Ainun Murwani: “Bagi Kami Menabung Adalah Kekuatan”

Melalui Paguyuban Kalijawi, “Grammen Bank” dari Yogyakarta ini, Ainun tak hanya mengubah hidupnya tetapi juga masyarakat khususnya perempuan untuk lebih berdaya.
, Majalah Kartini | 01/11/2017 - 16:03

\

MajalahKartini.co.id – Suara rel berdecit dengan roda kereta api tampak tak menjadi masalah berarti bagi 17 perempuan dengan beraneka usia yang sore itu, Kamis 12 Oktober 2017 berkumpul di rumah Ibu Ika Sahat, salah satu peserta kelompok Paguyuban Kalijawi, tepatnya di Sapen, Yogyakarta. Suara Ainun Murwani, seorang perempuan yang selama ini gigih mengembangkan kemajuan paguyuban ini lamat-lamat terdengar di antara suara deru kereta. Ainun sedang mewartakan kabar terkini yang ia dapatkan.

Ainun yang sebelumnya pernah mengepalai Paguyuban selama 4 tahun, kini didaulat mengisi divisi advokasi dan jaringan Paguyuban Kalijawi, sebuah komunitas yang salah satunya concern pada literasi keuangan, berupa tabungan, simpan pinjam, dan kegiatan pemberdayaan ekonmi lain bagi anggotanya. Perempuan kelahiran 1977 ini menuturkan awal mula ia menerjunkan diri ke komunitas sosial yang kini telah banyak mengubah hidupnya.

“Awalnya bergabung paguyuban dengan menginisiasi pemetaan kampung, kebetulan suami saya Ketua RT dan saya ikut mewakili kegiatan itu. Jujur, tambah Ainun, ia tertarik, karena tujuannya mengetahui pemasalahan kampung. “Tempat yang saya tinggali adalah tanah informal tidak berstatus dan jika ada permasalahan nanti dicari solusinya bersama,” ujar Ainun yang kembali ditemui di pusat keramaian Malioboro, Minggu (15 Oktober 2017). Waktu berselang, setelah pertemuan itu Ainun dan warga bantaran Kali Winongo sepakat membuat paguyuban. “Kami menyepakati pengurusnya adalah perempuan, di sini pertama kali program tabungan, biasanya kalau bapak-bapak malas soal urusan keuangan terus akhirnya ibu-ibu yang menangani,’ urainya seraya tertawa.

Berbekal semangat, Ainun ditemani oleh timnya mulai turun langsung sosialisasi pada warga soal tabungan. Ibu 2 orang putra bernama Hafidh Wicaksana dan Rayhan Surya ini mengaku suka sekali berkegiatan, ia tak bisa diam. Ia ingin mengaktualisasikan apa yang diinginkan. Meski terasa sulit akhirnya kelompuk pun baru terbentuk pada bulan Juli-September. “Awalnya saya pernah mendapatkan kelompok kemudian tak lama bubar, mungkin karena mereka tidak tahu mau ngapain, untuk apa menabung, apa fungsinya,” ujarnya lirih.

Nah, bermula dari 2 kelompok yang akhirnya terbentuk, di Ledok Timojo dan Sidomulyo mereka mulai perlahan menabung. lantas dari tabungan tersebut bisa pinjam untuk renovasi rumah, warga lain pun percaya dan tak lama jumlah angggota kelompok pun bertambah. Setiap 2 bulan sekali mereka bisa mencairkan dana renovasi dan hingga kini sudah terdapat 165 rumah yang berhasil mereka renovasi melalui dana pinjaman. Sungguh, sebuah pencapaian yang bagi Ainun sebelumnya hanya dalam bayangan, bisa renovasi rumah tanpa pinjam ke rentenir dan sejenisnya.

Selain menabung dan simpan pinjam, Paguyuban Kalijawi memiliki program kerja seperti renovasi rumah dan pemetaan wilayah. “Setiap kelompok Kalijawi wajib melakukan pemetaan, berkembang mulai dari RT, RW sampai ke tempat yang bukan kelompok kami Berpijak dari pemetaan itulah, akhirnya waktu itu kami buat tiga divisi, ekonomi sosial dan permukiman,” ujarnya.

Saat itu Ainun dan tim lainnya membuat work plan permasalahan. Mulai divisi sosial ada pendidikan dan kesehatan, pendidikan mengadakan pelatihan manajemen keuangan dan menabung, manajemen tidak hanya soal pembukuan keuangan tapi mengatur hasil keuangan keluarga. Misalnya dengan penghasilan yang tidak cukup banyak tapi cukup untuk semua kebutuhan. Bisa dibayangkan, lanjut Ainun, kalau keuangan keluarga tidak distop pengeluaran pasti bocor. Di situlah pentingnya mnembuat perencanaan keuangan, dari sebuah keluarga dan dari rumah mampu membuat perencanaan dan manajemen keuangan.

Salah satu alasan mendasar mengapa Ainun menganggap paguyuban ini sangat penting, adalah lantaran mayoritas pendidikan anggota maksimal adalah SMU, warga bantaran menengah ke bawah jarang sarjana. Masih banyak dari mereka yang pernah terjebak di investasi bodong atau pinjaman Bank Plecit yang menjerat.

Di Indonesia perkumpulan atau komunitas sejenis lainnya yang ia ketahui memiliki program menabung seperti di Kalijawi. Jika pun ada sistem Koperasi masih pakai syarat formalitas, beda dengan Kalijawi syaratnya harus menjadi anggota. Ihwal verifikasi dan tanggung jawab diserahkan kepada kelompok. Ainun mengungkapkan pernah ada kejadian warga yang anaknya kena kasus hukum, lalu dimasukkan sel butuh dana lantas mengakses ke Kalijawi. Ada pula yang terjerat rentenir dengan hutang tak sedikit. Dalam sehari ia mencicil 600 ribu dengan bunga sampai 20 persen. “Akhirnya kami tutup total 10 Juta dan anggota tersebut mencicil dengan bunga rendah ke Kalijawi,” ungkapnya.

Ainun tak bisa begitu saja menghentikan warga agar tak percaya ke rentenir. “Ya wajar saja sih, karena rentenir mengeluarkan uang dengan mudah. Pinjam 5 juta langsung diberi, kalau orang permasalahannya diselesaikan, orang akan berterimakasih,” tandas Ainun. Mirisnya, bisa dibilang rentenir adalah penyedia dana yang paling cepat tanpa syarat. Pinjam teman, sama-sama susah, daripada menyusahkan orang pinjam ke rentenir. Dia sadar waktu pinjam 1 juta pinjam bunga 100 ribu, bahkan ada yang kembali 1.200.000,-

Ainun tampaknya mafhum, orang kalau kepepet yang penting permasalahan selesai. “Makanya kita bantu, ketika butuh mereka ke kita, memang pinjaman tidak bisa sebanyak seperti bank konvensional. Tapi kita mencoba mengetahui permasalahan mereka. “Tidak ada aturan khusus dalam paguyuban ini, dari awal semua peraturan telah disepakati bersama. Modelnya kita saling kontrol di kelompok yang tentu saja anggotanya saling mengenal, uang bukan pengurus inti yang bawa tapi kelompok yang menabung sehari 2 ribu. Ketika setor ke Kalijawi mendapat pencairan dana. Itu strategi membuat mereka percaya, uang ada di kelompok, tetangga dekat dan mereka tenang,” papar perempuan dengan pendidikan terakhir sekolah menengah atas ini.

Teknis kegiatan antara lain, kelompok membuat arisan bergilir, sebagai bukti ketika uang dikumpulkan ada bukti digunakan untuk renovasi rumah. “Ketika kita berkomitmen pengelolaan dana secara transparan menabung di komunitas lebih bagus, perputaran uang yang digunakan akan kembali ke anggota,” tambahnya.

Ainun pun coba membandingkan dengan masyarakat yang menabung di bank konvensional. Kalau di bank siapa yang dapat untung? Kalau paguyuban keuntungan untuk anggota bersama. Kebanyakan warga dengan penghasilan mepet susah menabung di bank konvensional. “Kami ajak mereka belajar menabung sehari 2 ribu, sebulan 10 ribu, kita budayakan menabung. Tujuan kami jelas menabung untuk membangun kekuatan. Di bank tidak bisa membangun kekuatan, slip gaji NPWP kita tidak punya, rata-rata pekerjaan kami tukang, pedagang, tak ada slip gaji,” tuturnya seraya sesekali menyeruput minuman dingin.

Tantangan seperti agunan, tanggung renteng, tunggakan cicilan, pun silih berganti. Tapi bukan berarti Ainun dan kelompok berpangku tangan. Kelompok akan menanyakan apa mereka benar-benar tidak punya. Kebijakan baru ketika anggota nunggak lebih dari 1 tahun lebih dari durasi pinjam kalau tidak bisa kita perbaharui pinjamannya. Misalnya pinjam 1 juta sekarang tinggal 700 ribu, terus kita perbarui supaya lebih ringan, uang masuk berapa, dipotong, jadi mencicil lebih ringan. “Misalnya nih ada masalah kita lakukan pendekatan personal jika mereka tidak bisa bayar. Kita serahkan ke kelompok dulu baru kemudian Paguyuban Kalijawi,” terangnya.

Selain terdapat dana swadaya untuk peningkatan keuangan keluarga Ainun dan kelompok juga membuat kegiatan pemberdayaan lainnya seperti pelatihan membuat jamu instan, batik jumputan, kesehatan akupuntur, polybag, tanaman obat dan sayuran. Sampai kegiatan pameran yang melibatkan potensi kelompok. Paguyuban Kalijawi, lanjut Ainun juga memiliki kelompok yang punya kebun herbal, bahkan bersama kelurahan mewakili lomba Herbal yang diadakan oleh sponsor. Saat ini kegiatan tersebut terus berkembang. Sejatinya kegiatan Paguyuban Kalijawi fokusnya di penataan kampung dan menabung dengan memanfaatkan Dana Pembangunan Komunitas (DPK).

Lebih Banyak Sukacita

Kadang orang bereskpetasi tinggi dengan kita, menghadapi orang-orang terutama ibu-ibu kalau salah paham seperti apa. Tahu sendiri-lah. Tapi bagi istri dari Budi Sunarto ini lebih banyak merasakan suka tinimbang duka.  “Saya bisa bertemu banyak orang, banyak karekter. Menambah kapasitas saya dengan berani bicara, bergaul dengan banyak orang, baik dari kalangan terpelajar, keluar ke jaringan luar kota, ke luar negeri ke Thailand dan India, pengalaman lebih banyak. Ketika bicara biasanya orang takut ketemu sama pemerintah dan pejabat. Bicara di depan publik bukan sesuatu yang menakutkan. Misalnya audiensi ke DPR kita yang ngomong. Banyak berdiskusi dengan pola pikir lain bukan hanya domestik. Jujur, kegiatan ini sangat meningkatkan kapasitas saya menjadi percaya diri,” tuturnya.

Bagaimana dari sudut ekonomi? Sejenak Ainun terdiam, ia mengaku tak banyak yang berubah, Ainun menyadari memang tidak ada profit dan tidak ada bayaran, tantangannya adalah memberi pemahaman pada keluarga, bagaimana tak mudahnya menghabiskan waktu tapi tak ada pemasukan. “Saya beririsan dengan banyak orang bukan hanya suami tapi mertua dan anak. Itu tantangan yang membuat saya bepikir bagaimana cara mengatasinya,” ujarnya lirih. Jatuh bangun Ainun hingga akhirnya memutuskan menjadi Sopir Ojek Online, karena ia berpikir harus punya sesuatu, yaitu pekerjaan agar orang tak lagi bisa membantah pada kerja sosial yang ia pilih dan jalani.

“Kerja menghasilkan uang tapi waktu bebas. Sekarang mertua juga tidak bisa komplain karena sudah ada pemasukan. Suami selama ini mendukung dan ikut juga dalam kegiatan. Yah tapi namanya manusi juga terkadang tidak pasti, kadang komplain juga,” paparnya. Bahkan Ainun juga mengajak anak-anaknya saat mereka masih kecil dalam berkegiatan di Paguyuban Kalijawi. “Tapi mereka sudah besar, sudah SD jadi sudah bisa main sendiri dan tidak mau lagi ikut saya kalau ada acara-acara,” ujar Ainun yang pernah menjadi peserta workshop pemetaan dan tabungan di Negeri Gajah Putih.

Ainun dan Mimpi untuk Paguyuban
Tak muluk-muluk, harapan paling sederhana namun penuh makna dari Ainun pada komunitas ini adalah paguyuban tetap ada berkembang, “Kelak ke depan kami punya kemampuan untuk menghasilkan dana kemandirian, pengurus bisa punya pemasukan. Melalui divisi ekonomi membuat program belanja bersama, semua anggota belanja ke kita, perputaran uang ada di kalijawi, keuntungan kita semua yang merasakan,” harapnya.

Selain itu, Ainun juga punya rencana akan mengadakan audit internal untuk ‘kesehatan’ paguyuban, ingin juga ke depannya memiliki badan hukum. Hanya, ia masih berpikir terus apakah memang mereka butuh badan hukum. “Ketika berbadan hukum orang sibuk formal, orang sibuk mikir uang, tapi lupa tujuan dan komunitas, misalnya lembaga-lembaga keuangan lain yang diinisiasi masyarakat, sebenarnya basisnya komunitas tapi malah jadi seperti koperasi, tapi karena fokus ke uang akhirnya komunitas terlupakan,” ungkapnya.

Harapan kini semakin kuat, banyak anggota di Paguyuban Kalijawi memiliki kekuatan dengan menabung, Ainun mengamini jika kekuatan ada di dua hal, yakni orang dan uang. Uang sebagai sumber pemberdayaan dan orang sebagai kekuatan untuk memerangi yang menyalahi hak.

Sungguh, mungkin bisa dihitung dengan jari sosok seperti Ainun. Waktu mulai beranjak tengah hari. Perempuan berambut ikal dan bersyal ungu itu pun urun pamit. Sorot matanya masih sama waktu saya kali pertama bertemu di pinggir jalan sesaat sebelum ia mengajak berkumpul ke acara Paguyban Kalijawi. Hangat. (Foto: Ecka Pramita & Doc. Pribadi)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: