2018, Tahun Tepat untuk Berinvestasi

Kondisi perekonomian diprediksi akan membaik dengan diikuti membaiknya tingkat konsumsi masyarakat.
, Majalah Kartini | 11/01/2018 - 10:09


MajalahKartini.co.id – Tahun 2017 baru saja dilalui dengan berbagai situasi yang cukup dinamis dan penuh tantangan, baik di dunia, maupun di Indonesia. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan membaik. Hal itu didukung dengan membaiknya perdagangan global dan pelonggaran kebijakan fiskal Amerika Serikat (AS). Meski demikian, ada beberapa risiko yang perlu diwaspadai.

Pertumbuhan ekonomi global yang membaik juga dapat menjadi katalis positif untuk ekonomi Indonesia. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang dicanangkan Pemerintah, dinilai cukup realitis dan dapat tercapai. Namun, dengan catatan, pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia terjaga pada 2018.

Hal ini dapat ditopang berdasar sentimen-sentimen positif yang sudah ada, contohnya dari pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat yang menunjukkan tren positif sebagai sentimen eksternal. Dari internal, momen pemilihan kepala daerah (pilkada) di 17 provinsi pada 2018 diharapkan dapat mendongkrak daya beli masyarakat.

”Belum lagi sekitar 100 lebih daerah juga akan melaksanakan pemilihan Kepala Daerah. Ini Iebih besar dari Pilkada serentak 2017 lalu. Ada tiga Provinsi besar yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur yang populasi 30-40 persen dari total masyarakat Indonesia. Ini juga diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat di 2018,” ujar Teddy Oetomo Head of Intermediary PT Schroders Investment Management Indonesia pada media workshop di Jakarta, Rabu (10/1).

Teddy menambahkan, tekanan ekonomi dalam negeri di tahun depan, akan Iebih disebabkan faktor eksternal seperti risiko geopolitik. Kalau dari dalam negeri, Teddy melihat ekspor-impor dalam posis yang cukup baik dan likuiditas perbankan juga dalam keadaan yang cukup. Rasio utang Indonesia pun merupakan paling rendah dibandingkan banyak negara lain di dunia.

Momentum perekonomian yang membaik ini harus dijadikan peluang untuk berinvestasi. Namun perlu diingat, dalam berinvestasi harus memperhatikan bentuk investasi dan profil risiko dari masing-masing.

Head of Wealth Management and Retail Digital Business Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan bahwa dalam merespon kebutuhan investasi nasabah di era ekonomi digital, Bank Commonwealth berkomitmen mendampingi Nasabah dalam meningkatkan kesejahteraan finansialnya melalui perbankan digital salah satunya dengan Dynamic Model Portofolio yang merupakan benefit dari Premier Banking.

Dynamic Model Portfolio merupakan sebuah konsep investasi yang tidak hanya fokus pada perpaduan kelas aset berdasarkan profil risiko Nasabah, namun juga berdasarkan risiko pasar. “Kami mengambil pendekatan portofolio yang menyeluruh dengan berbagai solusi dan produk yang dirancang sesuai tujuan Iinansial,” jelas Ivan.

Dynamic Model Portfolio akan mengumpulkan berbagai informasi pasar, memilah mana yang paling relevan untuk setiap nasabah berdasarkan profil risiko dan tujuan investasi mereka, kemudian memberikan saran terkait penempatan portofolio aset-nya. ”Nasabah pun dapat menggerakkan asetnya secara dinamis, tidak harus sama dengan proporsi investasi yang ditentukan di awaI. Melalui Dynamic Model Portfolio, kami ingin meIayani Nasabah kami dengan layanan wealth management yang mampu membantu mereka memahami realita pasar yang dinamis daripada hanya statis terpaku pada teori semata,” kata Ivan. (Foto : ilustrasi)

Tags: , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: