Lien Kameron: Setiap Orang Bisa Menjadi Guru

Peluncuran buku ini merupakan persembahan khusus dan istimewa untuk sosok Lien Kameron.
, Majalah Kartini | 24/10/2017 - 17:02

MajalahKartini.co.id – Merayakan ulang tahun ke-72, besan Guntur Soekarnoputra yang juga seorang yang aktif di bidang sosial, Lien Kameron mengeluarkan buku Sosok Ibu Penyeimbang dan Perekat. Terlahir dengan nama Halimah Sari Pohan, di Padang Sidempuan, Medan, pada 14 Oktober 1945. Putri kesembilan dari sebelas bersaudara pasangan AbubakarUmar Pohan dab Sariani Dalimunthe. Menikah dengan Muhamad Kameron pada 1 Mei 1964 di Palembang, Sumatera Selatan.

Pasangan Lien dan Muhamad Kameron dikaruniai enam orang, antara lain Gustiansah, Jaya Kameron, Rifkiansah Jaya Kameron, Charyll Andriansyah Jaya Kameron, Johansyah Jaya Kameron, Panca Sunu Kameron, dan Adi’a Maya Sari Kameron. Salah satu putranya, Johansyah Jaya Kameron menikah dengan putri Guntur Soekarnoputra. Johansyah yang biasa disapa Joy ini menikah dengan Puti Guntur Soekarnoputri, cucu Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno.

Dalam acara peluncuran buku ini merupakan persembahan khusus dan istimewa untuk sosok Lien Kameron. Dalam usiannya 72 tahun Lien Kameron mampu menempatkan diri sebagai pendengar, pengamat dan penilai dalam setiap situasi. Tak heran bila pendapat Lien yang aktif di berbagai kegiatan organisasi dan kemasyarakatan, sering didengar di saat situasi sudah menjadi rumit dalam berbagai diskusi.

Ada beberapa organisasi yang diikuti oleh Lien Kameron, antara lain IWAPI, Perempuan Bumi Sriwijaya. Lien juga aktif di berbagai arisan yaitu Arisan Happy-happy, Arisan Can’k Manis, Arisan Ibu Hebat atau Ibu-ibu Brawijaya yang menjadi cikal bakal pendirian BaDja Dharma. Kemudian Lien juga aktif di beberpa pengajian antaran lain Pengajian Salsabila, Pengajian Ikatan Perempuan Palembang, Pengajian Aya’na, dan Pengajian Namira,

Puti Guntur Soekarnoputri menilai Lien Kameron, sosk yang tidak pernah marah, bijaksana, mau menjadi pendengar yang baik, selalu bijak menanggapi cerita yang datang padanya. “Mama atau Opung adalah pribadi yang selalu bersedia membantu pada siapapun. Opung tidak pernah membeda-bedakan menantunya. Beliau, selalu memiliki cinta, kasih dan sayang yang besar kepada kami para anak dan menantunya tanpa membedakan,” kata Puti tentang sosok mertuanya.

Kemudian Puti juga mengibaratkan Lien Kameron seperti psikolog handal yang jitu dan tahu bagaimana menghadapi berinteraksi dengan banyak orang bahkan dengan sifat yang berbeda-beda. Lien menceritakan tentang organisasi IWAPI yang diikutinya.

“Organisasi ini yang menjadi cikal bakal saya aktif menjadi pengurus, sampai ke Jakarta. Saya mendapat pengalaman serta kesempatan emas menghadiri acara-acara IWAPI yang dihadiri para Menteri dan Ibu Tien Soeharto. Di kegiatan keorganisasian dan kemasyarakatan, sosok Lien memeng dikenal sebagai penyeimbang dan perekat.

“Saya selalu menerapkan dalam diri untuk memulai sesuatu lebih dulu. Misal terhadap menantu atau adik-adik saya di organisasi, saya akan bertanya lebih dulu atau menyapa lebih dulu dalam memulai komunikasi. Tidak setiap orangberani menyapa lebih dulu, maka saya harus memulai membuka percakapan,” katanya.

Lien yang juga aktif di BaDja Dharma menuturkan, “Kesulitannya lebih kompleks, karena kami di BaDja Dharma harus mencari dana untuk kampanye, mencari tempat kampanye, menyediakan atribut kampanye, dan lainnya. Tidak jarang kami harus blusukan untuk mensosialisasi program BaDja ke masyarakat. Persinggungannya sangat tajam saat itu,” ujarnya.

Sulistyani yang menjadi penggagas ide dan mempersembahkan penulisan buku ini menuturkan, sebagai pengagas relawan Badja Darma dan relawan Seknas Jokowi serta terlibat pertemuan gagasan awal “relawan Ibu Hebat” melalui sosok Ibu Lien menemukan pembelajaran bahwa relawan bisa menjadi wadah bagi semua orng tuk mencari pemimpin tidak harus menjadi politisi yang serius. “Nilai-nilai kesukarelawanan ini akhirnya tumbuh menjadi kebiasan baik untuk turut peduli membangun bangsa,” kata Sulis.

Kemudian Sulis juga menjelaskan tentang kelompok relawan juga bisa diikuti oleh berbagai kalanagan dan usia. “Usia tua tidak menjadi persoalan untuk aktif, hal ini mengispirasi lahirnya buku profile ini yang menjelaskan bagaimana sosok Lien Kameron yang sangat kental dengan sosok keibu-annya menjadi penyeimbang dan perekat,” kata dia.

Melalui buku ini Sulis mengatakan, “Diangkat melalui penulisan supaya kelihatan nilai-nilai yang bisa di baca oleh anak cucu. Kemudian Sulis juga menerangkan tulisan akan lebih mengena dibanding denagn hanya mendengarkan cerita atau hanya kumpulan foto-foto. Ibu-ibu rumah tangga yang selama ini dinomorduakan justru memikiki peran yang sangat penting untuk kemajuan bangsa.

Kedepannya, Sulis mengharapkan nilai-nilai yang ada di dalam buku ini bisa dibaca supaya menjadi warisan untuk oorang muda atau generasi milenial. Harapannya sehingga tidak kehilangan karakter tentang sosok Ibu, yang menjadi pendidikan atau universitas pertama untuk setiap anak. “Setiap Orang itu Guru” alam raya sekolah atau pengalaman adalah sekolah sebenarnya. “Diharapkan pengalaman seperti sosok Lien yang ada atau tokoh dalam profil ini akan menjadi pembelajaran penting bagi generasi muda yang akan datang,” ucapnya. (Foto : Istimewa)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: