Rita Widyasari dan Rahasia Memajukan Kutai Kartanegara

Kiprah Bupati Kutai Kartanegara dalam memimpin membuatnya dicintai oleh masyarakat, seperti apa dedikasinya?
, Majalah Kartini | 30/05/2017 - 12:03

Rita Widyasari dan Rahasia Memajukan Kutai Kartanegara
MajalahKartini.co.id – Dibalik tampilannya yang anggun dan bersahaja, perempuan cantik kelahiran 7 November 1973 ini adalah sosok pekerja keras yang mampu mengangkat pembangunan di daerahnya dari keterpurukan. Rita Widyasari menjadi arsitek kebangkitan Kabupaten Kutai Kartanegara lewat berbagai program yang dijalankannya.

Sebagai Bupati Perempuan pertama di Kutai Kartanegara, Rita sekali lagi membuktikan bahwa kiprah perempuan di pemerintahan tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Prestasi demi prestasi dan kerja nyata yang ditorehkannya diganjar kepercayaan oleh rakyat Kukar. Lewat visi misinya yang tertuang dalam Gerakan Bangun Masyarakat Sejahtera (Gerbang Raja), Rita telah melakukan pembangunan secara menyeluruh di Kukar.

Gerbang Raja memiliki beberapa misi untuk memajukan Kutai Kartanegara, seperti pelaksanaan good governance, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memajukan sektor perekonomian dan pengembangan usaha rakyat, mengembangkan potensi agribisnis, industri dan pariwisata, hingga meningkatkan peran dan partisipasi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai Bupati Perempuan pertama di Kutai Kartanegara, Rita sekali lagi membuktikan bahwa kiprah perempuan di pemerintahan tidak bisa dipandang sebelah mata lagi.

Prestasi demi prestasi dan kerja nyata yang ditorehkannya diganjar kepercayaan oleh rakyat Kukar. Rita adalah pionir sekaligus arsitek kebangkitan Kutai Kartanegara. Nama besar Kukar sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara diangkat kembali oleh perempuan berparas jelita ini. “Periode pertama saya menjabat itu jumlahnya tidak begitu banyak. Kalau dulu hanya sekitar delapan orang bupati perempuan yang terpilih, sekarang sudah sampai 23 orang. Baik yang sebagai bupati, wakil bupati, walikota, maupun wakil walikota,” kata Rita.

Hal itu menunjukkan, bahwa perempuan telah mendapatkan kepercayaan dari publik. Dengan dukungan publik yang cukup besar ini membuat peran perempuan semakin berimbang. Perempuan juga jadi lebih setara dengan laki-laki baik dari segi kualitas, kapasitas hingga profesionalitasnya. Menurut Rita, kesetaraan peran antara perempuan dan laki-laki hanya bisa terjadi jika perempuan mau berbenah diri. Perempuan harus diperlakukan sama dengan laki-laki dengan tidak meminta perlakuan istimewa, dengan begitu baru kesetaraan gender bisa diwujudkan.

Ia bercerita, langkahnya untuk terjun ke dunia pemerintahan didasari oleh perasaan tertantang yang muncul ketika melihat banyak sekali masalah di daerahnya. Rita yang merupakan putri asli daerah Kukar pun tergugah untuk berbuat lebih banyak bagi daerahnya. “Banyak yang bilang dulu, mana bisa anaknya Pak Syaukani mimpin, mana bisa perempuan mimpin. Itu juga yang bikin saya merasa semakin tertantang,” ujarnya.

Rahasia Memimpin Kutai Kartanegara

Saat ditanya apa yang menjadi rahasianya dalam memimpin Kukar, ia pun dengan lugas menjawab rahasianya adalah dari pendekatan yang dilakukannya dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada di Kukar. Rita mengaku dirinya terus berupaya untuk menjalin komunikasi yang baik dengan staff jajarannya. Ia pun mengedepankan gaya komunikasi non formil. Berbeda dengan gaya komunikasi birokrat pada umumnya. Dengan begitu, tumbuh kedekatan yang justru membuat koordinasi antar SKPD dengan bupati berjalan dengan lebih baik.

Ia pun berhasil mengubah wajah Kukar yang dulunya dikenal dengan daerah yang ramai kasus korupsinya dan tidak transparan dalam penggunaan anggaran. Rita menceritakan, dari sisi laporan keuangan, selama enam tahun berturut-turut, Kukar mengalami disclaimer. Namun kini, selama kepemimpinannya, Rita secara konsistens meraih predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam laporan keuangan daerah.Tak tanggung-tanggung, Rita berhasil meraih predikat WTP empat kali secara berturut-turut sejak 2012 hingga 2015.

Perempuan dan Kebangkitan

Bagi Rita, kebangkitan nasional haruslah dimaknai sebagai kebangkitan di segala bidang kehidupan. Bagi Rita, kelebihan perempuan justru terletak pada kemampuan selayaknya menjadi jiwa setiap warga negara Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan dan menatap masa depan yang lebih gemilang.

Kemerdekaan yang diraih oleh para pendahulu sudah sepantasnya diisi oleh generasi sekarang dengan pembangunan. Yang tak kalah penting, kebangkitan harus juga menjiwai semangat perempuan saat ini, utamanya dalam ikut berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa.

Rita pun mengaku berbangga bahwasanya kebangkitan bangsa Indonesia saat ini telah diisi dengan begitu banyak peran perempuan di dalamnya. Hal tersebut bisa dilihat dari semakin banyaknya peran-peran sentral yang diisi oleh perempuan baik di tingkat pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga kabupaten kota.

Perempuan kini semakin maju kedepan, hampir di semua bidang. “Mulai dari menteri, pejabat eselon, duta-duta besar, kemudian anggota legislatif, sangat banyak yang diisi oleh perempuan. Pimpinan-pimpinan daerah pun begitu, dari Kukar menatap babak pembangunan baru yang tidak lagi bertumpu pada kekayaan alam semata melainkan bertumpu pada sektor-sektor sentral lainnya,” ujarnya.

Dalam mengerjakan sesuatu, perempuan cenderung lebih lembut, lebih teliti, rapih dan detil. Kesemua sifat-sifat tersebut secara naluriah ada dalam diri setiap perempuan. “Kita kan secara kodrati memang diilhami oleh peran kita dalam melahirkan dan merawat anak. Kodrat ini yang terbawa hingga kita ini ketika jadi pemimpin pun menjadi lebih peka dan perhatian terhadap bawahan. Hal ini lah yang kemudian membuat perempuan dipercaya untuk mengisi jabatan-jabatan publik saat ini,” ujarnya.

Rita menceritakan, di Kukar pun saat ini ada tiga orang kepala dinas perempuan yang bahkan bisa dibilang prestasinya melebihi kaum laki-laki. Ketiganya bahkan menorehkan prestasi membanggakan dalam hal inovasi dan pelayanan publik hingga tingkat nasional. Ketiga perempuan luar biasa yang disebut Rita antara lain, Kepala Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BKBP3A) Kukar, Aji Linda Rodiah, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) AM Parikesit, dr Martina Yulianti, dan Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara, Sri Wahyuni.

“Saya membuktikan bahwa ketika perempuan dedikasinya lebih tinggi. Karena perasaan kami ini, setiap bekerja selalu diawasi oleh masyarakat. Bisa tidak sih perempuan memimpin. Makanya motivasi kami jadi lebih besar,” imbuh Rita. Melirik prestasi tiga srikandi Kukar tadi, Rita beranggapan bahwa perempuan pada dasarnya bisa berkontribusi secara lebih besar terhadap pembangunan, baik pembangunan nasional maupun pembangunan daerah. Untuk itu, harus dimulai dari kemauan yang kuat dari perempuan itu sendiri. “Kalau dalam ilmu kepemimpinan itu, 50 persen berasal dari keinginan diri sendiri, kemudian 30 persennya pengetahuan, sisanya atau 20 persennya itu peran. Jadi harus dimulai dari dalam diri dulu,” tambahnya. (Teks: Himas Puspito Putra/Foto: Majalah Kartini)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: