Mewaspadai Eksploitasi Seksual Anak di Destinasi Wisata Bukit Tinggi

Kasus-kasus kekerasan seksual dan eksploitasi seksual anak sering terjadi di destiansi wisata termasuk di Bukit Tinggi.
, Majalah Kartini | 11/11/2017 - 12:23

MajalahKartini.co.id – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,(KPP-PA) bekerjasama dengan ECPAT Indonesia melakukan Advokasi dan Sosialisasi di Kota Bukit Tinggi Sumatera Barat pada tanggal 10 November 2017, untuk mencegah terjadinya kekerasan dan eksploitasi seksual anak di destinasi wisata. Dipilihnya Kota Bukit Tinggi sebagai tempat sosialisasi, karena
Bukit Tinggi sekarang telah menjelma sebagai salah satu destinasi wisata bagi para wisatawan baik itu lokal maupun mancanegara.

Acara ini dihadiri oleh Walikota Bukit Tinggi Ramlan Nurmatias dan juga staf khusus menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bapak Albaet. Dalam sambutannya walikota Bukit Tinggi mengingatkan agar masalah ini menjadi perhatian semua pihak. “Kita tidak boleh menutup-nutupi terjadi kasus ini di Bukit Tinggi, karena masalah ini sudah begitu transparan dan sudah begitu mengkhawatirkan, karena itu saya meminta semua pihak agar terlibat dalam penanggulangan masalah. Saya sudah sering mendapatkan laporan tentang terjadinya kasus-kasus kekerasan seksual di Bukti Tinggi,” ungkapnya,

Sementara itu staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengatakan perlu kerja keras dan kerjasama dalam mengatasi masalah ini, ninik mamak dan bundo kanduang perlu terlibat dan diberikan pengetahuan soal ini. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Bukit Tinggi, menargetkan bahwa di 2017 ini kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara sampai 600.000 ribu pengunjung. Dengan tingginya target kunjungan wisatwan ke daerah Bukit Tinggi, menunjukan bahwa Kota Bukit Tinggi menjadi salah satu target wisatawan yang akan datang ke Sumatera Barat.

Badan Pusa tStatistik (BPS) Sumatera Barat menjelaskan terjadi peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Sumatera Barat pada bulan Juli 2017, dan mengalami kenaikan sebesar 38,78 persen. Selain itu tingkat hunian hotel pun juga ikut meningkat dan daerah yang paling besar peningkatannya adalah Kota Bukit Tinggi.

Dengan terbukanya Kota Bukit Tinggi sebagai daerah pariwisata tentunya akan mendatangkan dampak yang positif dan negatif, dampak positifnya adalah Kota Bukit Tinggi bisa lebih dikenal masyarakat luas dan mancanegara, serta tentunya pendapatan daerah akan meningkat seiring dengan banyaknya turis yangdatang. Dampak negatif yang bisa terjadi adalah perilaku yang ditunjukan oleh para wisatawan, tidak semua wisatawan yang datang akan mempunyai perilaku yang baik dan hal tersebut bisa mempengaruhi masyarakat sekitar khususnya anak-anak, selain itu anak-anak bisa rentan menjadikorban eksploitasi ekonomi maupun seksual dari
berkembangnya pariwisata di suatu daerah.

Selain itu juga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga mengajak salah satu Organisasi masyarakat sipil yang memang mempunyai pengalaman dan keahlian dalam bidang penghapusan kekerasan dan eksploitasi seksual anak, yaitu ECPAT Indonesia. Dalam acara sosialisasi ECPAT Indonesia akan memberikan best practice tentang pencegahan dan penanggulangan kekerasan  dan eksploitasi seksual di destinasi wisata kepada semua pemangku kepentingan yang hadir.

Koordinator Nasional ECPAT Indonesia, Ahmad Sofian mengatakan bahwa kasus-kasus kekerasan seksual dan eksploitasi seksual anak sering terjadi di destiansi wisata termasuk di Bukit Tinggi, karena itu, kegiatan ini akan memberikan langkah-langkah mencegah terjadinya kekerasan dan eksploitasi seksual. Pelaku wisata sering memanfaatkan objek wisata untuk melakukan kekerasan seksual. Semua objek wisata di Indonesia berpotensi terdapat kekerasan seksual anak, sehingga operator pariwisata perlu memahami masalah ini agar tidak terjadi kekerasan dan eksploitasi seksual anak di Bukit Tinggi.

Sosialisasi ini melibatkan lebih dari 85 peserta dari berbagai macam unsur, ada yang berasal dari unsur pemerintahan, unsur kemasyarakatan, unsur dari para pengusaha pariwisata, Karang Taruna dan dari forum anak. Sosialisasi ini diselenggarakan untuk mengedukasi masyarakat, pengusaha pariwisata dan juga pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanggulang
kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang terjadi di destinasi wisata.

Masyarakat dan pengusaha pariwisata perlu mendapatkan informasi dan juga pengetahuan dalam melakukan pencegahan terjadinya kekerasan dan eksploitasi seksual yang terjadi di wilayah yang menjadi salah satu destinasi wisata. Tidak bisa dipungkiri bahwa kawasan-kawasan wisata di Indonesia bisa menjadi salah satu tempat bagi para pelaku kejahatan seksual untuk mencari mangsanya. (Foto: ECPAT Indonesia)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: