Bersama Para Inong Balee, Malahayati Pukul Mundur Pasukan Belanda

Laksamana Malahayati ikut memimpin langsung bertempur di garis depan melawan kekuatan Portugal dan Belanda yang hendak menguasai jalur laut Selat Malaka
, Majalah Kartini | 10/11/2017 - 11:04

MajalahKartini.co.id – Zaman dahulu perempuan kerap terpinggirkan dalam sejarah. Selain dilarang ikut andil dalam politik, kegiatan yang dapat dilakukan kaum Hawa pun terbatas. Namun rupanya di daerah Aceh tidaklah demikian, perempuan dan lelaki tidak pernah dibedakan, maka lahirlah sosok perempuan hebat dalam sejarah Indonesia. Namanya Malahayati, atau lebih dikenal Laksamana Malahayati asal Aceh.

Dalam catatan sejarah, Malahayati adalah laksamana laut pertama di dunia. Dia digambarkan sebagai panglima perang Kesultanan Aceh yang mampu menaklukkan armada angkatan Iaut Belanda dan bangsa Portugis (Portugal) pada abad ke-16 Masehi. Malahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah bin Laksamana Muhammad Said Syah. Sedangkan kakeknya merupakan putra Sultan Salahuddin Syah yang memimpin Aceh pada 1530-1539. Tak mengherankan bila kemudian pemilik nama asli Keumalahayati akrab dengan dunia angkatan laut. Sebelum memimpin peperangan, ia sempat mengenyam pendidikan akademi militer dan memperdalam ilmu kelautan di Baital Makdis atau Pusat Pendidikan Tentara Aceh.

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd selaku Ketua KOWANI selaku inisiator pemberian gelar Pahlawan Nasional Laksamana Malahayati menceritakan sepak terjang perempuan dengan semangat heroik ini. Kala itu, Malahayati bertemu dengan seorang perwira muda Laksamana Muda Ibrahim yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Dalam suatu perang melawan Portugal di Teluk Haru, armada Aceh sukses menghancurkan para prajurit bangsa Portugis.

Baca juga: Penghargaan Pahlawan Nasional untuk Laksamana Malahayati

Namun, pertempuran tersebut mengakibatkan sekitar seribu orang Aceh tewas, termasuk Iaksamana yang merupakan suami Malahayati. “Sepeninggal suaminya, Malahayati membentuk armada yang terdiri dari para perempuan yang suaminya gugur dalam pertempuran melawan bangsa Portugis. Armada pasukannya diberi nama Inong Balee atau Armada Perempuan Janda,” ujar Giwo saat ditemudi di sekretariat KOWANI Jl. Imam Bonjol, Jakarta, Minggu pagi (5/11).

Pangkalannya berada di Teluk Lamreh, Krueng Raya, Aceh. Ada 100 kapal perang dengan kapasitas 400-500 orang. Tiap kapal perang dilengkapi dengan meriam. Bahkan, kapal paling besar dilengkapi Iima meriam. Malahayati juga membangun benteng yang dinamai Benteng Inong Balee bersama pasukannya. Karier militer Malahayati terus menanjak hingga ia menduduki jabatan tertinggi di Angkatan Laut Kerajaan Aceh kala itu.

Sebagaimana layaknya para pemimpin zaman itu, Laksamana Malahayati ikut memimpin langsung bertempur di garis depan melawan kekuatan Portugal dan Belanda yang hendak menguasai jalur laut Selat Malaka. “Reputasi Malahayati sebagai penjaga pintu gerbang kerajaan membuat Inggris yang hendak masuk ke wilayah Aceh memilih untuk menempuh jalan damai. Surat dari Ratu Elizabeth I yang dibawa oleh James Lancaster untuk Sultan Aceh membuka jalan bagi Inggris untuk menuju Jawa dan membuka pos dagang di Banten,” jelas Giwo.

Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, juga mencoba menggoyang kekuasaan Aceh pada 1599. Namun, upayanya gagal. Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur oleh armada Inong Balee. Cornelis de Houtman tewas di tangan Laksamana Malahayati pada 11 September 1599. Sementara Prins Maurits yang memimpin Belanda saat itu berupaya memperbaiki hubungan dengan Aceh. Keduanya menggelar perundingan awal hingga tercapai sejumlah persetujuan.

Atas keberaniannya, nama Malahayati saat ini dijadikan nama jalan, pelabuhan, rumah sakit, perguruan tinggi hingga nama kapal perang, yakni KRI Malahayati. Bahkan lukisannya diabadikan di Museum Kapal Selam, Surabaya, Jawa Timur. “Itulah sekilas ringkasan sepak terjang Laksamana Malahayati, kita berharap kedepan kisah dan sejarah Laksamana Malahayati akan semakin lengkap, nyata dan tersingkap secara terang berderang sehingga dapat memberikan inspirasi bagi generasi penerus. (Foto : Ilustrasi)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: