Gloria Morgen, Sukses Jadi CEO 9 Project di Usia Muda

“Selalu percaya dengan indahnya mimpi dan impian, serta tidak pernah menyerah memperjuangkan mimpinya menjadi kenyataan”
, Majalah Kartini | 09/02/2017 - 15:08

MajalahKartini.co.id – Di usia muda, perempuan yang memiliki nama Gloria Marcella Morgen Wiria, telah mengukir cita yang gemilang. Alumni Teknik Kimia angkatan 2009 dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung ini mempunyai motto You only live once. But, if you work it right, once is enough– Fred Allen. Ia selalu percaya dengan indahnya mimpi dan impian, serta tidak pernah menyerah memperjuangkan mimpinya menjadi kenyataan.

Terakhir, Gloria menyandang Duta Pemuda Perdamaian Internasional oleh Eubios Etika Institute dan International Peace and Development Etika Centre (IPDCE) 2015 dan Top 32 anak muda Inspirasional di Indonesia oleh UNFPA 2015. Gloria sangat tertarik dalam bidang sosial bisnis, isu sosial dan pembangunan pemuda. Saat ini ia bekerja di salah satu perusahaan Yoghurt di Jakarta. Selain disibukkan dengan tugasnya sebagai karyawan, di luar jam kantor, dia memiliki banyak kegiatan sebagai CEO dan pendiri organisasi sosial Glow for Indonesia, yang terdiri dari 9 project.

Gloria telah memenangkan banyak kompetisi Kewirausahaan Sosial, menjadi delegasi di beberapa konferensi dan mendapat banyak prestasi. Sebagai top 15 National Social Enterpreneur Mandiri di kategori pertanian dan kelautan dari Bank Mandiri tahun 2015, ia juga mendapat penghargaan dari Universitas Katolik Parahyangan sebagai Mahasiswa Outstanding dalam prestasi non akademik 2014, meraih peringkat pertama dari kewirausahaan sosial lomba Esai Nasional Proyek oleh AIESEC UI 2013, peringkat ke lima di Danone Young Social Enterpreneur 2013, dan menjadi The Best Social Youth Movement dari Pusat Nasional Pelatihan Pengembangan NTDC 2012.

gloria morgen

Pernah Merasakan Kecewa

Untuk mendapatkan segudang prestasi itu, bagi Gloria butuh perjuangan dan usaha keras. Ia pun bercerita, awal ia mulai mengejar mimpinya menjadi orang sukses. Awalnya sekitar bulan Juni 2012, Gloria merasa bahwa rasa kecewa saya telah sampai ke puncaknya. Saat itu IP nya di semester 6 mengalami penurunan dibandingkan semester sebelumnya. Ini merupakan kali ke sekian IP nya mengalami penurunan. Bahkan IP nya tidak menyentuh 3 untuk ke sekian kalinya.

“Saya merasa bahwa saya telah mengambil jurusan yang salah. Namun untuk keluar dari jurusan ini, sangatlah tidak mungkin karena saya sudah separuh jalan. Akhirnya muncullah dua pertanyaan dalam benak saya “apa yang membuat saya bernilai beda dengan orang lain?” dan “Mengapa sebuah perusahaan mau bayar mahal untuk mendapatkan saya?”,” tutur Gloria saat berkunjung ke kantor MajalahKartini.co.id beberapa waktu lalu.

Ia terus berusaha mendapatkan jawaban dari dua pertanyaan itu, bahkan tak jarang ia mengajukan pertanyaan tersebut ke teman-temannya. “Saya berharap mereka dapat membantu saya untuk menjawab pertanyaan ini. Namun, jawaban mereka tidak dapat membuat saya puas,” imbuhnya. Tepat pada pada tanggal 5 juli 2013, ia bertemu dengan seorang kakak kelasnya bernama Vin Cent di salah satu super market dekat kampus. Dia adalah mahasiswa yang outstanding di kampus. Perjumpaan itu menggelitik Gloria untuk mengajukan dua pertanyaan keramat tersebut pada kakak kelasnya.

“Semula, saya hanya iseng-iseng mengajukan pertanyaan tersebut, tidak disangka, jawabannya berhasil menjawab pertanyaan saya selama ini. Kata kunci dari percakapan tersebut adalah mmbuat perbedaan. Jadi kalau kamu ingin bernilai beda dengan orang lain maka kamu harus membuat perbedaan itu. Dengan perbedaan yang kamu miliki, maka kamu akan dibayar mahal oleh orang lain,” jelas Gloria. Jawaban tersebut menjadi kata kunci dan pegangan, membuat ia memutuskan untuk meraih kemenangan diperlombaan dan aktif mengikuti konfrensi nasional. Dan saat itu ia mempunyai target, dalam satu tahun, ia harus berhasil merah 10 buah prestasi.

“Sejak saat itu saya mulai berburu informasi perlombaan di internet. Banyak sekali perlombaan yang telah saya ikuti dari lomba membuat pepatah, puisi, cerpen, ajang kepemimpinan hingga konfrensi nasional bergengsi, namun semuanya berujung pada kekalahan,” papatnya.

Usaha yang Membuahkan Hasil

gloria 1

Setiap kali ia mengalami kekalahan, ia terus mengevaluasi dirinya sendiri. Namun tak jarang, ia diliputi rasa kecewa serta timbul perasaan bahwa ia tidak bisa seperti orang-orang sukses lainnya. Ia selalu mencoba menepis perasaan-perasaan pesimis dengan mengatakan bahwa “waktunya semakin dekat dan yang perlu saya lakukan adalah terus mencoba dan berdoa”.

Pada saat gagal, ia selalu melihat dari sisi positifnya, bahwa orang-orang sukses akan melalui kegagalan. Ia berusaha mengingat bahwa sebelum Thomas Alfa Edison berhasil menciptakan lampu, ia telah gagal ribuan kali, Senders KFC baru dapat memasarkan ayam racikannya setelah ditolak 100 kali. Soichiro Honda mengalami kegagalan puluhan kali, hingga bisa berhasil seperti hari ini. Anak kecil yang sedang belajar berjalan pun harus mengalami jatuh 1000 kali untuk dapat bediri. “Setiap kali mengingat hal tersebut, menginspirasi saya untuk bangkit lagi. Saya yakin bahwa Tuhan menciptakan semua orang itu sama, namun yang membedakan adalah berapa kali kita mau bangkit dari setiap kegagalan yang kita alami,” ucapnya.

Di akhirnya November 2012, usahanya yang gigih mulai menampakkan hasil. Gloria meraih prestasi pertamanya sebagai The Best Social Movement Team pada National Training Developmen Centre 2012 yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran, Bandung. Keberhasilan tersebut ia peroleh setelah mengalami kegagalan sebanyak 38 kali.Saat itupun, ia masih mengalami kegagalah, namun ia tetap optimis, jika prestasi pertama ia harus gaga 38 kali, maka prestasi berikutnya setidaknya ia juga harus siap gagal 38 kali lagi.  “Dengan adanya prestasi pertama ini, saya semakin mantap untuk mengejar 9 prestasi lainnya,”

Tidak sesulit yang ia bayangkan seperti prestasi pertamanya, untuk meraih prestasi yang kedua, ketiga dan seterusnya, Gloria tidak perlu menunggu hingga mengalami kegagalan 38 kali. Hal ini disebabkan oleh proses evaluasi yang selalu ia lakukan setiap kali mengalami kegagalan. Evaluasi menjadikan pribadi seseorang lebih dewasa.

Kompetisi demi kompetisi un tak terlewatkan, hingga sampai pada prestasi yang ke-10, ia berhasil meraih Delegate of Indonesia Green Action Forum in YPA6 of Youth Peace Ambassadors International Conferene in Thailand 2013. Kisah penuh inspirasi ini, iatulis dalam buku yang berjudul Untold Stories of College Life. Dalam buku tersebut menjelaskan tiga hal pending yang harus dilakukan dalam hidup yakni, berkarya, berprestasi dan berkontribusi. Lalu di tahun 2016 buku kedua Gloria nerjudul Unstoppable pun sudah mulai beredar. (Foto : Doc. Pribadi))

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: