Empat Perempuan Peneliti Ini Akan Mengubah Masa Depan Dunia Medis Indonesia

Sosok empat perempuan peneliti brilian baru membuktikan prestasinya melalui penelitian yang akan direalisasikan untuk mengubah masa depan dunia medis di Indonesia.
, Majalah Kartini | 10/11/2017 - 16:05

MajalahKartini.co.id – Para perempuan peneliti dapat membantu memperbaiki teknik deteksi dini penyakit mematikan, menurunkan biaya pengobatan, mengembangkan prosedur medis yang aman guna peningkatan kualitas hidup. Tentu ini menjadi penting, melihat bagaimana hal tersebut dapat membawa perubahan untuk negara ini.

Untuk itulah, setiap tahunnya L’ORÉAL – UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards mempersembahkan rencana penelitian yang akan dilakukan oleh para perempuan peneliti di tanah air. Tahun ini, empat perempuan peneliti brilian baru membuktikan prestasinya melalui penelitian yang akan direalisasikan untuk mengubah masa depan dunia medis di Indonesia. Berikut sosok keempat perempuan peneliti yang bercita-cita mengubah dunia medis di Indonesia.

1. Dr. Yuliati Herbani (Pusat Penelitian Fisika, LIPI)

Yuliati dalam presentasinya mengaku ingin berkontribusi lebih kepada para perempuan khususnya penyakit kanker. Sebab, kanker serviks dan kanker payudara masih menjadi pembunuh fatal untuk perempuan. Dalam proposal penelitiannya ini, Yuliati mengambil tema Sintesis Nanopartikel Kurkumin-Emas dengan Teknik Ablasi Laser Femtosekon dan Studi Bioaktivitas Cytotoxic pada Sel Kanker.
Dengan memanfaatkan keunggulan dari masing-masing nanopartikel, diharapkan adanya efek sinergi dengan efek samping minimal untuk terapi kanker yang saat ini masih dalam tahap uji klinis.

“Penelitian ini berbeda karena pembuatan nanopartikel dilakukan melalui sintesis kimia yang memiliki beberapa efek samping seperti sisa residu, namun dengan sintesis fisika (laser), nanopartikel yang dihasilkan lebih bersih. Emas sudah biasa digunakan dalam pembuatan nanopartikel. Kunyit (kurkumin) yang diketahui memiliki kemampuan untuk mematikan sel kanker, sayangnya masih belum digunakan untuk obat kanker secara klinis karena tingkat solubilitas yang rendah,’ papar perempuan kelahiran 16 Juli 1979 ini.

Tetapi, lanjut Yuliati, kunyit dalam bentuk nanopartikel (Cur-NPs) telah terbukti secara klinis memperlihatkan solubilitas dan bioavailabilitas yang lebih tinggi. Efisiensi terapi dari kunyit akan meningkat dengan mengaplikasikannya dalam berbagai bentuk secara nano. Saat ini kunyit dalam penelitian dan masih dalam tahap uji klinis.

Yuliati ternyata sudah memiliki ketertarikan dengan dunia sains dari kecil. Ketertarikannya terhadap sains berawal dari dunia nuklir, namun, ia akhirnya memutuskan untuk mengambil jurusan Fisika di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lulus pada bulan Februari tahun 2002. Kecintaannya kepada bidang laser bermula disini saat ia mengerjakan skripsi tentang interaksi laser dengan partikel. Tidak lama setelahnya, ia diterima bekerja sebagai peneliti di Puslit Fisika LiPI.

Keputusannya dalam mengambil jenjang karir sebagai peneliti awalnya tidak didukung oleh keluarga karena dianggap akan jauh lebih bermanfaat jika menjadi seorang guru atau dosen saja. Tetapi, hal ini tidak membuat Yuliati putus asa, bahkan membuatnya semakin mantap meraih beasiswa tingkat Magister di bidang Physics, di Universitas Queensland, Australia pada tahun 2007 dengan tesis tentang nanopartikel diamond untuk bioimaging, yang lebih membuka wawasannya di bidang nanoteknologi.

Ketertarikannya pada bidang laser dan nanoteknologi ini kemudian mendorongnya untuk mengambil beasiswa tingkat doktor pada bidang Laser Applied Material Science di Universitas Tohuku, Jepang, pada tahun 2011. Selain mahir berbahasa Inggris dan Jepang, perempuan yang saat ini bekerja sebagai peneliti juga memiliki banyak prestasi. Di tahun 2007, ia mendapat penghargaan pasca sarjana di Universitas Queensland. Di tahun 2011 ia meraih penghargaan Best Poster Award di IMRAM Graduate Student Conference. Kini di tahun 2017, Yuliati Herbani terpilih sebagai salah satu peneliti perempuan Indonesia yang memenangkan L’Oréal For Women in Science.

2. Dr. Siti Nurul Aisyiyah Jenie (Pusat Penelitian Kimia, LIPI)

Penelitian Siti adalah Pengembangan Nanopartikel Berfluoresens Berbasis Silika Alam Indonesia Untuk Bioimaging Optik, yaitu pembuatan nanopartikel dari silika dan fluoresens untuk mendeteksi dini adanya penyakit kanker pada tubuh manusia, yang nantinya diharapkan mengurangi beban ekonomi pasien.  “Proses pembuatan nanopartikel yang saya lakukan menggunakan metode Modified Sol Gel, dimana silika yang diekstrak dari bahan alami di Indonesia, akan diproses dengan basa dan ditambahkan dengan pewarna fluoresens. Setelah silika menjadi gel, kemudian didiamkan semalam dan dikeringkan untuk menghilangkan solvent. Silika yang telah dimodifikasi dan ditambah dengan fluoresens memiliki sensitivitas untuk mendeteksi sel kanker,” paparnya.

Siti Nurul Aisyiyah Jenie lulus sebagai sarjana jurusan Teknik Kimia di Universitas Gajah Mada pada tahun 2001. Perempuan kelahiran 16 Desember 1978 ini kemudian melanjutkan studi hingga mendapatkan gelar Magister Teknik pada bidang Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2004. Magister keduanya ia raih pada bidang Chemical Technology di Rijksuniversiteit Groningen, Netherlands dengan gelar Master of Science.

Tahun 2016, Dr. Siti menyelesaikan gelar doktor pada bidang Materials & Minerals Science di University of South Australia. Perempuan yang sangat menyukai matematika ini berharap para perempuan peneliti di Indonesia untuk tidak mudah menyerah, tetap berintegritas dan jujur meskipun terhalang berbagai keterbatasan dan tantangan.

Selain menjadi salah satu pemenang L’Oréal – UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017, Siti yang kerap disapa Ais ini telah menoreh banyak prestasi dan menerima beasiswa internasional sebagai delegasi resmi dari Indonesia untuk “Workshop on
Empowerment of Women through Science and Technology Interventions” di Teheran, Iran (2008), Research Grant by the Indonesian Institute of Science (Indonesian Government, 2008-2010), Australian Award AusAID Scholarship for PhD Program by the Australian Government (2011-2015) serta beasiswa Project Grant by Wound Management CRC Australia (2011-2015).

3. Yulia Yusrini Djabir SSI, MSI, MBMSC, PhD, APT (Kepala Laboratorium Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin)

Sebanyak 90% orang yang mengalami henti jantung meninggal karena prognosis yang buruk dan multi-organ failure. Penderita henti jantung karena asphyxia (tidak bernapas) memiliki peluang untuk pulih lebih rendah dibandingkan mereka yang mengalami serangan jantung. Saat ini, pasien henti jantung biasanya disuntikan ephedrine, yang dapat meningkatkan tekanan darah. Namun, ephedrine ini memiliki efek jantung menjadi tidak stabil.

Berdasarkan kasus di atas, maka Yulia tertarik untuk mengajukan penelitian bertajuk Evaluasi Efek Adenosine-LidocaineMagnesium pada Disfungsi Multiorgan dan Stres Oksidatif Akibat Asfiksia. ALM (Adenosine-Lidocaine-Magnesium) sudah biasa digunakan di Amerika Serikat dan Italia untuk menghentikan jantung dalam operasi jantung (dalam bentuk solusi cardioplegia, yang masih dalam tahap uji klinis).

ALM, menurut Yulia ketika diteliti, memiliki efek lebih lambat dari ephedrine, namun membuat ritme jantung lebih stabil dan memiliki prognosis yang lebih baik. “Jika ALM bisa melindungi semua organ, maka ALM dapat menjadi obat terapi untuk penderita henti jantung karena asphyxia dan juga berguna bagi preservasi organ untuk donor organ,’ harapnya.

Yulia Yusrini Djabir adalah seorang peneliti dan kepala laboratorium farmasi klinik, di Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin Makassar. Ia mendapatkan gelar Sarjana Sains di bidang Farmasi pada tahun 2001 dan melanjutkan kuliah di bidang Farmasi dengan gelar Apoteker pada tahun 2002 di Universitas Hasanuddin. Di tahun 2006 ia meraih beasiswa dari Australian Development Scholarship di tingkat Magister pada bidang Biomedical Sciences di James Cook University, Australia.

Ketertarikannya pada dunia sains telah tumbuh sejak kecil dan di dukung penuh oleh keluarganya terutama oleh ayahnya yang merupakan seorang dosen. Di tahun 2010, Dr. Yulia meneruskan studi S3 bersama suami yang juga melanjutkan S3 di bidang kedokteran (vaskuler) di James Cook University, Australia dengan beasiswa tingkat doktor di bidang Biomedical Sciences (Physiology and Pharmacology).

Tidak hanya memiliki pengalaman meneliti, Yulia juga memiliki sejumlah prestasi dan penghargaan, seperti Best Original Resuscitation Science Poster Session pada Simposium Resuscitation Science by American Heart Association (2011), dan Delivering Valedictory Speech for International Student Graduation Ceremony (2014).

4. Retno Wahyu Nurhayati STP, M.Eng. PhD. Eng (Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia)

Sel punca merupakan induk dari semua sel darah di dalam seluruh tubuh manusia. Kebutuhan akan sel punca sangat tinggi di dunia medis, namun sayangnya masih sulit mendapatkan donor sel punca karena jumlahnya terbatas tapi sangat dibutuhkan di dunia medis. Kebutuhan akan sel punca kompleks, harus disesuaikan dengan penerima. Sel punca membutuhkan protein supaya sesuai dengan tubuh, tanpa perlu penyesuaian.

Proposal penelitian saya mengenai pembuatan protein-protein untuk memaksimalkan sel punca (Hematopoietic stem cells) berjudul Mikroenkapsulasi Sel Punca Hematopoetic dengan Hidrogel Poli (Pro-Hyp-Gly) Menggunakan Immiscible “Saya membuat semacam ‘packaging’ di dalam tubuh, untuk membantu proses penerimaan protein di dalam tubuh agar tidak bertolak belakang. ‘Packaging’ dibuat dalam bentuk hydrogel (GMP) yang membuat sel-sel protein mudah masuk ke dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini ingin menurunkan dosis sel yang transplantasikan ke dalam tubuh dengan memasukkan packaging tersebut,’ ucap penggemar majalah Bobo ini.

Retno Wahyu Nurhayati lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan gelar Sarjana Teknologi Pertanian (STP) di bidang Ilmu dan Teknologi Pangan pada tahun 2010. Pengalaman meneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI selama tugas akhir sarjana memantapkan Retno untuk langsung melanjutkan studi untuk gelar Magister Teknik (M.Eng) di Osaka University, Jepang di bidang Bioreaction Engineering. Sesudah meraih gelar magister, ketertarikan Retno dengan dunia teknologi mendorongnya untuk meraih gelar doktor (PhD.Eng) di usia 27 tahun pada universitas yang sama di bidang Bioreaction Engineering pada tahun 2012.

Selama studinya di Jepang, ia mendapatkan dua penghargaan dari pemerintah Jepang, Monbukagakusho, yaitu penghargaan untuk Master and Doctoral Fellowship. Karena prestasinya di bidang riset stem cells, Retno kemudian diangkat menjadi Asisten Profesor di Osaka University, Jepang. “Meskipun fasilitas dan kesejahteraan selama bekerja di Jepang sangat menjanjikan, saya memiliki keinginan yang kuat untuk memajukan riset dan teknologi di Indonesia,’ ungkapnya. Keinginannya mengabdi di Indonesia mengantarkan
Retno saat ini bekerja di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Sebagai seorang peneliti di bidang teknologi biomedis, Retno telah memiliki banyak pengalaman dalam riset dan menulis jurnal ilmiah. Retno juga kerap tampil dalam konferensi sains dimana ia beberapa kali dipercaya untuk memberikan presentasi seperti di acara Society of Biotechnology Japan di Kobe, Jepang, 2012; pada acara German Society for Biochemistry and Molecular Biology, Frankfurt, Jerman di tahun 2013 dan pada acara Society of Chemical Engineers di Tokyo, Jepang di tahun 2015.

Keinginannya dalam berkontribusi dalam penelitian sel punca untuk Indonesia akhirnya membuatnya menjadi salah satu pemenang L’Oréal – UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017 dan menjadi pemenang termuda sejak penghargaan ini digelar. (Foto: Doc. Pribadi)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: