Tahu Talaga, Lebih dari Sekadar Tahu Biasa

Jika Anda penggemar tahu dan ingin menyempurnakan predikat Anda, singgahilah Tahu Talaga.
, Majalah Kartini | 24/09/2016 - 10:00

MajalahKartini.co.idWeekend telah tiba, waktunya menjelajah kuliner. Siapa yang tak mengenal kota kembang Bandung. Dari sudut mana pun kota ini, situs-situs kuliner tak akan sulit ditemukan. Jajanan apa pun tergelar di mana-mana, dari tahu sampai brownies, dari steak sampai batagor.

Jika Anda penggemar tahu dan ingin menyempurnakan predikat Anda, singgahilah sebuah bangunan yang terletak di Jalan Sudirman 227 di mana tahu-tahu warna kuning dan putih membangkitkan selera, Namanya, Tahu Talaga. Tahu khas Bandung ini dikenal higienis , tentu saja nikmat dan niscaya langsung berjodoh dengan selera Anda sebagai pencinta kuliner.

Tidak sulit menemukan alamat pabrik tahu ini karena memang di salah satu jalan protokol di Bandung, meneruskan jalan paling monumental di Bandung, Jalan Asia Afrika, dan tak jauh dari sudut paling eksotis di Bandung, Jalan Braga.Hendra adalah generasi ketiga dari pemilik bisnis tahu mengemuka di kota Bandung yang sudah menjadi salah satu bab menarik dari kisah-kisah sukses nan inspiratif.

Awalnya didirikan pada 1938 oleh Liu Phak Phine, tahu ini awalnya dinamai “Yun Sen” yang artinya ‘seterusnya maju’. Liu Phak Phine yang ialah kakek dari Hendra , menyulap jerih payah selama 15 tahun bekerja pada perusahaan pertambangan kolonial Belanda, dahulunya rumah dan sekaligus pabrik tahu yang awalnya ia kelola bersama sang istri, Mak Ilot, perempuan sunda dari Talaga di Cikijing, Majalengka.

Pasangan suami istri ini sangat kompak merintis bisnis ini sampai kemudian membentuk salah satu dinasti bisnis tahu terkemuka di Kota Bandung. “Yun Sen” dahulu namanya digantikan dengan nama Talaga . Kemudian, pada 2000, estafet bisnis tahu talaga diteruskan kepada Hendra.

Pria berusia 48 tahun lulusan Teknik Mesin, California State University, Long Beach, Amerika Serikat ini, kemudian memodernisasi manajemen produksi dan pemasaran Tahu Talaga. Standar produksi dan kualitas produk pun ditetapkan.

Hendra bersama adik kandungnya, Fifi Yuliana juga tak henti berinovasi menciptakan hal-hal baru yang dengan cantik mereka tautkan dengan kesadaran berkonsumsi sehat masyarakat. Dua dari inovasi mereka adalah tahu organik dan situs jajanan sehat cukup terkenal di Bandung, Warung Talaga.
Jangan pernah bohongi pelanggan

Inovasi-inovasi Tahu Talaga umumnya diterima hangat para pelanggannya yang hampir seluruhnya adalah para pembeli dan pengonsumsi fanatic menyukai Tahu Talaga. Andri Leman, pria berusia sekitar 28 tahun yang bertempat tinggal di Jalan Kejaksaan, Bandung. mengatakan “Sejak zaman kakek saya, keluarga saya selalu membeli tahu ini, disini tahunya segar terus ,enggak mau ke lain hati pokonya.” imbuhnya.

Pengakuan serupa juga disampaikan oleh ibu dua anak bernama Fransiska yang kerap menyempatkan diri menyinggahi pabrik Tahu Talaga demi membeli sekantong, dua kantong, tahu favoritnya. “Saya suka sekali tahu kuningnya,” kata dia.

Lorong sempit di antara dua bangunan besar di Jalan Sudirman itu memang tak pernah sepi dari pengunjung penyuka tahu. Mobil dan motor para fanatik tahu ini juga bergantian parkir di depan gang sempit itu.

Hendra beruntung dianugerahi loyalitas mereka. “80 persen pelanggan kami adalah penggemar fanatik Tahu Talaga,” kata Hendra. Sebenarnya tak tepat jika menyebut ini sebuah keberuntungan, karena loyalitas pelanggan ini adalah buah manis dari bagaimana keluarga Tahu Talaga memelihara kepercayaan pelanggan dengan menjaga kualitas tahunya sehingga para pelanggan mempercayai produksi Tahu Talaga.

Sejak zaman kakeknya, sampai sekarang, Hendra tak pernah mau mengompromikan kualitas tahunya hanya demi untung besar belaka. Mereka pun tak tertarik mengubah bisnisnya menjadi lebih massal karena mereka khawatir tak bisa lagi menjaga kualitas dan keeksklusifan dari citra rasa tahu.

“Kalau konsumen sudah percaya, jangan sekali-kali membohongi dan menipu mereka karena begitu mereka dibohongi, mereka tak akan kembali lagi untuk membeli, dan Anda akan sulit mendapatkan lagi kepercayaan mereka,” ucap Hendra.

Ayah dari dua anak ini menyebut kepercayaan konsumen sebagai suatu modal terbesar bisnisnya. Bahkan, demi kualitas produk dan loyalitas pelanggan itu Tahu Talaga tak segan membayar mahal untuk mendapatkan bahan baku-bahan baku terpilih yang dipastikan bisa menjaga kualitas dan kehigienisan tahu mereka, kendati demikian akhirnya membuat Tahu Talaga terlihat lebih mahal.

Uniknya harga yang tinggi itu menjadi tak ada artinya lagi ketika bersanding dengan kualitas yang tinggi. Alhasil, tetap saja dibeli konsumen.

Tak ingin tak spesial lagi

Fakta lain yang mengejutkan ialah kesadaran pemilik Tahu Talaga bahwa bahan-bahan jaminan bermutu tinggi tak selalu harus diimpor. Mereka mempercayai negerinya, Indonesia, menyediakan bahan-bahan berkualitas tinggi. Tak heran bila mereka menyukai bahan dan produk lokal, tepatnya bahan lokal terbaik.

Mereka begitu sangat senang bermitra dengan lokalitas, salah satunya dengan menggandeng para petani Jawa Timur yang dipilihnya karena bisa diandalkan dalam turut menjaga mutu tinggi tahu mereka. Hendra mengatakan “Kami berani memberi harga mahal kepada petani demi kualitas produk kami,”

Uniknya, kendati harga yang tinggi untuk petani membuat produk-produk Tahu Talaga menjadi terlihat lebih mahal, para pelanggan mengantusiastis sekali menyambut berbagai inovasi-inovasi terbaru Tahu Talaga, antara lain tahu organik dan berbagai menu terkini kuliner tahu.

Lebih unik lagi, walau memiliki pelanggan fanatik dan kemampuan bertarung menghasilkan inovasi-inovasi baru seperti itu pun Hendra tak ingin cepat tergoda melebarkan sayap bisnis secara instan untuk hadir di mana-mana. Menurut Hendra, Tahu Talaga menginginkan perkembangan usaha dalam bingkai bisnis yang hati-hati dan enggan semata tunduk kepada dinamika masa.

“Ada pelajaran ekonomi yang enggak bisa dipelajari di sekolah, yakni kalau ada di mana-mana, kami tidak lagi dianggap spesial,” kata Hendra. Dalam banyak hal, tahu ini memang spesial, antara lain karena selalu terjaga tetap fresh.

Bahan dasar kedelai 3-4 kuintal dalam per hari menghasilkan ribuan potong tahu, ditambah kunyit yang sudah menjadi simbol kedekatan Tahu Talaga dengan alam serta upayanya menjaga selalu bahan dasar kimiawi buatan, Tahu Talaga dirancang untuk dijual dalam keadaan segar dan higienis.

“Kami hanya membuat tahu pagi untuk dihabiskan siang hari, lalu setelah itu bikin siang untuk sore. Tak ada yang kami taruh berjam-jam. Kami selalu fresh (segar),” kata Hendra. Kespesialan ini, ditambah kesetiaan kepada kualitas, menjaga betul kepercayaan pelanggan, dan tak henti terus berinovasi.

Tahu Talaga kerap menjadi bahan ajar bahkan inspirasi banyak kalangan, dari sekolah dan kampus-kampus, sampai pemerintah daerah. Tahu Talaga juga menjadi salah satu acuan untuk sebuah industri yang sukses dan memuja kualitas, bahkan menjadi situs wisata kuliner. (ANT/Foto: Istimewa)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: