Amalia E. Maulana, Pionir Ethnography Marketing di Indonesia

Amalia mengenalkan filosofi of marketing di Indonesia, seperti apa kiprahnya?
, Majalah Kartini | 08/03/2017 - 19:02

Amalia E. Maulana Pionir Etnography Marketing di Indonesia

MajalahKartini.co.id – Cukup lama berkecimpung di dunia marketing semakin membangkitkan rasa penasaran sosok Amalia E Maulana tentang filosofi of marketing yang kemudian menghantarkan kariernya menjadi Pionir Ethnography Marketing di Indonesia. Saat ditemui di Cilandak Jumat (3/3) lalu, perempuan kelahiran Malang, 12 Oktober 1963 ini menceritakan perjalanannya mulai meniti karier hingga meraih gelar doktor.

Setelah Amalia mendapat gelar Ph.D. dari School of Marketing, UNSW, Sydney Australia (2006), ia kembali ke Indonesia untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai agen perubahan di dunia marketing. Amalia mengenalkan pendekatan riset kontemporer yaitu Ethnography Marketing di Indonesia waktu itu. “Sebagai pionir, di tahun 2006 saya kembali dari Australia saat itu belum ada yang menjelaskan pentingnya Ethnography Marketing. Dari background dulu setelah saya lulus sekolah lebih banyak bekerja di perusahaan yang consumer group. Rasanya saya masih kurang memahami dasar-dasar ilmu marketing,” kata Amalia.

Setelah ia bekerja di beberapa perusahaan cukup lama, ia merasa belum menemukan filosofi marketing itu sendiri, karena seringnya terjadi kesalahan dalam perusahaan dan apa yang ia lakukan diyakininya belum sepenuhnya benar. “Saya meras kayaknya saya harus belajar filosofinya. Jadi kadang-kadang saya merasa apa yang dikerjakan belum tentu benar. Makanya di perusahaan banyak terjadi trial error di bidang marketing,” ujar Amalia.

Setelah selesai berguru di negeri Kanguru itu, perspektif Amalia terhadap ilmu marketing mulai terbuka dan ia juga memahami filosofi of marketing. “Ini membuka mata saya tentang ilmu marketing yang saya merasa belum mendapatkannya,” imbuhnya.

Kemudian ia menceritakan, setelah mendapat gelar MM, MBA. dari IPMI di bidang bisnis, ia melanjutkan kariernya di dunia marketing. Namun ia masih menyimpan kegelisahan seperti apa ilmu marketing yang sesungguhnya. Hingga kemudian ia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di Australia. “Saya mendapat kesempatan untuk mengambil program doktor di bidang marketing branding dan communication di tempat yang memang di sana bidangnya. Kesempatan itu membuka mata saya tentang filosofi of marketing,” kata ibu tiga anak ini.

Saat industri masih lebih mempercayai riset konvensional seperti Survey dan Focus Group Discussion. Karena insights nya permukaan maka persoalan Brand belum terungkap. Di sana Amalia bekenalan dengan sebuah metodelogi riset yang bernama Ethnography. “Disanalah banyak pertanyaan-pertanyaan terjawab yang tidak bisa dijawab dengan riset-riset metode konvensional, misanya metode survei dan metode fokus group,” jelas perempuan berkulit putih ini.

Menerbitkan Buku-buku yang Menginspirasi

amalia

Lebih lanjut ia menjelaskan tentang metode terbaru yang diadopsi dari metode antropologi sosial dimana Ethnography study mencari insights sampai ke akar-akarnya di real setting habitat customer. Dengan demikian, persoalan Brand terdeteksi dengan baik. “Setelah belajar dengan maha guru bidang marketing di Australia sana, ternyata banyak yang harus kita pahami tentang konsumen kalau kita berada di alamnya konsumen. Ternyata, ada metode yang sudah lama digunakan orang-orang di antropologi budaya, jadi seorang antropolog kalau ingin mengenal suku terasing dia harus berada di sana, dia tidak bisa kirim survei dua minggu saya ambil lagi ya. Dia tidak bisa fokus group. Satu-satunya cara dia harus branding dalam kehidupan suku terasing itu. Itu yang kemudian diadopsi, bukan lagi Ethnography di bidang sosial tetapi Ethnography di bidang marketig,” jelas Director, ETNOMARK Consulting tersebut.

Perempuan yang pernah mendapat gelar insinyur dari Food Technology & Nutrition, IPB, Bogor (1985) mulai memperkenalkan Ethnography Marketing di Indonesia pada tahun 2006 usai menyandang gelar doktor. Melihat kondisi perusahaan yang masih menggunakan riset itu-itu saja, ia tergerak untuk melakukan perubahan di bidang branding karena riset inilah yang mampu menjawab persoalan branding. “Riset adalah alat, kalau alatnya baik maka hasil temuannya baik dan kesulitannya brand akan ketemu dengan baik. Di Ethnografhy kita tidak menggunakan sample seperti survei, karena kita masuk ke dalam kehidupan konsumen. Itulah saya merasa perlu sistem ini,” paparnya.

Amalia yang memiliki pengalaman bekerja di perusahaan FMCG multinasional, seperti: PT Unilever Indonesia dan PT Frisian Flag Indonesia selama 12 tahun, berkomunikasi melalui multiple channel seperti membuat buku, Workshop, mengisi kolom di majalah dan koran. Berbagai cara ditempuh Amalia untuk sosialisasi ide dan konsep bahwa Etnography merupakan solusi bagi pemahaman konsumen di perusahaan. Melalui penulisan di kolom koran dan majalah, workshop bagi pebisnis dan akademisi, hingga meluncurkan buku berjudul “Consumer Insights via Ethnografhy” di tahun 2009.

Ia mendirikan ETNOMARK Consulting di tahun 2009 dengan tujuan untuk membantu pelaku bisnis agar bisa memanfaatkan Ethnography Marketing memecahkan persoalan-persoalan brandnya. Mendidik tim Ethnografer ahli riset kualitatif secara khusus dan terarah. Jumlah project yang sudah ditangani sejak ETNOMARK berdiri sudah mencapai lebih dari 50 projects terdiri dari berbagai konteks produk hingga jasa, B2C hingga B2B.

Amalia mencoba mengklarifikasi miskonsep branding di benak para decision makers di Indonesia lewat bukunya BRANDMATE. Sebuah klarifikasi miskonsepsi terhadap kegiatan branding di banyak perusahaan, bahwa branding bukan hanya sekedar iklan dan slogan. Branding adalah proses menciptakan soulmates perusahaan. “Inilah maksud dari buku BRANDMATE ‘Mengubah Just Friends menjadi Soulmates’ tahun 2012, bagaimana teman biasa menjadi soulmates, kalau sudah jadi soulmates maka akan menyarankan yang baik,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menerbitkan buku untuk umum “PERSONAL BRANDING: Membangun Citra diri yang Cemerlang”. Klarifikasi miskonsepsi Personal Branding yang identik dengan pencitraan semu. Amalia mengemas buku ini secara menarik, mudah dibaca tetapi sarat dengan konsep yang kongkrit. “Dalam buku ini memberikan pemahaman baru bahwa Personal Brand itu dibutuhkan oleh semua orang tanpa terkecuali. Bukan hanya untuk tokoh dan selebriti saja,” ungkapnya.

Selain menjadi consultan branding dan Etnohraphy Marketing, ia juga mengajar di sekolah bisnis: BINUS Business School, IPMI Business School, LSPR Graduate Program. Untuk menciptakan para agen of change baru dengan memberikan pendidikan secara formal di dalam kelas sekolah bisnis. “Menjadi Akademisi dengan background praktisi menjadi kombinasi yang penting di sekolah Bisnis: ‘Where Business is Real’ dan menjadi tempat berdiskusi current issues di bidang Branding dan Consumer Behaviour,” jelasnya.

Ciri-ciri Agent of Change yang dimiliki Amalia E Maulana yakni: Patient. Sabar dan menyadari bahwa perubahan itu proses Passionate menyukai apa yang dilakukannya; Persistent. Mengerjakan terus tanpa putus, tetap setia pada tujuan yang sama; Sociable. Menyenangkan dan membuat orang lain nyaman berbicara dengannya; Persevere. Tidak berhenti walaupun mengalami banyak hambatan. (Foto: Istimewa)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: