Ajak Keluarga Traveling, Ini yang Perlu Anda Ketahui

Melakukan perjalanan bersama keluarga adalah impian sebagian orang. Namun, segalanya perlu dipersiapkan, berikut tips dari travel blogger Julia Wingantini.
, Majalah Kartini | 13/01/2017 - 18:45

Ajak Keluarga Traveling Ini yang perlu Anda Ketahui

 

MajalahKartini.co.id – Bagi seorang penyuka traveling, setiap perjalanan merupakan sebuah petualangan dan pelajaran baru untuk Julia dan keluarga. Itulah alasan Julia menamakan blognya bertajuk ‘familytraventur’,  kata traventure itu sendiri singkatan dari travelling dan adventure. Isi blog tersebut berdasarkan pengalaman pribadi Julia saat melakukan sejumlah destinasi perjalanan.

Seperli yang dilansir dari laman familytraventure, ada beberapa tips yang perlu orangtua siapkan jika mengajak anak-anak turut serta dalam perjalanan, terutama jika berpetualang tanpa biro jasa perjalanan. Antara lain:

1. Siapkan keperluan perjalanan dengan matang
Julia termasuk tipikal orang yang gimana nanti bukan nanti gimana tapi hal ini tidak bisa diterapkan jika melakukan traveling dengan anak-anak. Segala sesuatu harus direncanakan dengan matang dari mulai pergi keluar rumah sampai nanti pulang kembali ke rumah. Kami biasanya menyusun itinerary yang masuk akal bagi anak-anak dan terkadang mereka pun ikut menyusun kemana saja saat bepergian, dan dengan mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang maka penghematan biaya pun dapat dilakukan.

2. Melatih kekompakan keluarga
Ini juga penting saat traveling, harus saling membantu dan bekerjasama, tidak tabu bagi Julia sebagai perempuan melakukan pekerjaan laki-laki begitu juga dengan sang suami  yang tidak tabu melakukan pekerjaan perempuan. Misal seperti Julia mengangkat koper,suami memandikan anak-anak atau kadang si sulung Haura bertugas memandikan dan menjaga adik-adiknya saat kami sedang sibuk melakukan pekerjaan lain, Angkut mengangkut stroler juga kerjasama, pembagian barang apa yang akan dibawa juga termasuk melatih kekompakan keluarga.

3. Belajar mengendalikan ego 
Namanya traveling pasti ingin semua tempat didatangi tapi karena kami bersama anak-anak kami harus mengendalikan ego kami maka kami harus menyesuaikan tempat-tempat yang akan kami datangi dengan jam tidur atau makan anak. Kami tidak memaksakan diri jika anak-anak sudah lelah maka kami akan beristirahat atau bahkan membatalkannya. Seperti saat di Jepang kami sudah memersiapkan tiket bis untuk pergi ke Mt. Fuji sudah harus pergi saat jam 6.30 pagi, tapi karena sudah terlalu larut sampai tempat penginapan dan kondisi anak-anak yang kelelahan maka Julia membatalkan pergi dan mengganti  dengan rute lain.

4. Melatih kemandirian
Kemandirian kami sebagai orang tua dan kemandirian anak-anak tentunya. Kami bepergian tanpa membawa pengasuh atau sodara jadi memang kami harus mandiri atas segala sesuatunya. Anak-anak pun pelan-pelan belajar bertanggung jawab dengan dirinya sendiri, mandi sendiri membawa ransel dan barangnya sendiri, makan sendiri tidak disuapi, memakai sepatu sendiri, dan lain-lain.

5. Mudah beradaptasi dengan lingkungan baru
Adaptasi juga merupakan salah satu hal penting, ketika menemukan lingkungan baru Anda diharuskan untuk segera beradaptasi. Hanya ada dua pilihan kan lari atau hadapi, dengan beradaptasi berarti Anda beradaptasi dengan hal-hal tersebut.

6. Belajar kedisiplinan
Jadwal pesawat bahkan kereta di luar sana sangat tepat maka kami harus belajar disiplin, tidak membuang sampah sembarangan, ketika naik eskalator berdiri di sisi kiri, antre dengan rapi dan lainnya. Pada akhirnya hal positif tentang kedisiplinan itu menjadi sebuah kebiasaan dan terbawa sampai saat di rumah.

7. Bertemu hal baru baik itu orang dan kebudayaannya
Setiap daerah, kota bahkan negara memiliki kebudayaan yang berbeda, jika ada yang kurang bahkan tidak baik kita menjelaskannya begitu juga kebudayaan yang baik. Seperti saat di Bali dimana Haura selalu bertanya kenapa di setiap toko ada bunga di dalam piring janur, saya bilang itu sesajen kepercayaan dan ibadahnya umat Hindu. Dari situ pun anak-anak belajar menghormati dan menghargai orang lain.

8. Mengasah kemampuan berkomunikasi
Ini sih juga bermanfaat untuk semua, Julia mengaku kemampuan bahasa Inggris yang jauh di bawah pas-pasan dengan traveling apalagi ke luar negeri adalah momen yang pas untuk mengasah. Walau kadang harus ditambahkan dengan bahasa yang sukar dipahami penduduk setempat. Sekarang anak-anak sudah berani ketika membeli barang berbicara sendiri.

9. Keluar dari comfort zone
Yang biasanya di rumah pakai AC, kemana-mana pakai kendaraan baik itu mobil atau motor dan kalaupun naik kendaraan umum bisa berhenti di mana saja. Makanan juga gampang di dapat maka dengan melakukan traveling mandiri alias backpacker kadang harus kuat dengan kondisi yang tidak ber-AC atau tidur di bandara demi menghemat budget, berjalan kaki yang cukup jauh , naik turun tangga dan masih banyak lagi. Julia berprinsip hal itu untuk mengajarkan life skills karena tidak selamanya kondisi hidup seperti yang kita mau, jadi harus bisa bertahan dalam kondisi apapun.

10. Berani mengambil pilihan, menghadapi tantangan dan risiko
Berani mengambil pilihan untuk membawa ketiga anak yang luar biasa aktifnya adalah  juga sebuah tantangan. Tantangan mengumpulkan uang (ini penting nih), tantangan menghadapi polah anak-anak, dan risiko karena setiap perjalanan pasti ada tantangan. Tapi dengan persiapan yang matang sedikit banyak meminimalisir risiko. (Foto: Doc Pribadi)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: