Kiprah Nurul Komaril Jalankan Pameran Lewat Relief Indonesia

Dibalik gemerlap pameran di area mal terdapat sosok perempuan yang sukses mengelola pameran di sejumlah mal besar di Jakarta.
, Majalah Kartini | 06/06/2017 - 07:03

Kiprah-Nurul-Komaril-Jalankan-Pameran-Lewat-Relief-Indonesia

MajalahKartini.co.id –  Setelah hampir 10 tahun perjalanannya mengadakan pameran dan mendukung sejumlah pusat perbelanjaan menengah ke atas, Relief Indonesia sebagai Event Organization (EO) bisa dibilang senior. EO yang didirikan Nurul Komaril (46) ini menjadi leader untuk pameran di mal dengan menghadirkan konsep yang berbeda pada umumnya.

“Eksotika Ramadan, seperti biasa temanya kan ramadan jadi kita menyuguhkan berbagai macam pruduk-produk kebutuhan ramadan dan lebaran seperti fasion muslim, aksesoris dan keperluan ramadan lainnya,” ujar Nurul Komaril ketika ditemui di Relief Indonesia, Menteng Huis Jakarta, Kamis (1/6).

Sedangkan untuk produk makanan, kata dia, tidak terlalu banyak display karena menyesuaikan kondisi ekonomi yang fluktuatif, “Sekarang ini juga unproductable, meskipun turun naik gitu tapi kita masih bisa survive, bersyukurlah,” ujar Nurul.

Meskipun Relief Indonesia resmi berdiri sejak 2008, tapi sebelumnya pihaknya sudah bergerak mengadakan pameran. Nama Relief Indonesia sendiri dipilih Nurul sebagai salah satu bentuk kecintaannya kepada Indonesia. Melihat Indonesia kaya akan berbagai macam budaya dan tradisi, Relief menjadi wadah untuk mengangkat peran UKM berbagai daerah.

“Kita banyak support pelaku UKM yang baru mulai merintis usaha. Misalnya ada anak muda yang kreatif kita bantu mereka untuk pameran di tempat kita. Produk mereka dipromosikan dan disiarkan tidak dikenakan biaya,” lanjutnya.

Meskipun Relief Indonesia sebagai organisasi independen tanpa bantuan dari pemerintah tapi Relief mensuport beberapa UKM yang masih baru tumbuh namun memiliki produk unik dan sesuai target pasar. “Nggak harus anak muda, misalnyakan ada ibu rumah tangga punya kreatifitas atau pengusaha baru tapi terbatas oleh modal. Pameran pasti ada biaya sedangkan mereka kan mau coba tapi takut, tapi kami memberikan kesempatan untuk dipromosikan,” jelas ibu empat anak ini.

Popularitas Relief Indonesia di pasar event pameran sangat baik, bagaimana tidak, EO ini sebelumnya memegang event Pameran di Pondok Indah Mall, Gandaria City, Kota Kasablanka Mall, Kemang Village, dll. “Hampir semua mal yang ada di Jakarta ini kita di percayakan untuk menyelenggarakan pameran dari mulai mal itu berdiri dari Kuningan City kita support,” katanya.

Perempuan berambut pendek ini menceritakan bahwa dulu organisasi yang ia gawangi ini mempunyai anggota sekira 150 an UKM dan terbagi-bagi dalam beberapa pameran. Dalam setiap pameran ujarnya terdiri dari 25-40 anggota tergantung kondisi mal. Tapi, lanjut Nurul sekarang jumlah stannya bervariasi yakni ada 20, dan 35 stan.

“Jadi dulu kan anak-anak muda, ada beberapa kita ambil. Jadi misalnya ada satu atau dua stan yang kita berikan khusus untuk mereka mau anak-anak mudah atau usaha baru mau ibu-ibu atau apapun sesuai produk kita kasih mereka free tapi itu nggak terus-terusan sih tapi gantian sama yang lain,” jelasnya lagi.

Kiprah-Nurul-Komaril-Jalankan-Pameran-Lewat-Relief-Indonesia1

Dengan memberikan wadah promosi, pihaknya melakukan tes market, jika penjualan bagus maka UKM tersebut dapat diikutkan dalam beberapa kali event agar mereka mandiri. Sehingga berikutnya mereka bisa membayar biayanya itupun tidak mahal namun bertahap.

“Jadi, anak muda yang kreatif adalah salah satu contoh bagi kita. Dan kita juga subsidi terus kita memberikan konsep pameran yang berbeda. Mungkin kalau jaman dulu kita ke pameran atau bazar seperti konsepnya sederhana, tapi kita kan memberikan tema berbeda dari dekorasi yang unik,” tutur Nurul.

Sampai saat ini, Relief Indonesia masih dipercaya menggelar event pameran di sejumlah mal besar. Untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan, tak tanggung-tanggung, pihaknya kerap kali mengisi tempat-tempat yang kosong dengan produk yang unik dan sesuai target pasar.

Sekarang, EO senior ini menghandle mal baru. Untuk meramaikan mal tersebut ia menggundang beberapa UKM dengan produk baju muslim, kerajinan tas, dan scarf. Harga stan juga bervariasi mulai Rp 500 ribu – Rp 2.500 ribu per hari. Terkadang pameran dibutuhkan beberapa mall untuk mengangkan image sehingga sangat selektif dalam memilih produk yang akan dipasarkan. Tapi dari pengalaman pameran-pameran sebelumnya produk fashion baju muslim atau baju batik atau fashion paling banyak diminati. “Kita lebih selektif dalam memilih produk, nggak harus ramadan tapi tema apapun,” katanya.

Dalam perjalannya, Relief Indonesia juga mempunyai pameran non fashion tapi ada juga man on the street. Ini khusus keperluan laki-laki atau menyediakan produk-produk untuk laki-laki di pameran atau hobi. Dalam setahun, pihaknya menggelar pameran rata-rata 40-55 atau sebulan bisa dua – lima kali. Selain itu, ada juga pameran kreatif seperti JLW (Jakarta Leather Week).

Di pameran ini nantinya tersedia hanya produk-produk kulit yang inovatif. Hanya saja untuk event kreatif ini hanya akan dilakukan dua kali dalam setahun untuk tahun ini, dan tahin berikutnya ditargetkan enam kali event. “Kita nggak mau bikin banyak dalam setahun, karena maksudnya dikangenin lah supaya berbeda. Tahun ini di Gandaria City dan di Kota Kasablanka,” kata Nurul.

Bulan Ramadan Omzet Meningkat Drastis

Di awal-awal Ramadan kata dia masyarakat belum condong membeli kebutuhan lebaran, biasanya masyarakat lebih fokus ibadah dan kebutuhan berpuasa. Tapi bukan berarti market pameran tidak ada, hanya saja penetrasi belum. Pengunjung biasanya akan ramai dua minggu sebelum lebaran.

Ramadan adalah moment yang ditunggu-tunggu pelaku UKM, karena di bulan ini lah pendapatan atau penjualan naik drastis. Harga stan pun tentunya akan naik hingga 50% dari harga normal. “Omsetnya jelas berbeda bisa 50% hingga 100%, tapi nggak semuanya sesuai target. pasti ada juga yang belum mencapai target seperti yang saya bilang sekarang eonomi kan juga lagi nggak bisa diduga, tapi kita nggak selalu memantau,” katanya lagi.

Omset yang didapat pun tergantung besar atau kecilnya mal. Misalnya saja mal baru, karena pengunjungnya belum ramai sehingga omsetnya rata-rata dibawah Rp 500 juta, sedangkan di mal besar omset pameran bisa mencapai 1 M-2 M. Sehingga pendapatan masing-masing peserta juga bervariasi, sekitar Rp 25 juta-Rp 50 juta bahkan ada yang mencapai Rp 200 juta.

Untuk menjalin hubungan baik dengan rekan bisnis, Relief Indonesia mengutamakan kepercayaan pelanggan untuk meningkatkan image mal tersebut. “Kita harus kasih sesuatu yang sangat menarik untuk malnya sesuai dengan estetika mal itu. Jadi malnya suka kan meskipun mungkin kita disini rugi,” ujarnya.

Setelah sukses melakukan pameran di sejumlah mal besar di Jakarta, jelang Lebaran Relief Indonesia menghadirkan pameran dengan konsep “Eksotika Ramadan” di enam mal di Jakarta dan Tangerang.(Foto: Andim)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: