Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Penglihatan Bayi Prematur

Standard Chartered Bank bersama Helen Keller International gelar seminar kesehatan mata bayi prematur.
, Majalah Kartini | 01/11/2017 - 13:04

MajalahKartini.co.id -Sebelumnya, tahun 2010, tercatat Indonesia berada di urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia, menurut Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berjudul Born Too Soon, The Global Action Report on Preterm Birth. Angkat kematian bayi serta cacat fisik biasanya terjadi karena bayi yang terlahir prematur (lahir dengan berat kurang dari 1500 gram atau usia kehamilan kurang dari 34 minggu).

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 44 persen kematian bayi di dunia pada 2012 terjadi pada 28 hari pertama kehidupan (masa neonatal), dimana penyebab terbesarnya (37 persen) ialah kelahiran prematur. Biasanya bayi yang terlahir prematur berisiko mengalami gangguan mata Retinopati Prematuritas (ROP). Penyakit ini diduga disebabkan oleh pertumbuhan tidak sempurna dari retina pembuluh darah yang dapat menyebabkan jaringan parut dan operasi pada retina. Gangguan tersebut dapat terjadi dalam skala ringan seperti hilangnya penglihatan secara spontan atau kasus berat seperti kebutaan.

Standard Chartered Bank bersama Helen Keller International (HKI) dan konsorsiumnya (ORBIS), gelar acara seminar kesehatan “Deteksi dan Pencegahan Gangguan Penglihatan pada Bayi Prematur”. Acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini untuk mencegah gangguan penglihatan, khususnya terjadi pada bayi premature dan sebagai rangkaian peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2017.

“Walaupun angka kejadian kebutaan pada anak tidak setinggi dengan kebutaan pada orang dewasa seperti katarak, namun total beban emosional, sosial, ekonomi yang harus dibayar akibat kebutaan anak terhadap keluarga, masyarakat, maupun negara jauh lebih besar dibandingkan beban yang harus dibayar akibat kebutaan pada orang tua,” jelas pakar kesehatan mata anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. Dr. Rita Sita Sitorus, SpM (K), PhD.

Oleh karena itu, Standard Chartered Bank membuat program Seeing is Believing (SIB) yang berfokus pada kampanye penyadaran terhadap pencegahan kebutaan yang dapat dihindari atau disembuhkan. “Kami turut membantu menyadarkan masyarakat akan pentingnya deteksi dini untuk mencegah gangguan penglihatan yang dapat terjadi pada bayi prematur. Sehingga seminar kesehatan ini sekiranya dapat memberikan sumbangsih kecil dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai deteksi dini dan pencegahan gangguan penglihatan pada bayi prematur,” tutur Country Head Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia, Dody Rochadi.
Tidak hanya itu, Standard Chartered Bank juga mengalokasikan dana program SIB untuk mendukung kerjasama HKI dan RSCM dalam merintis sistem penanganan ROP di berbagai rumah sakit umum daerah (RSUD).Sebelumnya pada Mei 2017 lalu, Bank bersama HKI telah menyerahkan satu buah kamera retina mobile, alat untuk memeriksa retina bayi lahir prematur, kepada RSCM, guna mengidentifikasi bayi prematur dengan dugaan ROP dan merujuk pada pengobatan yang dibutuhkan. (Cindy/Foto: Doc.pribadi)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: