Adik Kartini Ini Tak Kalah Berjasa Dibanding Kakaknya

Uang royalti buku digunakan Kardinah untuk membangun sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan panti penampungan untuk rakyat miskin.
, Majalah Kartini | 02/05/2017 - 09:07

Adik-Kartini-Ini-Tak-Kalah-Berjasa-Dibanding-Kakaknya

MajalahKartini.co.id – Mungkin tak seterkenal kakaknya, Kartini, tapi Kardinah mempunyai konstribusi yang setara di bidang pendidikan perempuan. Seperti Kartini, adik yang hanya terpaut dua tahun di bawahnya ini juga menempuh pendidikan formal dari Europese Lagere School. Bersama Roekmini dan Kartini, Kardinah bercita-cita memberikan pendidikan bagi anak perempuan.

Perjuangan Kardinah sempat tertunda ketika menikah dengan Raden Mas Haryono, yang kelak menjadi Bupati Tegal bernama Ario Reksonegoro X. Setelah suaminya diangkat menjadi Bupati, dia membangun sekolah sendiri di Tegal seperti yang dilakukan bersama kedua kakaknya di Jepara.

Sekolah milik Kardinah kian termasyur setelah para priyayi menitipkan anak mereka untuk dididik, termasuk Bupati Pemalang. Namun dia tak puas karena hanya anak-anak ningrat saja yang mengenyam pendidikan.

“Apakah itu adil? Atau apakah yang seharusnya menjadi contoh bisa membantu masyarakat pribumi untuk maju,” tulis Kardinah dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon tanggal 15 Juli 1911. Karena itulah, Kardinah berusaha membuka sekolah untuk kalangan jelata lewat sumbangan dan royalti penjualan bukunya.

Hasil penjualan dua jilid buku memasak dan dua jilid buku mengenai batik, Kardinah mendirikan sekolah kepandaian putri Wismo Pranowo pada 1 Maret 1916. Segala keperluan sekolah Kardinah berikan secara cuma-cuma. Sedangkan yang mampu dibebankan uang hanya 50 sen.

Kurikulum Wismo Pranowo mulai dari Bahasa Belanda, pendidikan kebangsaan, kebudayaan Jawam Pertolongan Pertama pada Kecelakaan, mengaji Al Quran, membatik, dan pendidikan karakter. Tak hanya Kardinah sendiri yang turun tangan, bahkan tokoh pendidikan seperti Dewi Sartika dan Ki Hajar Dewantoro sempat magang di sekolahnya.

Sekolah Kardinah memang menggunakan sistem yang dibuat oleh kakaknya, Kartini. Namun tak sepeserpun sekolah Kardinah menggunakan biaya operasional dari gubernemen, berbeda dengan Sekolah Kartini.

Bersama kakaknya yang jenius, Sosro Kartono, Kardinah mendirikan perpustakaan benama Panti Sastra. Baik priyayi maupun jelata diizinkan untuk membaca koleksi perpustakaan. Panti Sastra juga tanpa melalui pembiayaan Pemerintah Belanda.

Tak hanya itu, Kardinah juga mendirikan rumah sakit untuk rakyat miskin di Tegal. Keinginan itu muncul setelah melihat anak didiknya melahirkan tanpa dukungan fasilitas yang memadai. “Orang sakit kok ditidurkan di tikar, bagaimana bisa sehat,” ujar Kardinah. Tahun 1927, dia mendirikan Kardinah Ziekenhuis atau Rumah Sakit Kardinah. Selain sumbangan, pembiayaan utama rumah sakit berasal dari royalti penjualan buku dan kerajinan tangan yang dibuat pelajar Wismo Pranowo.

Selang beberapa waktu, Kardinah membangun panti penampungan untuk orang-orang miskin dan gembel di Tegal. Sekali lagi, pembiayaan utama berasal dari hasil penjualan buku karangan Kardinah.

Sayangnya, pengabdian Kardinah tak juga membuat dihargai oleh sekelompok orang di Tegal. Setelah kemerdekaan, Kardinah dan keluarga sempat ditangkap oleh Gerombolan Kutil karena dianggap sebagai lambang feodalisme. Dia diarak keliling kota dan dipaksa menggunakan baju dari karung goni.

Sejak itu, Kardinah menghilang bak ditelan bumi. Sampai akhirnya tahun 1970, Sumiati Sardjoe, istri walikota Tegal, gigih mencari keberadaan Kardinah. Dari pertemuan Gabungan Organisasi Wanita di Semarang, Sumiati mengikuti jejak Kardinah yang saat itu hidup di Salatiga.

Awalnya Kardinah menolak untuk ditemui. Setiap kali mendengar nama Tegal, Kardinah merasa trauma. Tapi akhirnya awal tahun 1971, Kardinah bersedia berkunjung ke kota yang dia cintai itu sekalgus berziarah ke makam suami. Kedatangannya disambut haru, penuh isak tangis, oleh masyarakat Tegal.  Tapi nampaknya itulah kunjungan Kardinah terakhir ke Kota Tegal. Pada 5 Juli 1971, Kardinah wafat di usia 90 tahun dan dimakamkan di samping suaminya. (F oto: Dokumen negara)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: