Banyak Orangtua Terapkan Pola Hidup Salah pada Anak

Banyak keluarga dengan orang tua yang kegemukan, namun anak balita mengalami kurang gizi akut.
, Majalah Kartini | 28/12/2017 - 10:09


MajalahKartini.co.id – Dalam acara Fun Group Discussion yang bertema Cukupi Kebutuhan Gizi Keluarga, Jangan Salah Pilih Susu, Bunda Indonesia Bisa!” hadir dr. Reisa Broto Asmoro, dokter sekaligus presenter yang mengungkapkan adanya kasus-kasus dengan pola hidup yang salah dan diterapkan dalam membesarkan buah hati.

Ia bercerita bahwa menemukan ada banyak keluarga dengan orang tua yang kegemukan, namun anak balita mengalami kurang gizi akut. “Penyebabnya adalah ketidaktahuan orang tua dalam memberikan asupan yang seimbang, misalnya mereka masih percaya bahwa air tajin bisa menggantikan ASI atau susu, yang hal tersebut sama sekali tidaklah benar,” kata dr. Reisa.

Ia juga mengatakan, ada banyak orang tua yang malu untuk memeriksakan diri dan anak mereka ke puskesmas hanya karena anak mereka kurang gizi, seharusnya mereka segera memeriksakan tetapi lebih besar malu daripada mementingkan keselamatan anaknya. “Padahal program pemerintah memberikan layanan gratis, tapi tidak digunakan dengan baik dan benar, hal itu sangat menyedihkan,” lanjutnya.

Lalu, bagaimana cara memerangi hoax yang merugikan masyarakat, terutama target kepada keluarga dan anak-anak? Menurut dra. Lenny Nurhayanti Rosalin, M.Sc, Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), butuh adanya dukungan dan peran dari semua elemen masyarakat. “Mulai dari pemerintah, lembaga non profit, perusahaan, hingga masyarakat itu sendiri yang ‘harus’ mau diedukasi oleh para pakar praktisi,” tuturnya.

Selain itu, kata ia materi yang disampaikan harus sesuai dengan jenis usia, dan pendidikan masyarakat. Ia mengungkapkan bahwa untuk mengubah mindset mereka, butuh bahasa yang pas agar pesan dapat diterima dengan baik dan benar.

“Beberapa waktu lalu, kami baru saja melakukan sosialisasi tentang bahaya rokok. Lucunya, iklan dengan tanda tengkorak buat mereka tidak takut. Bagi anak-anak muda, tengkorak identik dengan ke-macho-an. Jadi bagaimana mau pesannya sampai kalau penyampaian pesan saja kita tidak mengerti pola pikir mereka?” ungkap Lenny.

Ia juga menambahkan bahwa Indonesia memiliki lembaga penghimpun perusahaan ramah anak dan keluarga, disebut dengan Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia, yang diklaim satu-satunya di dunia oleh PBB dan akan menjadi contoh bagi negara-negara lainnya.

KPPPA bahkan mengamati isu susu kental manis (SKM) yang berkembang di masyarakat dari beberapa tahun belakangan ini, dan melihat bahwa isu ini semakin tidak benar. Sebagai lembaga pemerintah, KPPPA pun wajib menegur dan memberikan sosialisasi yang baik kepada perusahaan tersebut.

Bagi mereka profit adalah hal yang penting, padahal tidak! Kami di KPPPA pernah memberikan penyuluhan pada perusahaan tentang penggunaan styrofoam, mereka awalnya enggan mengganti styrofoam dengan kertas yang ramah lingkungan.

“Tapi kami terus memberikan edukasi, hingga mereka mengerti bahwa hal tersebut penting untuk dilakukan. Walaupun mereka menambah modal mereka untuk pergantian tersebut, akhirnya profit mereka jauh lebih baik dibandingkan dengan menggunakan styrofoam. Nah, hal-hal seperti itu yang harus kita luruskan. Kami juga akan berkordinasi dengan BPOM tentang produk yang ramah anak,” tutup Lenny.(Foto: Andim)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: