Begini Cara Dewi Lestari Merayakan Kehidupannya

Sukses dalam berkarya, seperti itulah gambaran sosok Dewi Lestari. Bagaimana ia memaknai hidupnya?
, Majalah Kartini | 07/12/2016 - 13:00


MajalahKartini.co.id – Kunci merayakan hidup sepenuhnya adalah dengan menjalani saat ini sebaik mungkin termasuk saat perempuan mulai memasuki usia cantiknya. Dewi Lestari atau yang akrab disapa dengan Dee mengatakan usia cantik baginya adalah saat di mana kita dapat menerima diri kita apa adanya, mengenal dan menerima kelemahan sekaligus mengetahui betul kekuatan kita.

“Dengan menerima diri kita, niscaya kita akan dimampukan untuk menggapai potensi kita, membuat hati kita lebih bahagia. Menjalani usia cantik kita bukan lagi sibuk untuk memaksa diri kita agar sesuai dengan ekspektasi orang lain, melainkan dengan percaya diri menyatakan: “Inilah saya!” ujar perempuan kelahiran Bandung, 20 Januari 1976 ini.

Dee memulai kariernya sebagai penyanyi latar pada tahun 1993 mengiringi penyanyi legendaris Chrisye dan banyak penyanyi lain. Pada tahun 1995, ia bergabung dengan trio Rida, Sita, Dewi (RSD) yang telah mengeluarkan empat album hingga tahun 2003. Pada tahun 2001, Dee Lestari merilis buku pertamanya berjudul Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Di tengah kegiatannya yang padat, Dee tetap berprinsip untuk menerapkan pola hidup seimbang. Relaksasi, hidup meditatif dan waktu bersama orang-orang terdekat, sahabat maupun keluarga adalah tiga hal mutlak yang menurutnya perlu diberi prioritas.
“Satu hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada diri kita sendiri adalah penerimaan. Ini sesuatu yang tidak mudah bagi banyak orang, sesuatu yang membutuhkan proses panjang. Menerima diri bukan berarti berpasrah, tapi selalu mengusahakan yang terbaik. Aku bersyukur akan hidup yang aku jalani saat ini, sebab ini adalah usia cantik saya,” tutup Dewi Lestari.

Hingga kini, Dee telah menerbitkan sepuluh buku. Berbagai penghargaan diperoleh Dee, antara lain 5 Besar Khatulistiwa Award (untuk Filosofi Kopi dan Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh), Karya Sastra Terbaik 2006 versi Majalah Tempo (Filosofi Kopi), Penghargaan Badan Bahasa dan Departemen Pendidikan Indonesia (Madre), Anugerah Pembaca 2015 untuk Kategori Fiksi Favorit dan Penulis Favorit (Gelombang), dan Book of The Year 2016 dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) untuk Inteligensi Embun Pagi. Kiprahnya dalam bidang kepenulisan juga telah membawanya ke berbagai festival penulis internasional. (Foto: Doc. Loreal)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: