Penghargaan Pahlawan Nasional untuk Laksamana Malahayati

Kongres Wanita Indonesia menginisiasi usulan Pahlawan Nasional Laksamana Malahayati.
, Majalah Kartini | 09/11/2017 - 11:30

MajalahKartini.co.id – Setelah melalui proses sekira dua tahun lalu Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) berhasil mengusulan Pahlawan Nasional Perempuan Laksamana Malahayati. Ditetapkannya Malahayati sebagai pahlawan nasional menambah deretan pahlawan perempuan yang kini berjumlah 13. Meski kuota pahlawan perempuan masih di bawah 10 persen dari semua pahlawan nasional Tanah Air.

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd selaku Ketua KOWANI menjelaskan bahwa Pahlawan Nasional Perempuan Laksamana Malahayati sekaligus menggambarkan keterlibatan beberapa stakeholder dalam sukses story pengusulan tersebut. “Indonesia salah satu negara merdeka yang direbut dengan nyawa dan darah jutaan para syuhada, yang mampu merebut kemerdekaannya dari penjajah yang kejam lalim dan rakus, setelah melalui rangkaian panjang perjuangan dan berliku-liku, yang dapat dipastikan telah mengorbankan nyawa jutaan para patriot kesatria, pejuang sejati, mereka tidak pernah memiliki pamrih dan minta dibalas jasa-jasa mereka,” jelas Giwo kepada majalahkartini.co.id Minggu (5/11).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa para pahlawan berjuang untuk memperoleh hak hakiki dan martabat sebagai insan ciptaan Tuhan memiliki hak fundamental yaitu hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama. Hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut.

Baca juga: Bersama Para Inong Balee, Malahayati Pukul Mundur Pasukan Belanda

Apapun cara mereka meninggal, dan siapapun mereka, serta darimana asal usul mereka, bagi saya mereka adalah pahlawan sejati, sayang sekali didalam perjalanan waktu lahirlah prosesi dan prosedur pemasangan atribut pahlawan tersebut. Salah satuya adalah pahlawan nasional, meskipun tata cara penetapannya mengundang debatable tapi apa hendak dikata diulang tahun ke 72 RI kita mencatat jumlah pahlawan nasional kurang dari 170 orang jumlah yang sangat sedikit.

“Ada hipotesis dan adigium yang beredar sebagaimana para dermawan sejati yang tidak mau dicatat sebagai dermawan, bisa jadi demikian pula dengan para pahlawan, dalam hal ini keluarganya juga enggan meng-klaim diri sebagai keluarga pahlawan apalagi dengan birokrasi yang rumit,” jelas Giwo menceritakan.

Jika hal ini terjadi menurutnya betapa kita menjadi bangsa yang sangat tidak mampu menghargai jasa para pahlawannya, karena pastilah pada era perjuang kepahlawanan tidak dilaksanakan kegiatan administrasi sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara yang memiliki peradaban yang jauh lebih tinggi daripada kita. Bisa jadi kultur kita yang lebih humble dan tidak ingin menunjukkan perbuatan baik yang ditandai oleh beberapa motto misalnya “Rame ing wage, sepi ing pamrih” atau “jika tangan kanan memberi hendaknya tangan kiri tak perlu tahu” atau beberapa alasan-alasan yang belum kita pahami dan dengan keterbatasan kemampuan Forensic Biologi dan Forensic Sejarah, sulit dipercaya bahwa negara yang merdeka dengan nyawa dan darah hanya mampu mencatat 169 pahlawan nasional di ulang tahunnya yang ke 72.

“Lebih aneh Iagi hanya ada 12 pahlawan nasional perempuan padahal perjuangan perempuan yang jika diambil dan ditandai dari berdirinya KOWANI) sudah ada dan telah berjuang bersama-sama dengan laki-Iaki sejah tahun 1928,” katanya. “Dugaan saya, semakin kemari akan semakin sulit kita memiliki pahlawan nasional selain karena tidak ada perang secara fisik bisa juga karena nilai penghormatan kita kepada pahlawan akan semakin bergeser. Hal tersebut ditandai semakin rendahnya minat para murid mempelajari sejarah dan museumnya serta miskinnya kemampuan para sutradara film merekontruksi sejarah untuk mampu membangkitkan patriotism dan nasionalisme para generasi muda. Demikian pula dengan para pengarang termasuk para pencipta Iagu,” paparnya.

Untunglah Presiden Soekarno pernah melontarkan satu kalimat “JAS MERAH” jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sejalan dengan KOWANI yang akan terus berjuang tidak mengenal lelah walaupun sudah diera kemerdekaan, karena KOWANI memiliki perjuangan belum selesai untuk menjadi Ibu Bangsa yang harus mempersiapkan generasi muda yang berdaya saing, unggul, inovatif, kreatif yang berjiwa patriotic dan nasionalism.

“Untuk hal tersebut kami memerlukan Role Model perempuan sejati yang sebagian besar terinsprirasi dari kepahlawanan para perempuan. Salah satunya adalah Laksamana Malahayati yang berani heroic dan sangat hebat sepak terjangnya dan tersohor sampai belahan bumi,” tambah Giwo. Meskipun melalui berbagai tantangan serta prosuder dan birokrasi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, KOWANI bertekad untuk mengusulkan Laksamana Malahayati sebagai pahlawan nasional perempuan ke 13.(Foto : Andim)

Tags: , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: