

2. Tidak memiliki dana darurat yang cukup
Tabungan dan dana darurat tidaklah sama. Dana darurat hanya boleh digunakan sat kebutuhan mendesak atau terjadi kejadian tidak terduga, misalnya ban mobil kempes saat berkendara, harus membeli obat-obatan atau membayar biaya rumah sakit. Uang tabungan biasanya disimpan dan digunakan untuk kebutuhan masa depat yang tidak bersifat darurat seperti membeli gadget baru, membeli mobil baru bahkan menyicil rumah.

3. Tidak berasuransi
Beberapa kalangan masyarakat cenderung meremehkan asuransi, bahkan ragu dan takut berasuransi karena tidak paham. Padahal sebenarnya dengan memilih produk asuransi sesuai kebutuhan dan memahami apa yang ditawarkan dapat membantu kondisi keuangan saat mendesak. “Kita bisa bertanya dan meminta saran dari orang lain terkait masalah asuransi, kita juga perlu memahami apa yang kita butuhkan sehingga dapat memilih produk asuransi yang tepat,” tuturnya.

4. Tidak menabung untuk masa tua
Banyak sekali masyarakat khususnya pekerja muda yang menganggap tabungan dan perencanaan masa tua sebagai sesuatu yang dapat ditunda. Padahal perubahan tren dan harapan hidup dalam berkeluarga menuntun perlunya perencanaan masa tua yang lebih baik dan besar. Sehingga menabung dan merencanakan masa tua lebih awal akan lebih menguntungkan disaat sudah lanjut usia. (Cindy/Foto: Thinkstock)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: