Pentingnya Mengubah Pola Pikir Orangtua

Memberikan nutrisi penting pada anak bukan percaya terhadap mitos.
, Majalah Kartini | 27/12/2017 - 14:14


MajalahKartini.co.id – Ada banyak berita miring, hoaks atau mitos di dunia kesehatan yang bila dicermati secara detail memiliki efek yang buruk di masa depan, baik itu terhadap individu maupun masyarakat luas itu sendiri. Mitos berasal dari banyak hal, dari pengalaman, hingga dari informasi yang salah dari sumber tertentu.

Misalnya dalam kasus susu kental manis (SKM) banyak masyarakat yang masih percaya bahwa SKM bisa menggantikan ASI, atau memiliki tingkat nutrisi yang sama dengan susu. Lalu, ada mitos soal vaksin bisa menyebabkan autisme, yang sebenarnya adalah kesalahan yang fatal, karena tidak terbukti dengan penelitian yang valid.

Berdasarkan teori Roland Barthes dalam bukunya yang berjudul “Mythologies” mengungkapkan bahwa mitos dapat mengubah hal yang bersifat kultural menjadi alamiah dan mudah dimengerti. Mitos yang bermula dari konotasi masyarakat kemudian menjadi hal yang tidak lagi menjadi pertanyaan bagi masyarakat.

Misalnya mitos tentang seseorang duduk di dekat pintu, denotasi sebenarnya adalah hal tersebut bisa mengganggu aktivitas orang lain. Namun dalam mitos, memiliki konotasi bahwa duduk di dekat pintu bisa menjauhi seseorang dari jodoh mereka. Sebuah mitos dapat menjadi sebuah ideologi atau paradigma ketika sudah berakar lama, digunakan sebagai acuan hidup dan menyentuh ranah norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Berdasarkan penjelasan tersebut, tentu kita pun jadi mengerti bahwa mitos atau hoax merupakan pembodohan publik yang bisa mengakar rumput, dan sulit untuk dibantahkan. Untuk itulah, generasi muda saat ini harus lebih bijak memahami berita mana yang benar, sesuai dengan fakta dan  berita yang salah tidak memiliki unsur ilmiah.

Sayangnya, di Indonesia banyak berita hoax yang menjadi acuan dalam mengambil keputusan, terlebih lagi pengambilan keputusan dalam membesarkan buah hati kita. Banyak orang tua yang lupa bahwa anak merupakan calon pemimpin masa depan, anak adalah aset bangsa yang harus dilindungi, diberikan pendidikan yang cukup, dan dirawat dengan baik dan benar.

Dra. Lenny Nurhayanti Rosalin, M.Sc, Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengungkapkan, kasus gizi buruk masih menjadi PR besar pemerintah Indonesia.

Stunting atau gizi buruk identik dengan daerah-daerah di pedalaman, nyatanya banyak kasus yang terjadi di kota-kota besar, bahkan di Ibukota Jakarta, miris bukan? Ada 87 juta anak Indonesia yang harus dilindungi. “Bukan hanya dalam kasus kekerasan pada anak, tapi juga melindungi mereka dari penyakit-penyakit terselubung dan berbahaya. Lenny juga mengungkapkan bahwa kini gadget menjadi perhatian besar KPPPA dalam isu pendidikan orang tua dan anak,” kata Lenny beberapa waktu lalu.

Kata ia, gadget dinilai memengaruhi aktivitas anak, dan berpengaruh pada tumbuh kembang mereka, hingga berakibat pada kesehatan di masa depan. “Kalau anak sudah pegang gadget, mereka jadi lupa dunia mereka. Benar kata psikolog, gadget bisa membuat mereka diam saat rewel,” lanjutnya.

Tapi, kata Lenny itu tidak baik untuk kesehatan psikis dan tubuh mereka. Anak jadi jarang beraktivitas. Ditambah lagi asupan nutrisinya kurang diperhatikan. “Ditambah isu SKM yang masih diberikan ke anak-anak itu, bisa jadi anak-anak memiliki usia yang lebih pendek di masa depan, obesitas yang merupakan kurang gizi terselubung, mengerikan sekali,” ungkap Lenny. (Foto : Andim)

Tags: , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: