Melek Finansial Hindari Sial

Perempuan memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan, lalu apa yang bisa dilakukan agar perempuan mampu memahami ilmu mengelola keuangan?
, Majalah Kartini | 02/01/2018 - 15:03

Sale up 80 %
Promo ongkir gratis
Buy one get one free
Midnight sale

MajalahKartini.co.id –  Ketika kita jalan-jalan ke pusat perbelanjaan baik di gerai maupun toko daring, tentu promo-promo menggiurkan itu tak asing lagi kita lihat. Bahkan, cenderung menggoda kita untuk euphoria dan ikut menjadi salah satu konsumennya. Belum lagi jika di dompet kesayangan kita terdapat deretan kartu kredit yang juga memanggil untuk dipakai. Ah, kan bayarnya bisa nanti, demikian bisikan yang kerap kita dengar.

Merujuk pada acara “Online Shopping Outlook” di Jakarta beberapa waktu lalu, perempuan menempati persentase terbesar dari konsumen belanja online, yakni sebesar 53 persen dengan demografi usia antara 18-30 tahun. Produk yang terjual dan paling banyak dibeli juga seputar kebutuhan pakaian yaitu sebanyak 41 persen, disusul kebutuhan lainnya yaitu 40 persen.

Banyak yang mengatakan perempuan sangat pintar dalam mengelola keuangan, namun ada juga yang justru mengatakan karena perempuan banyak keinginannya maka terkesan boros dan menghamburkan uang. Lantas apa kelemahan yang terjadi jika pengelolaan keuangan dipegang oleh perempuan. Stigma yang melekat antara lain: boros belanja, mengutamakan emosi, skala prioritas rendah, tak ada inisiatif, menyepelekan hal-hal kecil, lemah melihat iklan dan kurang responsif.

Sayangnya sebagian perempuan seringkali membeli barang dan berbelanja dengan uang yang sebenarnya tidaklah banyak. Selain itu barang yang dibelipun bukan barang yang penting atau kategori kebutuhan. Karena hal inilah yang membuat perempuan terkendala dalam mengelola keuangan. Ditambah streotype sifat yang boros dan tidak bisa memilah mana yang kategori kebutuhan mana yang termasuk keinginan.

Sebagian perempuan rata-rata mengelola uang sesuai dengan adanya dan tidak mengembangkannya. Padahal hal ini sangat dibutuhkan oleh lelaki. Misalnya perempuan punya inisiatif untuk usaha, bisnis dan membantu sang suami. Sehingga uang dan pemasukan bisa bergulir dengan baik. Sayangnya masih banyak perempuan terlalu apatis dan cenderung untuk melakukan hal tersebut karena memang ingin memiliki uang untuk diri sendiri. Bukan untuk mengembangkan uang tersebut agar bisa mendapat pemasukan untuk memenuhi kebutuhan dan menambah keuangan keluarga.

Hal itu dikuatkan oleh survey dari Otoritas Jasa Keuangan (OJ) pada tahun 2016 yang menyatakan jika tingkat literasi keuangan perempuan hanya sebesar 25%, sementara laki-laki memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi yaitu sebesar 33%. Padahal 75% urusan keuangan rumah tangga dikelola oleh perempuan, sehingga perempuan merupakan sosok yang lebih berperan dalam menyampaikan pendidikan literasi keuangan kepada anak, pekerja rumah tangga, maupun anggota keluarga lainnya.

Selain produk keuangan umum yang selama ini kita kenal, ternyata ada pula bank dan jasa keuangan juga memiliki produk keuangan yang khusus menargetkan kaum perempuan. Tentunya hal tersebut bukannya tanpa alasan. Apalagi dewasa ini jumlah perempuan karier semakin meningkat setiap tahun. Karena itu, mereka semakin gencar untuk mengeluarkan produk keuangan sebagai contoh tabungan khusus perempuan. Sebut saja BII Women One dari BII, Asuransi Wellwoman dari ACA, dan ANZ Femme Visa kartu kredit khsus perempuan.

Belum lagi jika bicara soal investasi, masih jauh panggang dari api. Masih ada perempuan yang mengelola dan menggunakan uang karena memang kebutuhan dan apapun yang di depan mata, bukanlah yang di masa depannya nanti. Maka tak asing kita dengar jika ada perempuan yang mengetahui lelaki menyimpan uang untuk investasi jangka panjang dengan nominal yang besar, mereka keberatan.

Padahal, investasi jangka panjang sangatlah penting untuk keadaan keuangan anda di masa yang akan datang. Jadi ketika butuh uang di masa selanjutnya terutama jika mendadak, maka dana investasi itu bisa dimanfaatkan. Trusting atau ketidakpercayaan bagi beberapa perempuan memicu mereka untuk tidak tertarik dengan investasi.

Agaknya fakta di atas juga menjadi kegelisahan seorang ibu muda, Dwi Nur Avi yang mengaku bahwa ia tak memiliki metode khusus dalam soal pengaturan keuangan keluarga. “Karena tidak pakai metode khusus ya jadinya berantakan gitu keuangan, yang penting saat ini ada uang, urusan selanjutnya ya dipikir nanti,” ujar ibu dua anak ini.

Ia juga mengamini bahwa kelemahannya adalah cenderung boros dan kurang berinisiatif untuk perencanaan keuangan masa depan. “Padahal pengen juga sih ikut investasi atau reksadana gitu tapi gak paham, paling cuma nabung kecil-kecilan di koperasi kantor,” ujar perempuan kelahiran 30 Juni 1985 ini.  Sementara itu, Ina Puspita mengatakan bahwa ia masih menerapkan metode cashflow sederhana, yaitu mendahulukan yang wajib dan priritas. “Jangan lupa juga menyisihkan dana untuk hal-hal tak terduga,” tambahnya.

Lain dengan Indra Yanti, ia sudah mulai mengikuti salah satu produk keuangan di bank berupa tabungan berjangka yang langsung dipotong ke rekening debet. “Rata-rata saya ambil per 5 tahun dan kalau sudah cair untuk beli logam mulia,” ujarnya. Sampai sejauh ini Indra belum pernah mengalami kejadian tak menyenangkan terkait tabungan berjangka. Ya, semoga saja tidak, tapi memang mengatur keuangan itu penting banget, selama ini saya lebih banyak mengalir sesuai dengan kebutuhan,”ungkapnya.

Jeany Mega Sari juga punya cara sendiri untuk mengelola keuangan, ia dan suami menentukan tingkatan prioritas, pertama bayar hutang dan zakat, kedua untuk kebutuhan hidup, ketiga untuk tabungan dan investasi. “Untuk poin kedua saya masih pakai sistem konvensional yaitu pakai amplop sesuai pos kebutuhan,” ujarnya ibu dua anak ini. Karena kurang pengalaman, ia baru saja mengalami gagal dalam memilih instrumen investasi. “Untung cepat ketahuan jadi sudah bisa di-cut,” ungkapnya. Jeany merasa penting belajar mengelola keuangan bersama, tapi sang suami justru menyerahkan penuh pengaturan keuangan padanya.

Tak jauh berbeda dengan Jeany, sejauh ini Lia juga tak menggunakan metode khusus dalam hal pengelolaan keuangan meski ia mengaku sangat penting mempelajarinya.“Masih agak ribet nih, tapi untuk rekening tabungan dipisah, rekening buat kebutuhan sehari-hari juga demikian. Saya mengalokasikan untuk zakat, belanja harian, belanja bulanan, untuk orang tua dan mertua, untuk acara undangan dan lainnya,” tambah Lia. Uniknya, Lia juga punya tips khusus soal pemilihan produk keuangan berupa tabungan. ‘Saya pilih rekening tabungan yang bebas biaya administrasi dan lokasi yang jauh dari rumah dengan pertimbangan agar tabungan aman tidak sering diambil-ambil,” kelakarnya.

Sri noviarni, seorang ibu rumah tangga sekaligus karyawan selama ini juga mengatur keuangan secara manual saja. “Alokasi pertama untuk kebutuhan bulanan yg tetap. Lalu alokasi kedua untuk kebutuhan yang sifatnya tidak terduga. Sisanya baru untuk keperluan tabungan,” ujarnya.

Meski ia merasa pengelolaan keuangan keluarga hal yang penting, tapi sejauh ini ia hanya menerapkan untuk keperluan rumah tangga. “Dari sini kita bisa mengatur keuangan sesuai kebutuhan. Intinya tidak besar pasak daripada tiang. Produk keuangan yang saya miliki hanya tabungan. Kalo suami ambil unit link. Alhamdulillah sejauh ini tidak merasakan kegagalan,” tambahnya.

Agaknya metode cashflow sederhana masih digemari beberapa perempuan, pun dengan Haryani Poncowati. Sampai hari ini ia masih membangi keuangan dalam beberapa pos, untuk kebutuhan sehari-hari, sedekah, menabung dan bayar hutang. “ Ya penting sih belajar soal keuangan, karena saya masih pakai metode konvensional sejauh ini sih aman belum pernah gagal, paling saya hanya nabung di bank dan asuransi pendidikan untuk anak,” ujarnya.

Lain cerita dengan Liswanti, karena ia memahami tidak akan tahu apa yang akan terjadi di depan sana, ia memutuskan untuk serius belajar mengelola keuangan. “Dulu sebelum punya anak saya sangat boros sekali, sehingga pertengahan bulan gaji sudah habis. Kemudian saya berpikir, kalau terus seperti ini, bagaimana nanti punya anak, bagaimana kalau saya atau suami sakit. Segala hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi di depan sana,” ucap member Komunitas Emak-Emak Blogger ini.

Maka dari itu Liswanti merasa sebagai perempuan dan ibu yang mengatur keuangan penting sekali untuk melek finansial. Bagaimana mengatur dan mengelola keuangan dengan bijak, supaya keluarga selalu bahagia hingga bisa merencanakan keuangan keluarga di masa depan dengan baik.  “Dengan melek finansial, saya semakin paham bagaimana mengatur uang sehingga tercukupi sampai akhir bulan, sehingga saya sudah tidak tergoda hal-hal yang tidak penting, seperti belanja yang ada promo atau membeli kebutuhan yang tidak penting. Karena prioritas utama saya saat ini adalah masa depan anak-anak. Jadi lebih semakin menahan diri sih,” ucap perempuan yang memiliki hobi menulis ini.

Liswanti merasa bersyukur sejauh ini pengaturan keuangan berjalan baik. Sejak 6 tahun lalu, ia sudah terbiasa mencatat semua pengeluaran, membuat dana tidak terduga, hingga membuat tabungan khusus untuk masa depan anak-anak. “Kebetulan saya menggunakan produk keuangan dari 2 bank. Soalnya penting banget buat saya dalam mengatur keuangan. Kalau kegagalan alhamdulillah belum pernah, jangan sampai deh hehe. Soalnya sebelum menggunakan sebuah produk keuangan, biasanya saya mencari informasi terlebih dahulu di internet, atau bahkan bertanya kepada teman-teman yang pernah menggunakan supaya informasi yang saya dapatkan juga lengkap. Bisa jadi perbandingan,” tambahnya.

Pengalaman mengatur keuangan menarik lainnya dijelaskan oleh Ika Nur Subandi. Ia bersama suami menerapkan sistem tahap dalam anggaran keuangan keluarga. Dimulai dari tahap 1, tahap 15, dan tahap 25 berdasar cairnya keuangan. “Tahap 1 lebih besar karena semua biaya termasuk biaya cicilan rumah dan sekolah anak-anak yang hampir kebanyakan semua dibayar di awal bulan. Lalu tahap 15 yakni sisa dari anggaran kebutuhan rumah, dan disusul tahap 25 juga dilanjutkan dengan keperluan kebutuhan rumah tangga,” paparnya detail.

Ika mengaku awalnya memang sedikit ribet, tapi saat dijalani ternyata tak se-ribet yang dibayangkan, sekarang ia merasa lebih nyaman dengan metode ini yang memudahkan mereka menjaga dana agar tak bocor terus menerus di awal bulan dan menjaga pos-nya sampai akhir bulan. Sebelumnya dana harus dibagi-bagi dulu pada pos pengeluaran, mana yang masuk tahap 1, tahap 15 dan tahap 25, setelah itu baru dijumlah pengeluarannya. “Alhamdulillah sekarang masih sisa di akhir bulan, jadi bisa beli bonus untuk anak-anak saat prestasi harian mereka bagus,” ucapnya.

Soal investasi, Ika juga pernah mengikuti, tapi saat ini ia memutuskan untuk tidak ikut dulu inestasi, melainkan ia menyuburkan zakat dan sedekah di rumah, dan menyediakan kencleng sebagai media pengingat. Kendati demikian, Ika merasa penting belajar pengelolaan keuangan bersama suami agar bisa salinterbuka dan tujuan mudah dicapai.

Tentukan Tujuan Mengelola Keuangan

Bicara mengenai tujuan dalam perencanaan keuangan keluarga memang syarat mutlak. Hal itu dikatakan oleh Andreas Hartono. Bicara soal keuangan dan investasi, bagi Andreas harus punya tujuan jelas dulu, untuk jangka pendek atau jangka panjang.  Dalam memahami cashflow management, setiap kali mendapat pemasukan maka alokasinya adalah: 10 % untuk tabungan, 40% untuk keluarga, 20% untuk pribadi dan 30 % jika memiliki cicilan.

Skema cashflow tersebut menjadi dasar dalam mengelola keuangan dalam keluarga. Tak berhenti sampai di situ, dana darurat atau emergency fund minimal sebanyak tiga kali pendapatan, misal pendapatan 5 juta ya dana darurat sebanyak 15 juta di luar dana tabungan, asuransi dan investasi.

Andreas juga memaparkan bahwa dalam keluarga terdiri dari suami dan istri, bisa diilustrasikan bahwa suami sebagai supir yang memegang kemudi atau mencari nafkah, sementara istri sebagai kondektur yang mengatur distribusi keuangan. Keduanya bisa berjalan secara bersama-sama, tidak bisa sendiri-sendiri.

Masalah keuangan yang paling sering diceritakan pada Andreas selama ini adalah, kebanyakan dari mereka tidak mempunya tujuan finasial yang terarah. “Bagaimana bisa mengelola kalau awalnya tak punya tujuan. Misalnya bagaimana merencakan pendidkan anak, kebanyakan masih bingung investasi apa yang mesti dilakukan. Misal nih kalau buat pendidikan bisa pakai reksadana, kadang ada uang tapi tidak ada tujuan ya sama saja,” ujarnya saat ditemui usai mengisi acara seminar Literasi Keuangan di Yogyakarta, Sabtu (14 Oktober 2017)

Saat ini masih ada anggapan bahwa perempuan tergolong rendah dalam literasi keuangan. Dulu mungkin iya perempuan cenderung belum detail dalam mengenal produk keuangan, bahkan ditsigma boros. “Namun bagi saya dengan kondisi saat ini sudah sama saja ya, sama-sama berpotensi boros. Kalau laki-laki boros di gadget atau otomatif mislanya, sementara perempuan lebih ke penampilan,” ungkapnya.

Namun, benarkah ada perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan dalam urusan pengelolaan keuangan keluarga? Psikolog Klinis Ratih Ibrahim mengatakan semestinya jika menggunakan pedoman keuangan secara umum, tidak ada perbedaan yang signifikan secara gender dalam pengelolaan keuangan.“Yang membuat berbeda adalah kebiasaan dan belief masing-masing saja. Apakah ia model yang cenderung maunya main aman, atau yang model berani ambil risiko lebih tinggi,” ujar CEO & Founder Personal Growth – counselling & people development center ini.

Sebab, lanjut Ratih, dalam masyarakat kita ada kebiasaan bahwa perempuan diposisikan sebagai pihak yang lebih pasif secara keuangan, money spender ketimbang pencari uang, membuat perempuan cenderung lebih gagap dalam pengaturan keuangan yang lebih makro. Pemosisian perempuan yang lebih dominan di sektor domestik juga membuat perempuan terbiasa dengan pengaturan keuangan yang mikro – untuk belanja sehari-hari pemenuhan kebutuhan RT, dan masih banyak lagi. Pengambilan keputusan keuangan yang lebih strategik, jumlah uangnya besar dipegang oleh pasangannya.

Terlepas dari benar atau tidak, namun baik perempuan maupun laki-laki memiliki kelemahan dalam mengelola keuangan. Semua kembali pada masing-masing pihak dan kebijaksanaan mereka dalam mengatur uang dalam hidup. Namun jika berkaca di zaman sekarang banyak perempuan yang sudah sangat pintar, mandiri secara keuangan, dan melek pengetahuan tentang pengelolaan keuangan. “Saya melihat jadi lebih jago melakukan tidak hanya dalam pengaturan keuangannya sendiri, namun juga mampu terlibat dalam perencanaan dan pengaturan keuangan yang lebih strategik. Semisal, memilih asuransi, leasing company, maupun melakukan perencanaan investasi keuangan,” tandasnya.

Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia, Harianto Gunawan membenarkan bahwa kekeliruan dalam mengelola keuangan sering dilakukan baik oleh perempuan maupun laki-laki, lantaran mereka memang belum memahami manajemen keuangan yang baik. Kekeliruan tersebut antara lain: tidak menentukan tujuan keuangan, tidak memiliki dana darurat yang cukup, tidak berasuransi, dan tidak menabung untuk masa tua.

“Masih banyak masyarakat yang tidak punya tujuan keuangan dan cenderung langsung menghabiskan uangnya. Namun, saat kita dapat menentukan target, kita akan belajar menjadi disiplin keuangan sejak dini dan dapat terhindar dari pengeluaran yang berlebihan. Disiplin sangatlah penting; kita harus menetukan target seperti: berapa banyak uang yang bisa dibelanjakan, ditabung, atau disimpan untuk kebutuhan mendesak,” paparnya.

Penting untuk diketahui bahwa tabungan tidak sama dengan dana darurat. Dana darurat hanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan uang darurat akibat kejadian yang tidak terduga, misalnya ban mobil kempes saat berkendara di daerah perkampungan, atau ketika harus membeli obat-obatan darurat. Uang tabungan biasanya disimpan dan digunakan untuk kebutuhan masa depan yang tidak bersifat darurat, misalnya untuk membeli gadget baru.

“Beberapa kalangan masyarakat cenderung meremehkan asuransi, atau ada pula yang ragu dan takut berasuransi karena tidak terlalu paham. Kita perlu memahami kondisi keuangan dan kita perlu memilih produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan. Sebelum memilih produk asuransi, kita perlu benar-benar memahami apa saja yang ditawarkan oleh sebuah produk asuransi dan kita juga bisa bertanya dan meminta saran dari orang lain yang lebih paham masalah asuransi,” urainya,

Kebanyakan masyarakat, khususnya pekerja muda, menganggap tabungan dan perencanaan masa tua sebagai sesuatu yang bisa ditunda. Banyak juga yang berpikir bahwa perencanaan masa tua dapat dilakukan dengan cepat. Namun, meningkatnya harapan hidup dan perubahan tren dalam berkeluarga menuntut kita untuk melakukan perencanaan masa tua yang lebih baik dan lebih besar. Menabung dan merencanakan masa tua lebih awal merupakan hal yang bijak dan dapat menguntungkan kita disaat kita sudah lanjut usia.

Visa baru saja mengakhiri rangkaian acara workshop edukatif yang membahas beragam hal tentang pengelolaan keuangan rumah tangga yang merupakan bagian dari program Literasi Keuangan #IbuBerbagiBijak 2017. Dalam program ini, mereka mengundang komunitas perempuan yang juga aktif dalam menulis dan menghadirkan financial educator ternama.

Selain itu, pihaknya juga mengadakan berbagai kegiatan menarik lainnya dan kompetisi agar dapat mendorong perempuan untuk menge-post, menulis, dan membuat konten seputar masalah keuangan dan solusinya. “Kami juga membuat akun @IbuBerbagiBijak di Instagram yang berisikan konten seputar berbagai masalah keuangan yang menarik, tips tentang manajemen keuangan, dan hal menarik lainnya,” tambah Harianto.

Sejalan dengan visi dan misi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Harianto melihat tingkat literasi keuangan masyarakat masih rendah, itu sebabnya melaksanakan program edukasi literasi keuangan dalam rangka menumbuhkan kesadaran masyarakat agar mampu mengelola dan membelanjakan uang sangatlah penting. Hal inilah yang menjadi pendorong untuk melaksanakan program Literasi Keuangan #IbuBerbagiBijak agar masyarakat, terutama para perempuan mendapatkan pengetahuan, kemampuan, bekal dalam hal keuangan rumag tangga dan membagikan pengetahuan mereka kepada orang-orang sekitar agar masyarakat dapat hidup lebih sejahtera.

“Kita perlu benar-benar memahami kebutuhan kita dan tujuan akhir mengapa kita menggunakan produk keuangan tersebut. Menabung dapat membantu kita dalam mencapai tujuan keuangan yang sudah kita tentukan, misalnya untuk membayar biaya sekolah, membayar DP rumah, membeli mobil baru, atau gadget lainnya, semua ini bisa tercapai hanya dengan menyisihkan uang secara perlahan. Dengan tabungan, kita memiliki kebebasan dan fleksibilitas dalam mencapai tujuan keuangan kita dan dapat membantu membentuk kebiasaan keuangan yang baik untuk masa depan,” terangnya.

Salah satu peserta kegiatan #IbuBerbagiBijak, Liswanti mengatakan banyak sekali imu yang saya dapatkan, terutama dalam hal berinvestasi. “Mengingat saya memiliki keinginan untuk mewujudkan mimpi anak-anak di masa depan, tentu butuh dana yang tidak sedikit. Investasi saya kira cukup satu atau 2 jenis saja, semakin banyak malah semakin baik. Bisa dilihat juga dari jangka waktu, misal untuk memenuhi kebutuhan di jangka pendek cocoknya investasi apa saja,” ujarnya.

Ibu dua anak ini jadi paham betul bagaimana membuat anggaran rumah tangga yang benar, tidak asal. “Kita harus tahu prioritas mengelola arus kas dengan baik, sampai membuat anggaran bulanan dan musiman. Termasuk membuat checklist bulanan, supaya hal-hal yang penting yang kita prioritaskan. Bukan itu saja kita juga harus terbiasa menabung dahulu baru membeli ketika menginginkan sesuatu, bukan beli dulu baru cicil kemudian,” tambahnya.

Liswanti mengaku banyak yang berubah cara pandangnya setelah belajar mengelola keuangan. “Sebelumnya saya kan tidak pernah melakukan financial check up untuk mengetahui seberapa sehat keuangan saya, bahkan tidak tahu berapa persen idealnya anggaran yang dikeluarkan keluarga seperti untuk investasi, biaya hidup dan lainnya,’ ujar Liswanti yang berdomisili di Jakarta ini.

Sekarang, ia mulai menerapkan sedikit demi sedikit dalam kehidupan rumah tangganya. “Supaya apa yang ingin saya inginkan untuk keluarga di masa depan bisa terwujud. Jadi semangat untuk berinvestasi. Dan yang pasti bisa memulai segala sesuatu atau menginginkan sesuatu dengan merencakan keuangan secara benar dan bijak,” ucapnya. (Foto: Ecka Pramita/Doc Pribadi/Ilustrasi)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: