Perempuan-perempuan yang (Memilih) Berdaya

Dua komunitas sosial kemasyarakatan ini mewujudkan secara nyata bahwa memahami literasi keuangan ialah perkara penting dan perlu dipelajari.
, Majalah Kartini | 30/11/2017 - 19:03

Buto: Arjuna…arjuna berapa sih uang saku kamu
Arjuna: uang saku aku tujuh ribu
Buto: Wah itu biasanya kamu jajanin apa saja, kalau aku cokelat, permen, chiki, es krim
Arjuna: Kalau aku cuma satu macam saja, sisanya untuk menabung
Buto: Wah kenapa begitu, kan enak bisa jajan semua (petikan dongeng menabung)

MajalahKartini.co.id – Hiruk-pikuk khas keceriaan anak-anak tampak nyata dan menggembirakan, mereka sedang menunggu kedatangan kakak-kakak relawan dari Komunitas Generasi Cerdas Keuangan. Wajah-wajah ceria mereka makin berbinar saat mereka duduk bersama dan menyimak dengan antusias dongeng boneka yang diperagakan oleh kakak-kakak relawan. Sesekal anak-anak ikut menanggapi lakon boneka seraya mengutarakan pengalaman dengan uang jajan mereka masing-masing.

Sore itu, Sabtu (14 Oktober 2017) di Rumah Cerdas Keuangan ada jadwal literasi keuangan untuk anak-anak. Media penyampaiannya adalah dua tokoh kesohor dalam pewayangan Arjuna dan Buto Ijo yang mengilustrasikan betapa pentingnya kebiasaan menabung dan bagaimana membedakan antara keinginan dan kebutuhan agar bisa menyisihkan uang untuk menabung.

Bayangkan, di usia dini mereka sudah mulai sedikit banyak memahami kegunaan menabung bagi kehidupan mereka kelak. Tentu saja hal itu tak serta merta ada, dibutuhkan usaha yang tak mudah dari Komunitas Generasi Cerdas Keuangan (GCK). Komunitas yang digawangi oleh Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta ini lahir dari rahim pengalaman personal, Ratna Chandra Sari, sang founder pada bulan Oktober 2015.

Menurut beberapa hasil riset yang pernah ia lakukan, pola konsumsi anak dan remaja belum terarah, belanja online dan pemakaian kartu kredit mendorong perilaku konsumtif serta pemborosan dini. Kegelisahan ibu dari 3 putri yang tiap hari berinteraksi dengan anak-anak muda kekinian membuat ia ingin lebih dalam memahami literasi keuangan. Ia merasa betapa pentingnya pengetahuan literasi keuangan masuk dalam kurikulum pembelajaran di sekolah sejak dini.

“Kami melakukan riset 2015 berdasarkan keprihatinan pengelolaan keuangan anak, lalu membuat buku pedoman guru dan ana ksekolah dari kelas 1-6. Melalui proses panjang, feedback dari guru, diimplementasikan di 12 sekolah dasar di Yogyakarta. Semua media yang kami punya mulai buku cerita, video, bisa diakses gratis oleh siapa pun yang ingin belajar,” papar perempuan kelahiran Batang, Batang, 8 Oktober 1976 ini.

Ratna yang ditemui di kediamannya yang asri di Bantul ini mengungkapkan kegelisahan awal dari persoalan yang kerap ia temui dalam keseharian. Banyak perempuan baik yang belum atau sudah berumahtangga masih tertatih-tatih mengurus persalan keuangan, belum lagi masalah jeratan hutang dan rentenir, pemasukan atau cashflow yang lebih besar pasak daripada tiang. “Sungguh hal itu membuat saya berpikir, jadi selama ini kenapa saya hanya sibuk pada urusan diri sendiri sementara permasalahan itu ada dan nyata di sekeliling saya,” ungkapnya.

Perempuan lulusan jenjang Doktor Universitas Gajah Mada ini mengungkapkan sebelum dirinya mengalami sakit yang membuat ia harus mengenakan kursi roda untuk beraktivitas, ia masih fokus di riset-riset soal keuangan. Namun saat ini ia justru memiliki semangat luar biasa untung mengembangkan GCK –dengan anggota relawan mahasiswa dari berbagai kampus- menjadi sebuah lembaga yang memberi manfaat.

Sebab, Ratna menyadari jika memberikan edukasi bagi perempuan sejatinya bukanlah upaya yang mudah, bagaimana kemudian mengedukasi mereka bergantung dengan level pendapatan, latar belakang, pemahaman pada literasi keuangan, treat-nya tentu berbeda. Pun juga memberikan pemahaman bagi mereka bagaimana mengenalkan literasi keuangan sejak dini pada anak-anak mereka.  “Literasi keuangan ada 3 tahapan mulai dari usia 3-5 tahun, usia SD, dan dewasa. Pada masa usia 3-5 tahun biasa disebut eksekutif function self control. Mudahnya begini, anak diajari untuk mau bisa menunda kesenangan sesaat untuk jangka panjang,” ujar Ratna yang pernah meraih OJK Award kategori Tokoh Inspiratif di Bidang Pendidikan Literasi Keuangan.

Ia memberi ilustrasi, Marshmallow Test, yakni anak diberi permen dan mereka diminta untuk menahan tidak makan permen itu dengan jangka waktu tertentu, sampai berapa lama anak tahan sebelum ia mendapat hadiah permen lainnya yang lebih menarik. “Nah di situlah self control berlaku, mendapat hadiah karena bisa menahan apa yang menjadi keinginan mereka,” jelasnya,   Selain dengan metode melatih self control dengan Marshmallow Test, mereka juga mempunyai media berbasis kearifan lokal yakni, dongeng. Boneka Arjuna dan Buto menjadi ikonik penyampaian kampanye pentingnya literasi keuangan, masih ada juga video, permainan dan robot cerdas.

Sejauh ini kegiatan literasi keuangan yang sudah Ratna dan GJK kembangkan antara lain: literasi keuangan ibu rumah tangga Padukuhan Jogodayoh Desa Sumbermulyo, Bantul tanggal 28 Agustus 2016, literasi keuangan ibu-ibu Padukuhan Kalikijo, Triharjo Sleman, tanggal 28 Agustus 2016, kegiatan sosialisasi di Mejing Lor Ambarketawang Sleman dan masih banyak lainnya.

Dari kegiatan yang perah mereka lakukan GCK menitikberatkan pemahaman kepada ibu-ibu pemilik UMKM di daerah tentang pentingnya memiliki pengetahuan mengenai tata cara pengelolaan keuangan yang baik dan bijak. Kemudian Ibu-ibu memegang peran penting menjadi bendahara dalam keluarga. Kemampuan ibu rumah tangga dalam mengelola keuangan mampu menjadi salah satu faktor yang menentukan kesejahteraan keluarga. Mereka juga diberikan buku perencanaan keuangan yang diterbitkan oleh OJK dan banyak berbagi mengenai perencanaan keuangan dalam rumah tangga.

Ratna mengakui kalau ia sendiri tak bergerak, tak akan bisa bisa mencapai tujuan. Sebab, menurut Ratna berdasarkan data survei nasional keuangan, hanya 21,84% masyarakat yang memiliki well literate. Padahal literasi keuangan menjadi bekal masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Rendahnya kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan ditunjukkan oleh rendahnya tingkat tabungan dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Hal tersebut dapat diatasi dengan pendidikanliterasi keuangan

Berbekal semangat yang dimiliki Ratna, GCK menjadi oase untuk membangun masyarakat yang memiliki mindset cerdas keuangan. Cerdas keuangan memiliki beberapa konsep yang perlu dibangun, yaitu how to spend, how to save, how to share, dan how to invest. ‘Tugas berat’ itu kini disandang oleh para relawan GJK yang hingga kini telah mencapai 30 mahasiswa lintas kampus. Bahkan lantaran gebrakan itu, kegiatan GCK juga dilirik oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kota Yogyakarta untuk melakukan kegiatan yang sejalan.

GCK memiliki arti harapan dari sebuah komunitas untuk Generasi Cerdas Keuangan mempunyai rumah cerdas keuangan Indonesia yang menjadi pusat pembelajaran literasi keuangan. Banyak kegiatan pembelajaran literasi keuangan yang dilaksanakan di rumah cerdas keuangan. “Kami begitu ingin fasilitas masyarakat ini dapat digunakan secara maksimal dan berpengaruh bagi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara,” harap Ratna.

Dana Pembangunan Komunitas ala Paguyuban Kalijawi

Tak hanya GJK yang memiliki kegiatan literasi keuangan dan mampu memberdayakan banyak para perempuan, tak jauh dari Bantul, tepatnya di bantaran Kali Gajahwong dan Kali Winongo juga memiliki napas yang sama. Paguyuban Kalijawi, bermakna pinggir kali dari Jawa ini memiliki misi tidak sesederhana itu.

Sore itu, Kamis (12 Oktober 2017) mereka berkumpul di rumah Ibu Ika Sahat, salah satu anggota Paguyuban, tepatnya di RT 1/RW 1 Sapen Yogyakarta di sepanjang pinggiran rel kereta api. Tak sekadar kumpul, dalam agenda rutin yang berlangsung tanggal 12 di tiap bulannya itu banyak membahas kondisi terkini dari paguyuban dan tentu saja program utama mereka menabung serta simpan pinjam.

Ditemani sajian teh hangat, kacang rebus, pisang rebus dan hasil bumi lainnya mereka menyambut hangat kedatangan saya. Tak lupa, mereka juga mengikat kebersamaan anggota dengan apalagi kalau bukan arisan. Jumlahnya nominal arisan Rp.15.000 untuk kas dan Rp. 5000 untuk konsumsi.

Uniknya, Paguyuban Kalijawi ini dalam pemberdayaan kegiatan ekonominya ditopang oleh Dana Pembangunan Komunitas (DPK) yang terbagi menjadi bagian sosial (kesehatan dan pendidikan), ekonomi, permukiman, dan kasus khusus manakala ada anggota yang terjerat dengan rentenir di tempat lain berbunga tinggi.

Menurut salah satu pengurus bernama Nisa (bendahara paguyuban), para anggota telah menyepakati besaran bunga apabila salah satu anggota ingin melakukan peminjaman. Besaran bunga berbeda-beda setiap jenisnya, permukiman 10 %, pendidikan 6 %, kesehatan 6 %, kasus khusus 6 %, dan paling tinggi ekonomi yaitu sebesar 12 %.

Mengapa ekonomi paling tinggi? Karena anggota meminjam untuk perintisan usaha yang akan menghasilkan profit. Anggota bisa meminjam sesuai kebutuhan, biasanya yang sudah-sudah hingga mencapai 10 juta untuk membayar hutang anggota pada rentenir. “Angsuran ibu-ibu di dalamnya ada tabungan sejumlah lima ribu rupiah, awalnya menabung dua ribu rupiah sehari, kemudian dikumpulkan selama berbulan-bulan. Dalam waktu 2 bulan mendapat tambahan pinjaman dari Lembaga Arkom. Tabungan dari ibu-ibu yang awalnya Cuma 1,2 juta menjdi 3 juta untuk renovasi permukiman,” tutur perempuan berkacamata ini.

Adanya dana pembangunan komunitas berkat tabungan yang tidak terputus. “Kami tidak bisa menutup mata setelah ada pinjaman ibu-ibu curhat, nabung dan angsur itu berat. Kami fleksibel, kalau tabungan itu ya semampunya saja. Tabungan bisa diambil dengan syarat pinjaman lunas, tabungan diambil hanya separuh dari yang sudah ada, setelah menjadi anggota 2 tahun. Tabungan harapannya tidak diambil karena berguna sebagai agunan,” jelasnya.

Menurut Ainun Murwani yang pernah mengetuai Kalijawi dan kini aktif di Divisi Advokasi dan jaringan, Kalijawi sangat terasa manfaatnya karena bicara soal keuangan tentulah hampir setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Berkaca pada kehidupan di kota yang cenderung sendiri-sendiri, misal ada kebutuhan mendesak atau musibah misalnya tak tahu harus meminjam kemana-mana. “Sementara jika mengelola sebuah paguyuban kan bisa membantu masalah tersebut,” ujarnya.

Baca juga: Ainun Murwani: “Bagi Kami Menabung Adalah Kekuatan”

Nilai yang paguyuban ini pegang adalah, bahwa uang tersimpan menggunakan prinsip tanggung renteng kelompok. “Kami mengajak menumbuhkan rasa solidaritas, di kelompok ada yang mengajukan pinjaman lalu verifikasi ada di kelompok. Ketika tidak bayar menjadi tanggungan kelompok. Jadi ada tanggungjawab, bahwa uang bukan milik orang tapi milik bersama. Ketika satu orang macet akan berimbas ke lainnya,” lanjut Ainun.

Misalnya ada satu kelompok sebanyak 10 orang, nah 9 orang inilah akan menanggung satu orang yang berhutang. Jika di tengah jalan ada yang tidak membayar tepat waktu maka perlahan akan didatangi anggota lainnya untuk menanyakan apa alasan dia tidak bisa mengembalikan uang bisa tersampaikan. Yang terpenting bisa menyelesaikan permasalahan bersama.

Sungguh, kehadiran Kalijawi telah mengubah banyak kehidupan anggotanya. Seperti yang mantap dikatakan oleh Lili. “Tadinya saya belum bisa renovasi rumah, masih dekat sekali dengan kali. Setelah menabung saya bisa pinjam untuk perbaikan rumah,” ucap Lili. Praktis, kini ia hanya menggunakan tabungan dari bank konvensional untuk pemasukan gaji per bulan.  Lili juga merasakan manfaat saat mengikuti pelatihan menanam obat keluarga melalui media Polybag. “Dengan belajar menanam saya jadi bisa menghasilkan keuangan tambahan,” lanjut Lili. Itu artinya ia mampu mengubah kondisi keuangan menjadi tidak tergantung lagi, bisa menghidupi dengan cara mandiri.

Senada dengan Murni, hidupnya pun berubah lantaran menjadi anggota Kalijawi. “Saya jadi bisa menabung sedikit demi sedikit, kemudian bisa pinjam untuk buka warung kelontong yang bisa menghasilkan keuntungan,” ujarnya. Ia pun memilih tidak menabung di bank konvensional lantaran kalau mau pinjam uang untuk modal usaha, syarat yang diminta tak mampu ia penuhi.

Lain halnya dengan anggota bernama Tatik yang belum lama menjadi anggota paguyuban ingin tahu berapa banyak kegiatannya. “Selama ini mungkin baru informasi ada pelatihan-pelatihan, peminjaman, sejauh ini karena saya belum tahu persis, saya ingin tahu kalau sudah tahu dan bermanfaat dan akan jalani,” ujarnya.

Ika Sahat, yang saat itu menjadi nyonya rumah kumpulan mengatakan bahwa kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh Kalijawi banyak memberi manfaat khusus bagi masyarakat di sekitar bantaran kali yang sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke bawah. “Kesehatan dan pedidikan juga sangat penting dan melalui Kalijawi sedikit banyak bisa mejawab kekhawatiran itu,” ungkapya.

Paguyuban ini mulanya dibidani oleh Lembaga Arkom Yogyakarta yang mengadakan pemetaan yang awalnya di 2 kampung dan akhirnya 31 kampung, masalah bantaran sungai itu sama yaitu: status tanah, sampah, dan air. Akhirnya bulan Juli warga dikumpulkan dari dari beberapa kampung, sharing dan mencari cara. Lahirlah Paguyuban Kalijawi sekitar tahun 2012.

Di Kalijawi, pekerjaan tidak hanya dibebankan satu orang. Sekarang terdapat 7 divisi terdiri dari: kesekretriatan, permukiman, ekonomi, sosial masyarakat , pendidikan, kesehatan dan divisi advokasi jaringan. Ke depan kalijawi sebagai organisasi ingin punya kemandirian dana, selama ini kalijawi memegang misi sosial untuk pemberdayaan perempuan dalam hal pengelolaan keuangan dan pemberdayaan perempuan.

Saking tak ingin membebani anggotannya, Kalijawi bahkan juga melakukan survei penerapan bunga terendah di luar paguyuban, sebab biar bagaimaa pun tabungan adalah kekuatan dan modal bagi mereka. “Ketika mau bernegosiasi dengan pemerintah yang kita andalkan adalah tabungan, itu bukti bahwa kami punya kemampuan berswadaya. Tabungan sebisa mungkin tak pernah habis diambil karena sebagai modal dan kekuatan. Kami,” pungkas Ainun. Lantaran keunikan paguyuban inilah banyak masyarakat yang menyebutnya Grammen Bank dari Jogja.

Sementara itu, dalam keterangan terpisah, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK Sondang Martha Samosir mengatakan jika pada tahun sejak tahun 2013 ada 1.825 perempuan, tahun 2014 sebanyak 214, 2015 ada sekitar 624, tahun 2016 sebanyak 438, dan 2017 sebanyak 1.568. Jadi total perempuan yang teredukasi mengenai pemahaman literasi keuangan sudah mencapai angka 6.468 orang.

“Peningkatan lumayan ya meskipun tidak terlalu signifikan. Kami arahnya bukan hanya IRT tapi semua perempuan lintas sektor agar mereka teredukasi mengenai keuangan. Sebab, selama ini yang menjadi kendala adalah selain pengetahuan yang masih sangat terbatas, waktu mereka juga habis untuk bekerja dan bekerja sehingga effort untuk meng-upgrade diri dirasa masih kurang,” paparnya.
Jadi, lanjut Sondang, sebaiknya ibu-ibu diberikan kesempatan untuk belajar mengenai perencanaan keuangan. Jadi arahnya sekarang bagaimana merencanakan supaya ibu-ibu itu bisa merencanakan keuangan dengan baik.

Berbicara mengenai program literasi keuangan khususnya untuk perempuan, tentunya tak lepas dari peran bank atau jasa keuangan. Salah satunya adalah program yang diinisiasi oleh Standard Chartered Bank Indonesia. Melalui program GOAL yang diluncurkan Maret tahun ini. GOAL merupakan program Bank dalam pemberian pelatihan dan keterampilan kepada remaja puteri usia antara 12 hingga 20 tahun di 20 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sesuai dengan namanya, materi diberikan dalam bentuk kombinasi antara olahraga dan pelatihan keterampilan. GOAL bertujuan memberdayakan remaja puteri serta melengkapi mereka dengan rasa percaya diri serta pengetahuan ekonomi agar dapat bermanfaat di keluarga dan masyarakat. Di Indonesia sendiri, program GOAL ini memiliki target untuk menjangkau sebanyak 1.500 remaja puteri hingga 2018. Selain bekerjasama dengan Yayasan Mitra Mandiri Indonesia (YMMI) untuk melaksanakan program ini di 10 sekolah menengah pertama dan 2 rusunawa di Jakarta, Bank juga akan melaksanakan GOAL dengan melibatkan staf sebagai relawan dan akan berlangsung di 4 kota, yaitu Surabaya, Semarang, Medan, dan Denpasar.

Empat modul yang diajarkan adalah Be Money Savvy fokus pada edukasi finansial, Be Yourself fokus pada membangun cara berkomunikasi, Be Healthy fokus pada pemahaman akan kebersihan dan kesehatan diri sendiri, dan Be Empowered fokus pada pengembangan kepercayaan diri. Program GOAL di Indonesia juga turut didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Kementerian Pendidikan Nasional

Tak hanya program GOAL, Bank juga memberikan edukasi keuangan bagi ibu-ibu yang bertempat tinggal di rusunawa Jatinegara. Materi yang diberikan termasuk diantaranya menentukan prioritas antara kebutuhan dan keinginan, manfaat dan produk-produk bank, serta bagaimana mengelola keuangan secara sederhana.

Head of Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia, Dody Rochadi mengatakan bahwa pihaknya melihat perempuan, termasuk remaja putri, sebagai modalitas yang berperan penting dalam perputaran roda ekonomi suatu negara. “Sayangnya, perempuan seringkali menghadapi tantangan terkait keterlibatan mereka dalam ekonomi, tidak hanya dalam kaitannya dengan tantangan modal, tetapi juga tidak tersedianya dukungan sosial yang relevan,” paparnya.

Sejalan dengan komitmen untuk memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat di negara-negara kami beroperasi, kami juga fokus memberikan pengetahuan dan keahlian kepada perempuan sehingga mereka dapat memiliki peran yang sama dengan pria. Salah satu bentuk komitmen kami dalam meningkatkan kapasitas perempuan adalah melalui program GOAL yang diperuntukkan bagi remaja puteri.

Sinergi antara berbagai elemen masyarakat yang ikut mendukung pemahaman literasi keuangan, dampaknya kelak tak hanya membuat perempuan berdaya dalam memahami dan mengelola keuangan, salah satunya di keluarga. Tetapi juga bisa menularkan semangat itu dari lingkungan yang paling dekat dari si perempuan, tinggal ia pada akhirnya memilih apakah mau berdaya atau ya nanti saja. (Teks: Ecka Pramita/Foto: Ecka Pramita/Doc Pribadi/Ilustrasi: Shutterstock)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: