Rohana Kudus, Dedikasikan Hidupnya untuk Belajar dan Mengajar

Rohana bertekad mengubah paradigma masyarakat Koto Gading terhadap pendidikan yang saat itu perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah.
, Majalah Kartini | 10/11/2016 - 14:00

MajalahKartini.co.id – Siapa yang tidak mengenal sosok Rohana Kudus? Perempuan asal Minang yang mendedikasikan umurnya hanya untuk belajar dan mengajar. Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884 silam. Ia dilahirkan dari ayah yang bernama Mohammad Rashad Maharadja dan ibu yang bernama Kiam. Rohana adalah kakak tiri dari Soetan Shajrir yang merupakan Perdana Mentri Indonesia pertama dan juga bibi dari penyair terkenal Chairil Anwar.

Rohana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini,  dimana kaum perempuan dibatasi untuk mendapat pendidikan lebih dari kaum lelaki. Kiprah Rohana dimulai sejak membangun sekolah keterampilan khusus perempuan pada 11 Febuari 1911 yang diberi nama ‘Sekolah Kerajinan Amai Setia’.

Di Sekolah itu Rohana mengajarkan berbagai macam keterampilan untuk perempuan, seperti keterampilan keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama, serta bahasa Belanda. Sekolah tersebut ia buat setelah memutuskan menikah di umur 24 tahun dengan Abdul Kudus yang berpropesi sebagai notaris. Rohana sendiri pun tidak bisa menikmati pendidikan normal saat itu, namun Ia rajin belajar dengan sang ayah. Karena semangatnya Rohana menjadi cepat mengerti setiap hal yang yang berkaitan dengan pejaran yang ayahnya ajarkan.

Selain fokus dalam dunia pendidikan, Rohana juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda pada saat itu. Hal itu terjadi karena Rohana sering memsan peralatan dan kebutuhan jahit menjahit untuk kepentingan sekolahnya. Disamping itu ia juga menjadi perantara untuk memasarkan hasil karya kerajinan murid-muridnya disekolah untuk di jual ke Eropa. Ini juga menjadikan sekolahnya sebagai sekolah yang berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang semua anggotanya perempuan di Minagkabau.

Hal inilah yang membuat beberapa petinggi pemerintah Belanda kagum atas kekampuan dan kiprahnya. Selain itu Rohana juga menerbitkan surat kabar perempuan yang diberi nama “Sunting Melayu” pada tanggal 10 Juli 1912. Sunting Melayu merupakan surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pimpinan redaksi, redaktur, dan penulisnya semua adalah perempuan. Tujuannya pada saat menerbitkan Sunting Melayu dikarenakan ingin berbagi cerita tentang erjuangan memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya.

Tidak hanya mendirikan sekolah “Amai Setia” Rohana juga mendirikan sekolah di Bukit Tinggi dengan naman “Roehana School”. Jumlah muridnya terkenal banyak, tidak hanya dari Bukit Tinggi tetapi juga dari daerah lainnya. Seakan tidak puas dengan ilmunya Roehana memperkaya keterampilannya dengan belajar border dengan orang China dengan menggunakan mesin jahit Singer. Tidak berhenti disitu Roehana juga mengambil peluang bisnis menjadi agen mesin jahit yang menjadikan dirinya sebagai perempuan pertama yang menjadi agen mensin jahit Singer, karena sebelumnya selalu dikuasai orang Tionghoa.

Sosok perempuan yang menghabiskan waktu hanya untuk belajar dan mengajar itu menawarkan Emansipasi yang pada poinnya tidak menuntut persamaan hal perempuan dengan laki-laki, namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga membutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, oleh sebab itulah Rohana menginginkan pendidikan bagi kaum perempuan.

Demikianlah kisah singkat dari Rohana yang menghabiskan 88 tahun umurnya dengan beragam kegiatan yang berorientasi pada dunia pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. Selama hidupnya Rohana menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia pada tahun 1974, dan pada saat Hari Pers Nasional ke-3 9 Febuari 1987 Roehana dianugerahi sebagai perintis Pers Indonesia oleh Mentri Penerangan Harmoko. Dan ada 6 November 2007 silam pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama. (Raga Imam/Foto: Alcehtron)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: