Maureen Hitipeuw: Panggil Kami Ibu Tunggal Saja

Maureen percaya kehadiran sebuah komunitas tak hanya bisa perlahan mengobati luka tetapi juga optimis untuk bahagia.
, Majalah Kartini | 04/12/2017 - 15:03

 

MajalahKartini.co.id – Stigma masyarakat terhadap status single mom atau ibu tunggal, menjadi pemantik semangat yang tak terelakkan bagi Maureen Hitipeuw. Berawal dari kegelisahan yang pernah ia alami dalam fase jatuh terpuruk saat sidang perpisahan diketuk tahun 2010 lalu, ia merasa seperti berjalan sendiri. Ingin sekali membagi perih tapi lingkungan di sekitarnya tak ada satu pun yang mengalami apa yang tengah ia rasakan.

Di tengah jalan, seraya tertatih dan betahan untuk sang putra, ia bertemu dengan beberapa teman dengan nasib yang sama di suatu acara launching buku. Tak ingin berlama-lama, Maureen pun termotivasi membentuk dan mengelola Komunitas Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Wadah itu ia cetuskan setelah berkenalan dengan beberapa ibu tunggal lain dan merasa belum ada wadah khusus bagi mereka untuk saling mendukung dan menguatkan.

Komunitas SMI yang terdapat di Fanspage dan Private Group Facebook, selama ini concern pada pengembangan mental dan finansial bagi para perempuan pencari nafkah utama atau ia dan para anggota lebih nyaman menyebutnya dengan ibu tunggal. Ditemui di salah satu kawasan pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Selatan, Maureen yang sore itu mengenakan blouse hitam, dengan hangat dan bersahabat tak sungkan berbagi kepada MajalahKartini.co.id.

Sebagai pekerja lepas, Maureen paham betul masalah para ibu tunggal, terutama terkait finansial. Ibu tunggal dengan satu putera yang berusia hampir 11 tahun ini ingin Komunitas SMI bisa membuka kesempatan lebih banyak bagi para ibu tunggal untuk berkreasi dan berkarya sesuai kemampuan. Berbagi ilmu dan dukungan mental juga bisa didapatkan dari sesama anggota.

“Kami butuh wadah, selain untuk belajar melepas trauma dan melangkah ke depan, kami juga ingin sama-sama saling menguatkan,” paparnya. Ia merasa masih banyak stigma yang melekat pada seorang ibu tunggal. tahu sendiri lah sekarang seperti apa. Padahal, lanjutnya, tak ada yang sebenar-benarnya ingin mengalami posisi sekarang ini. “Belum lagi mengadapi masalah internal ya soal hak asuh anak, nafkah anak dan lain sebagainya ditambah lagi stigma sosial yang kerap disematkan pada kami,” ungkapnya.

Maureen yang pernah melewati masa-masa terpuruk, lambat laun -tepatnya dua tahun lalu-  mulai fight untuk berdamai dengan kisah masa lalunya, motivasi utamanya adalah karena sang anak. Ia juga sadar benar tak mudah memberikan semangat pada anggota agar pelan-pelan bangkit dari masalah, Sebab proses healing dari anggota berbeda-beda prosesnya.

“Melalui SMI ini saya belajar banyak, menjalani proses demi proses hingga sampai di titik ini,” ujarnya.  Lebih jauh, ia berharap SMI dapat menginspirasi ibu tunggal di Indonesia untuk hidup lebih bahagia. Saat ini, anggota SMI telah berjumlah lebih dari 350 orang dari yang sebelumnya 3 orang, dan tersebar di seluruh nusantara juga di luar negeri.

Bila Ibu Tunggal Nyalakan Lilin

Selain berkelindan menghadapi tekanan sosial dan mental yang tak terperi. Perempuan-perempuan tangguh ini mengadapi problem kompleks nan pelik bernama keuangan. Bagaimana seorang perempuan bisa tetap menghidupi ‘dapur’ mereka dengan hanya satu lilin.Menurut Maureen, menjadi perempuan pencari utama nafkah keluarga atau ibu tunggal adalah takdir, sebab tak seorang pun memilih berada dalam posisi ini.

Artinya jika tak ‘nyemplung’ dulu memang tak ada gambaran bisa merasakan bagaimana rencana ke depan dan apa yang harus para ibu tunggal lakukan dengan sumber nafkah hanya dari satu orang. “Bayangkan, jika selama ini selalu ada teman berbagi peran, kini apa-apa yang menyangkut keuangan kami putuskan sendiri, tentu situasi yang mendadak dan mau tidak mau harus kami jalani,” ujar perempuan kelahiran 2 Maret 1979 ini.

Saya sendiri, lanjut Maureen, selama menikah memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga selama 5 tahun, terbiasa pemasukan dari suami. Lantas karena berpisah harus mulai keluar dari zona nyaman dan kembali mencari pekerjaan. “8 bulan saya kemana-mana mencari pekerjaan, dan dimasa itulah betapa peran orang tua saya sangat mendukung khususnya secara finansial untuk anak saya,” ujanya. Namun, tambah perempuan yang hobi traveling ini, bukan lantas terus menerus bergantung pada orang tua, sudah harus mulai mandiri. Selain dengan bekerja reguler, pekerjaan sampingan juga dijalani agar kondisi keuangan tetap stabil.

Perbedaan paling mendasar adalah penentuan ihwal skala prioritas yang tentu saja tak bisa ditawar, apalagi jika memiliki anak lebih dari satu misalnya. “Tentu saja bagi kami sebagai ibu tunggal semuanya untuk anak. Mulai dari pendidikan, kebutuhan sehari-hari, makan, dan jika anak- ingin jalan-jalan atau hiburan. Jujur, pada awalnya berat ya pendapatan dari kerja langsung habis dipost-kan pada kebutuhan anak, belum ada post buat menabung terlebih asuransi seperti saat masih dalam pernikahan,” paparnya.

Bahkan, Maureen mengaku untuk kebutuhan pribadi pun dikorbankan, yang penting adalah kebutuhan anak. “Dari yang semula kadang tak bisa bedakan antara kebutuhan dan keinginan sendiri, jadi lebih bisa menahan dan mengontrol, dan selalu ingat kebutuhan anak lah yang utama. Mau tidak mau lifestyle saya pun jadi berubah, mulai dari pakaian, sepatu, tas sampai kosmetik pun mengalami down grade menyesuaikan dengan keadaan,’ ujarnya diiringi gelak tawa.

Kebetulan sebelum kondisi keuangan Maureen stabil seperti sekarang ia masih mengandalkan kartu kredit. Karena posisi belum bekerja, akhirnya hutang bertumpuk, lalu ia memutuskan menutup kartu kredit dan sekarang berpikir ulang kalau mau pakai kartu kredit lagi. “Sampai kini saya cuma pakai tabungan agar bisa menahan tidak menggunakan untuk hal yang tidak menjadi kebutuhan. Pada akhirnya saya pun harus memberikan pemahaman pada anak soal kondisi keuangan yang tidak lagi seperti dulu,” ungkap Maureen yang aktif di sosial media ini.

Sampai saat ini anggota di SMI mayoritas masih struggle berjuang di wilayah keuangan, bahkan kalau misal kita ada acara atau gathering tidak bisa hadir karena terkendala dengan masalah finansial. Anggota SMI beragam, ada yang memang sebelum jadi ibu tunggal sudah memiliki karier yang bagus, ada yang menjadi ibu rumah tangga dan lain sebagainya. “Komunitas ini saya harapkan bisa memberikan penguatan sekaligus memfasilitasi mereka dalam hal pemberdayaan khususnya secara finansial, mulai dari pemberdayaan ekonomi hingga cara mengatur keuangan keluarga,” pungkasnya.

Sedari terbentuk, Komunitas SMI telah beberapa kali mengadakan kegiatan, meski diakui Maureen mengadakan kegiatan -apalagi berbayar- bagi para ibu tunggal bukanlah perkara semudah membalikkan telapak tangan. “Saya menyadari bahwa prioritas anggota adalah berdamai dengan dirinya sendiri masing-masing dulu. Jadi soal pertemuan dan gathering kami tidak mengharuskan,” imbuhnya. Meski demikian, ia bersama timnya tetap semangat mengadakan kegiatan-kegiatan yang bisa membawa pengalaman dan skill baru bagi para anggota. Berikut kegiatan yang sudah pernah dilakukan oleh Komunitas SMI:

1. Kegiatan bulanan sejak Januari 2017 bertema beragam contohnya diskusi dengan pengacara perceraian, belajar meditasi, tips hidup sehat, diskusi perihal penggunaan gadget pada anak-anak bekerjasama dengan SHINE, sharing sessions/focus group discussions. Kami sudah melakukan kegiatan di Bandung untuk sesi sharing juga.

2. Kegiatan online di group FB maupun Whatsapp group di mana SMI mengajak semua anggota untuk berpikiran positif, untuk bangkit dan semangat lagi.

3. Mulai bulan ini mengadakan KulWAP (Kuliah Whatsapp) diskusi via whatsapp untuk anggota SMI mengingat masih banyak yang berada di luar Jakarta tau tidak bisa hadir di acara kami.

4.  Gathering penutup tahun 2017 kali ini SMI mengadakan sesi diskusi perihal “Limiting Belief” dipandu oleh narasumber Nathan McCullough. Nathan adalah personal development speaker juga health and lifestyle coach. Bertempat di Rumah Remedi Kemang, pada hari Sabtu (16/12) pukul 15.00-17.000 WIB. (Foto: Doc. Pribadi)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: