Dukungan Negara Sangat Penting bagi Pengusaha Perempuan

Negara-negara maju di Asia Pasifik menyediakan dukungan yang lebih kondusif bagi pengusaha perempuan.
, Majalah Kartini | 20/09/2016 - 12:00

MajalahKartini.co.id – Menurut penelitian Mastercard mengenai Women’s Entrepreneurial Index, negara-negara maju di Asia Pasifik menyediakan dukungan yang lebih baik bagi para pengusaha perempuan untuk mencapai kesejahteraan. Salah satunya seperti peluang yang untuk memperoleh aset pengetahuan yang lebih maju dan akses menuju layanan keuangan dibandingkan dengan negara-negara berkembang.

Indeks tersebut juga menunjukkan bahwa negara-negara yang menyediakan kondisi yang lebih baik bagi para pengusaha perempuam akan mendorong munculnya pengusaha bertipe Opportunity Entrepreneurs (pengusaha yang mempunyai keinginan untuk berkembang) lebih banyak, sementara negara-negara dengan kondisi pendukung yang kurang kondusif cenderung untuk lebih menghasilkan pengusaha bertipe Necessity Entrepreneurs (dimana bertahan hidup adalah faktor utama yang mendasari aktivitas pengusaha dengan tipe ini).

Secara keseluruhan, Selandia Baru menempati posisi pertama (53,9) dalam Indeks tersebut, disusul oleh Australia (51,7) dan Thailand (50,9). Sebaliknya, India (33,3), Sri Lanka (32,7) dan Bangladesh (27,0) memiliki skor keseluruhan yang paling rendah. Hal ini menunjukan bahwa kondisi untuk mendorong dan membantu perkembangan wirausaha perempuan merupakan hal yang paling sulit di negara-negara tersebut.

“Kita telah mencapai tingkatan di mana kita telah menyadari pentingnya peran perempuan dalam pembangunan sosial ekonomi di masyarakat. Terlebih di negara-negara berkembang, inklusi ekonomi yang lebih besar dari kaum perempuan dapat membawa perubahan penting dalam perbaikan ekonomi,” ujar Senior Vice President Communications Asia Pacific Mastercard, Georgette Tan.

“Meskipun demikian, kita masih memiliki perjalanan yang cukup panjang untuk mengubah kesadaran tersebut menjadi inklusi ekonomi yang nyata dengan menghilangkan peran gender yang tradisional dan kuno yang sangat melekat pada masyarakat, budaya dan kebiasaan,” lanjutnya.

Georgette juga menambahkan, pihaknya harus menghargai dan menyebarkan cerita tentang berbagai kesuksesan dari pengusaha perempuan dan melakukan upaya yang lebih terarah untuk mengembangkan kondisi yang lebih mendukung perkembangan calon pengusaha perempuan.

“Hal ini memerlukan sebuah usaha bersama dari pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), masyarakat dan sektor swasta lainnya, namun yang lebih penting ialah kepercayaan diri dan kemauan dari para wanita untuk mengambil peran dan risiko terkait dengan kewirausahaan,” tambahnya.

Indeks tersebut mengukur kemampuan pengusaha perempuan untuk memanfaatkan peluang yang diberikan melalui berbagai kondisi yang mendukung di lingkungan setempat yang menjadi jumlah bobot dari dua komponen: “Tingkat Kemajuan (Level of Women’s Advancement) dan Faktor Kewirausahaan (Entrepreneurial Factors)” diarahkan untuk mengukur tingkat preferensi dibandingkan para perempuan yang bekerja atau berprofesi sebagai tenaga kerja, pemimpin politik dan bisnis, serta kekuatan finansial dan kecenderungan wanita sebagai pengusaha).

Dan “Kondisi Pendukung (Supporting Conditions)” (mengukur tingkat akses para wanita untuk memiliki aset pengetahuan dasar dan lanjutan, akses terhadap layanan keuangan mendasar, persepsi perempan terhadap tingkat keamanan dan persepsi budaya terhadap pengaruh keuangan rumah tangga para perempuan tersebut).

Studi ini terdiri dari 10 indikator, yang diukur mulai dari skala 0 (paling buruk) sampai 100 (paling baik). Indeks ini menunjukkan bahwa kewirausahaan perempuan mengalami kemajuan dengan tingkat yang berbeda dan cara yang berbeda di seluruh 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Foto: Pixabay.com)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: