Buruknya Pemantauan Eksploitasi Seksual Anak di Destinasi Wisata

Masih minimnya pemberitaan dan peliputan investigasi di media dalam mengungkap fakta-fakta eksploitasi seksual anak di destinasi wisata dan perjalanan.
, Majalah Kartini | 09/11/2017 - 21:08

MajalahKartini.co.id – Sebagai Sekretariat Koalisi Nasional dalam memerangi eksploitasi seksual anak di Indonesia, ECPAT Indonesia memandang pentingnya keterlibatan berbagai pihak termasuk media dalam memantau terjadinya eksploitasi seksual anak di destinasi wisata dan perjalanan. Hal ini dilatarbelakangi oleh minimnya pemberitaan dan peliputan investigasi di media dalam mengungkap fakta-fakta eksploitasi seksual anak di destinasi wisata dan perjalanan.

Berdasarkan hasil riset ECPAT Indonesia terhadap laporan sejumlah media, dari Januari sampai dengan Oktober 2017, ditemukan 394 kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak, namun hanya 2 kasus yang memberitakan tentang eksploitasi seksual anak di destinasi
wisata. Mayoritas kasus kekerasan didominasi oleh pencabulan anak sebanyak 221 pemberitaan, pemerkosaan anak sebanyak 52 pemberitaan dan perdagangan anak untuk tujuan seksual dengan 51 pemberitaan.

Berdasarkan analisis konten, pemberitaan di media juga cenderung tidak berpihak dan malah memberikan stigma yang buruk kepada korban. Beberapa liputan media ditemukan masih menyebutkan identitas dan lokasi tempat tinggal korban secara mendetail.

Minimnya pemberitaan media berbanding terbalik dengan temuan penelitian ECPAT Indonesia sepanjang tahun 2017. Berdasarkan Pemaparan Andy Ardian, Program Manager ECPAT Indonesia, hasil penelitian yang dilakukan ECPAT Indonesia bersama Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPPPA) di empat wilayah destinasi wisata prioritas (Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Garut, Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Karangasem) menemukan eksploitasi seksual anak masih marak terjadi di keempat wilayah
tersebut. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Fenomena eksploitasi seksual anak di destinasi wisata tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan turut terjadi secara global. Berdasarkan pemaparan Gabriel Khun dari ECPAT International, fenomena eksploitasi seksual anak terus meluas hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kejahatan seksual terhadap anak di destinasi tujuan wisata bukan saja dilakukan oleh pelaku berwarganegara asing, namun banyak juga wisatawan lokal yang memanfaatkan kesempatannya ketika berada di destinasi wisata untuk melakukan kejahatan seksual terhadap anak.

Berdasarkan situasi-situasi di atas, peran media menjadi penting untuk menghapuskan eksploitasi seksual anak di destinasi wisata. ECPAT Indonesia mendesak :

1. Perlu dilakukan pemantauan menyeluruh situasi terkini eksploitasi seksual anak di destinasi wisata termasuk keterlibatan media dalam pemantauan tersebut.
2. Mendorong Kementerian Pariwisata dan penegak hukum agar ada upaya-upaya konkret untuk menanggulangi masalah eksploitasi seksual anak di destinasi wisata.
3. Memberikan informasi dan edukasi kepada wisatawan agar menjadi wisatawan yang bertanggung jawab dan tidak melakukan kekerasan dan eksploitasi seksual anak di destinasi wisata. (Foto & Grafis: ECPAT Indonesia)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: