Angkie Yudistira, Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas

Diskriminasi yang pernah dialami Angkie menjadi inspirasi dalam membangun sebuah perusahaan khusus untuk para penyandang disabilitas.
, Majalah Kartini | 16/12/2016 - 18:30

angkie-yudistira-perempuan-tuna-rungu-menembus-batas

MajalahKartini.co.id – Keterbatasan bukan permasalahan yang besar untuk menghalangi seorang Angkie Yudistia untuk tetap bermimpi, meraih sukses dan bisa berguna bagi orang lain. Khususnya untuk kaum disabilitas. Perempuan tuna rungu yang mengalami gangguan pendengaran sejak usia 10 tahun itu telah membuktikannya.

Angkie sebenarnya terlahir sebagai anak yang sempurna. Menjani hidup seperti anak kecil pada umumnya. Sejak usia 10 tahun itulah semuanya berubah. Dia terkena demam tinggi dan meminum antibiotik sesuai dengan anjuran dokter. Sayangnya, justru dia kehilangan pendengarannya setelah meminum obat itu. Akhirnya dia tumbuh dengan alat bantu dengar sebagai penyandang tuna rungu. “Jika saya melepas alat ini jangankan suara orang lain, suara saya sendiri pun tidak bisa terdengar. Jika Anda ingin mengobrol dengan saya harus face to face, sehingga saya bisa melihat gerakan bibir anda dan bisa mengerti apa yang anda katakan,” ungkapnya.

Meski tumbuh dengan alat bantu, nyatanya Angkie kini merupakan Founder dan CEO Thisable Enterprise. Bahkan dia juga sempat menjadi finalis Abang None mewakili wilayah Jakarta Barat tahun 2008 lalu. Lalu bagaimana dia bisa melewati keterbatasannya? Sebagai penyandang disabilitas, kesulitan Angkie mulai dialami saat menjejaki dunia pendidikan. Meski memiliki keterbatasan itu, orangtuanya tidak membedakannya dengan anak-anak sebayanya kala itu. Setidaknya untuk memilih sekolah, seluruh jalur pendidikan Angkie ditempuh di sekolah umum.

Perempuan kelahiran 5 Juni 1987 itu saat duduk dibangku sekolah dasar, harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda-beda, karena orang tuanya sering ditugaskan ke luar kota. Jadi, pendidikan SD Angkie diselesaikan di tiga kota berbeda, yakni Ternate, Bengkulu dan Bogor. Barulah, setelah orang tuanya menetap, SMP dan SMA Angkie seluruhnya diselesaikan di Bogor. Selain itu, sebagai penyandang disabilitas, mengikuti pelajaran di sekolah umum pastilah tidak mudah membalikan kerah kemeja, sehingga Angkie harus menyiasatinya dengan belajar lebih giat dan memanggil guru privat dalam membantunya belajar.

Selain giat belajar, Angkie juga tekun dalam berlatih untuk mengurangi kesulitannya sebagai penyandang tuna rungu. Selain dibantu dengan alat bantu dengar, Angkie terus menerus melatih diri melihat gerakan bibir seseorang ketika berbicara untuk mempermudah dirinya dalam berkomunikasi. Bahkan masalah bukan hanya soal dalam belejar mengajar, dia pun kerap meneriman cacian dan hinaan. Rasa malu membuat Angkie menutup jati dirinya. Alat bantu dengarnya pun dia tutupi dengan rambut. “Dulu aku diledekin, dikatain budek, tuli itu sering banget di lingkungan,” ungkapnya.

Diakui Angkie, dia pun sempat menyalahkan kondisinya. Mengadu kepada sang pencipta. Namun dia pun bingung harus menyalahkan siapa, karena orang tua yang dia sayangi tidak memperlakukannya berbeda dengan anak yang lain. Pencerahan itu datang, kala itu di sebuah kereta. Seorang bapak-bapak menyadarkannya untuk bangkit. Saat itulah, Angkie mulai menerima keadaan dirinya dan berusaha menemukan jati dirinya.

Namun, permasalahan bukan hanya pada saat menempuh pendidikan menengah. Permasalahan kemudian muncul lagi saat perempuan cantik ini lulus SMA. Di mana, dokter yang merawwatnya menyarankan Angkie untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Alasannya, stress bisa memengaruhi kondisi pendengarannya. Di mana, saat itu telinga kanan Angkie hanya mampu mendengar suara 70 desibel, telinga kiri 98 desibel.

Sementara, rata-rata percakapan pada manusia normal berada di 40 desibel. “Itulah yang mebuat aku divonis dokter sebagai tunarungu pas usia 10 tahun. Makanya aku bisa dengar hanya kalau pakai hearing aid (alat bantu dengar) saja,” ucapnya. Kegigihannya untuk meraih pendidikan, membuat Angkie harus melawan saran dokter.

Angkie kemudian memutuskan untuk melanjutkan ke perkuliahan dan berhasil menyelesaikan studinya di jurusan periklanan di Londok School of Publick Relations (LSPR), Jakarta dengan index prestasi 3.5. Semasa kuliah pun dia merupakan perempuan yang penuh percaya diri, selalu aktid dalam setiap kegiatan positif. Kecintaan Angkie di dunia pendidikan pun mengantarkannya meraih gelas master setelah lulus dari bidang komunikasi pemasaran lewat program akselerasi di LSPR.

Meski memiliki keterbatasan sejak kecil, nyatanya Angkie sempat bekerja sebagai Hubungan Masyarakat (humas) di beberapa perusahaan. Namun, hal itu pun diraihnya penuh perjuangan di mana tidak banyak perusahaan yang menolak saat diketahui jika dirinya tidak bisa mendengar. Berangkat dari diskriminasiitulah, kemudian dia mendapat motivasi tersenduru untuk membuat Thisable Enterprise bersama rekannya.

Perusahaan ini fokus pada misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik alias difable (Different Ability People). Kepeduliaannya tak berhenti sampai di situ. Berbagai pengalaman hidupnya mencari jati diri kemudian dituankannya lewat buku berjudul “Invaluable Experience to Pursue Dream” (Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas) akhir 2011 lalu.

Kemudian, pada tahun 2013, Angkie pun kembali meluncurkan buku untuk kedua kalinya. Buku keduanya ini berisi tentang suka duka 10 para peneliti yang pernah memenangkan program L’Oreal, UNESCO For Women in Science (FWIS) dengan judul buku “Setinggi Langit”. (Sopan Sopian/Foto: Good News)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: