Perjalanan Anna Mariana Ciptakan Tenun dan Songket Betawi

Anna menciptakan tenun dan songket dengan mengambil motif ikon Betawi sepeti Monas, Ondel-ondel dan lain-lain.
, Majalah Kartini | 28/04/2017 - 12:03

Perjalanan-Anna-Mariana-Wujudkan-Tenun-dan-Songket-Betawi

MajalahKartini.co.id – Sejak Desember 2016, Anna Mariana, membuat terobosan baru. Perempuan kelahiran Solo itu mencetuskan lahirnya Tenun dan Songket Betawi. Dalam sejarah Betawi, memang tidak dikenal tradisi tenun maupun songket yang digarap secara hand made.

Anna Mariana mencoba menciptakan tenun dan songket dengan mengambil motif ikon Betawi sepeti Monas, Ondel-ondel dan lain-lain. “Saya selalu ingin membuat ide-ide dan karya yang baik dan bagus. Sebelum ini Betawi hanya punya punya batik. Saya menggagas kain tenun dan songket yang selama ini tidak dimiliki Betawi!,” kata Anna saat ditemui di sela-sela acara DHARMAYUKTI KARINI di Mahakam Agung Jakarta, Kamis (27/4).

Pendiri sekaligus pemilik House of Marsya ini sebelumnya telah mendiskusikan tentang hal ini dengan Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi . “Saya juga telah mendaftarkan hak cipta Tenun dan Songket Betawi agar ini secara resmi terdaftar menjadi milik kita,” ujar Ketua Yayasan Sejarah Kain Tenun Nusantara ini. Pembina dan Pengelola Pengrajin Tenun Kain dan Kerajinan Bali ini mengatakan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Jakarta Tenun dan Songket Betawi bisa selesai proses produksi dan resmi dirilis.

Untuk melestarikan proses pembuatan Tenun dan Songket, Anna Mariana yang lebih dari 30 tahun bergelut dengan ini bersungguh-sungguh melakukan pembinaan dan pelatihan pada kaum muda. Ia mengambil anak asuh untuk kegiatan menenun dari beragam tempat. Termasuk juga dari anak-anak pesantren. “Saya melatih dan menyediakan bahan untuk mereka, agar mereka tidak hanya piawai mengaji tapi juga menguasai tenun dan songket dan menjadikan sebagai sandaran penghasilan. Hasil karya anak didik ini kan saya beli lagi,” katanya dengan penuh semangat.

Pendidikan dan pelatihan tenun sendiri bisa berlangsung sepanjang 3- 4 bulan. Mereka diajarkan teori juga praktek. Teori sendiri menyangkut pengenalan alat tenun hingga pengenalan dan pemahaman soal pewarnaan benang. “Mereka wajib tahu, bahan-bahan yang digunakan untuk pewarna benang dan juga prosesnya. Kami selalu menggunakan bahan alami, seperti dari akar, daun-daunan, rempah-rempah dan lain-lain,” katanya. “Jika anak yang kami didik masih awam dengan kegiatan menenun, biasanya proses mengajar tiori dan praktek akan lebih lama. Bisa enam bulan,” sambung Anna.

Anna Mariana bersama sang suami, Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha S.H, M.S, M.S.C, memang punya komitmet kuat untuk terus mencintai sekaligus dan menjaga kelestarian tenun dan songket. Ia menyebut para anak muda wajib mengetahui dan paham tentang tenun dan songket. Terlebih dengan banjirnya produk luar negeri bermerk Internasioal yang masuk ke Indonesia. “Kita wajib mencintai produk asli milik bangsa sendiri. Kalau bukan anak muda yang mencintai karya asli milik bangsanya sendiri, siapa lagi yang bisa melestarikan tenun, terlebih jika para senior nantinya sudah tidak ada lagi,” ujar Anna

Menurut Anna, orang luar negeri justru sangat mengapresiasi tenun dan songket, karena prosesnya yang hand made. Orang di luar negeri sudah meninggalkan proses pembuatan fashion dengan cara menenun dengan menggunakan benang dan alat kayu. “Karena itulah, orang asing melihat karya tenun dan songket sebagai karya yang sangat menakjubkan. Nah, masak kita malah mengabaikannya,” tutup Anna. (Foto: Andim)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: